5 Fakta Albert Einstein yang Mungkin Jarang Diketahui

Selama ini, Albert Einstein dikenal sebagai simbol kecerdasan. Seorang ilmuwan yang mengubah cara dunia memahami waktu, ruang dan energi lewat teori relativitas serta kontribusinya pada efek fotolistrik yang membawanya meraih Nobel Fisika.

Sosoknya sering digambarkan serius, penuh perhitungan dan hidup di dalam kepalanya sendiri. Tapi di balik semua kapabilitas itu, Einstein ternyata menyimpan banyak sisi personal yang justru terasa jauh dari kesan kaku.

Hal-hal kecil, pilihan hidup yang tidak biasa, hingga keputusan besar yang tak terduga, semuanya membentuk gambaran lain tentang dirinya yang mungkin jarang kita dengar.

FAKTA MENARIK SOAL ALBERT EINSTEIN

Tidak Suka Pakai Kaus Kaki

Fakta menarik pertama soal Albert Einstein adalah ia diketahui tidak suka memakai kaus kaki. Alasannya sepele karena ia menganggapnya tidak perlu.

Kebiasaan ini bahkan ia tulis dalam surat pribadinya yang dipublikasikan oleh Einstein Archives Online. Pilihan kecil ini sering dianggap mencerminkan sikapnya yang tidak terlalu peduli pada aturan yang tidak esensial.

Menolak Jadi Presiden Israel

Pada tahun 1952, Einstein ditawari posisi presiden oleh pemerintah Israel. Namun, ia menolaknya secara resmi. Lewat sebuah pernyataan, ia menyebut alasan kenapa tidak mau jadi presiden adalah karena tidak punya kemampuan maupun pengalaman dalam urusan politik.

Tidak Peduli Penampilan

Seperti yang disebutkan sebelumnya, Einstein tidak suka pakai kaus kaki karena merasa tidak perlu. Artinya, ia tidak terlalu peduli dengan penampilannya. Selain kaus kaki, bukti lain bahwa ia tidak peduli dengan penampilan terlihat pada gaya rambutnya yang berantakan.

Namun, karena efek Albert Einstein begitu besar, maka rambut berantakannya ini kemudian jadi simbol tentang ilmuwan jenius. Padahal sih, ya karena ia tidak suka menata rambut saja.

(BACA JUGA: 1905, The “Miracle Year” of Albert Einstein)

Menyesal Kirim Surat ke Presiden Franklin D. Roosevelt

Buat kamu yang menonton film Oppenheimer pasti tahu soal fakta yang satu ini. 

Pada tahun 1939, Einstein menulis sebuah surat yang ditujukan kepada Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt. Isinya adalah peringatan soal potensi pengembangan senjata nuklir yang mungkin dilakukan oleh Jerman.

Keputusan Einstein untuk menulis surat ini bukan semata-mata karena takut kalah dari Jerman secara keilmuan. Tetapi lebih karena efek dari senjata nuklir itu sangat mengerikan. Sehingga perlu dicegah dengan berbagai cara.

Namun, setelah menerima surat dari Einstein, Presiden Franklin justru membuat sebuah keputusan besar, yakni membentuk tim riset untuk mengembangkan senjata nuklir yang kemudian dikenal sebagai ‘Manhattan Project’.

Sayangnya, ketakutan awal Einstein tidak terbukti karena Jerman gagal mengembangkan bom atom. Sehingga senjata nuklir itu tidak pernah lahir. Justru Amerika Serikat lah yang berhasil mengembangkannya, hingga kemudian digunakan untuk melawan Jepang saat perang dengan menjatuhkan bom di kota Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945.

Tepat setelah itu terjadi, Einstein sangat menyesali keputusannya. Kalau saja ia tidak mengirim surat ke Presiden Franklin, mungkin pengembangan senjata nuklir di Amerika Serikat tidak akan pernah terjadi.

Bermain Biola Sebagai Bentuk Stress Relief

Di tengah citranya sebagai ilmuwan yang hidup di dunia rumus dan teori, Albert Einstein ternyata punya hubungan yang sangat personal dengan musik, terutama biola. Ia mulai belajar sejak kecil dan kebiasaan itu terus ia bawa hingga dewasa.

Tapi yang membuatnya berbeda, bagi Einstein, bermain biola bukan sekadar aktivitas santai atau hiburan. Musik justru menjadi bagian dari proses berpikirnya.

Saat ia menghadapi masalah atau merasa buntu dalam pekerjaannya, Einstein sering berhenti sejenak, mengambil biolanya, lalu bermain. Dari situ, ide-ide baru justru muncul.

Ia pernah menyebut bahwa banyak pemikirannya lahir secara intuitif dan musik membantunya mengakses cara berpikir tersebut.

Dalam banyak cerita, Einstein bahkan terlihat lebih “hidup” saat bermain musik dibandingkan saat menjelaskan teori. Seolah di situlah ia menemukan ruang untuk menyeimbangkan logika dan rasa. 

(Rendy Aditya, foto: space.com)

Share