Ada satu hal yang hanya dimiliki oleh pembaca novel: Theatre of Mind.
Ketika membaca sebuah novel, kepala para pembaca akan penuh dengan imajinasi. Mulai dari penggambaran tokoh secara fisik, situasi yang ada di cerita, latar tempat, latar waktu dan lain sebagainya.
Theatre of Mind memang menjadi hal yang sangat istimewa karena setiap pembaca, punya visualisasi novel yang sifatnya sangat personal. Karena itulah, ketika novel favorit mereka diadaptasi ke dalam bentuk visual seperti film atau serial, ada banyak dari mereka yang menentang.
Apalagi, kalau aktor dan aktris yang dipilih dirasa jauh berbeda dengan gambaran fisik yang mereka bayangkan. Nah, selain faktor ini, masih ada beberapa faktor lain yang membuat para pembaca tidak suka jika novel favorit mereka diadaptasi ke dalam bentuk visual.
Apa saja alasan lainnya? Langsung cek di bawah ini!
Ngomong-ngomong novel apa nih yang membuat kalian sebagai pembaca kecewa berat sama versi visualnya?
HUBUNGAN EMOSIONAL
Para pembaca novel, merasa bahwa mereka adalah orang pertama yang lebih dulu punya kedekatan emosional dengan cerita tersebut. Bahkan banyak dari mereka yang merasa tumbuh bersama dengan karakter atau tokoh yang ada di dalam cerita.
Sehingga ketika novelnya diadaptasi, secara tidak sadar mereka merasa egois dan tidak ingin berbagi emosional itu dengan penonton. Ada rasa takut jika cerita yang mereka cintai ini jadi milik semua orang.
Selain itu, mereka juga khawatir kalau cerita yang ada di novel tidak akan diartikan sama oleh orang-orang yang mengenal cerita tersebut lewat visual. Mereka takut kalau makna cerita jadi disederhanakan oleh orang-orang yang menonton.
Contohnya seperti Harry Potter atau The Hunger Games. Setelah difilmkan, cerita ini bukan lagi milik para pembaca buku. Tetapi sudah jadi milik publik.
CERITA YANG DISEDERHANAKAN
Ketika sebuah novel diadaptasi menjadi proyek visual, sudah dipastikan akan ada banyak bagian yang disederhanakan. Entah disesuaikan karena teknis pengambilan gambar atau durasi. Jika diadaptasi menjadi sebuah film, maka ada batas durasi untuk sebuah film. Yakni rata-rata di antara 1,5 sampai 2 jam.
Dengan durasi yang singkat, rasanya memang tidak mungkin jika seluruh isi novel diadaptasi secara penuh. Tetapi hal inilah yang membuat para pembaca tidak suka. Karena tidak menggambarkan keseluruhan novel, akan menimbulkan mispersepsi di kalangan penonton.
Bahasa kasarnya, ceritanya diambil tetapi jiwanya ditinggal.
BEDA MEDIUM BEDA BAHASA
Poin ini bisa jadi adalah yang terpenting tetapi sering dilupakan. Novel, akan selalu unggul pada kedalaman pikiran dan emosi. Sementara film atau serial, unggul di visual, tempo dan momen dramatis.
Itulah kenapa makanya, ketika sebuah novel diadaptasi secara visual, pasti ada penyesuaian di dalam karakter dari setiap tokoh. Karena momen dramatis itu dibutuhkan.
Sedangkan, para pembaca inginnya ketika novel favorit mereka diadaptasi secara visual, bagian-bagian ini tidak diubah. Karena bagi mereka, proses novel menjadi visual adalah adaptasi. Bukan interpretasi ulang.
MERASA TIDAK EKSLUSIF
Sama seperti poin emosional tadi, ketika sebuah novel diadaptasi menjadi visual, para pembaca merasa kehilangan eksklusivitas. Sedangkan, menemukan novel yang bagus itu bagi mereka layaknya menemukan harta karun.
Dan pada umumnya novel itu memang terasa sangat niche, intim dan ibaratnya yang tahu-tahu saja. Tapi, ketika diadaptasi jadi visual, maka ceritanya akan mainstream, viral dan dibicarakan banyak orang. Akhirnya para pembaca merasa cerita yang dulu personal, perlahan-lahan menghilang.
TAKUT TOKOH DISALAHPAHAMI
Lagi-lagi, ketika sebuah novel diadaptasi menjadi sebuah film atau serial, pasti ada proses interpretasi supaya tokoh tersebut relate dengan banyak orang. Ekstremnya, kalau karakter dari tokoh harus diubah atau ditambah, mungkin akan dilakukan.
Apalagi, ketika sebuah novel diadaptasi, pasti tidak keseluruhan cerita yang diangkat. Hanya beberapa bagian saja. Bayangkan, sudah tidak menyeluruh, ada karakter dari tokoh yang diubah atau ditambahkan. Sehingga apa yang dirasakan penonton akan berbeda dengan para pembaca.
Hal inilah yang membuat para pembaca tidak suka. Karena mereka tidak mau tokoh dari novel tersebut di-judge, padahal para penonton sama sekali tidak tahu latar belakang para tokoh seperti apa.
(Kirana Putri, foto: unsplash.com/yosuke ota)
