Ruins of Saint Paul, Sehelai Tembok Bersejarah yang Juga Saksi Peradaban di Makau

MOSTROOPS, apakah kalian ada yang pernah berlibur ke Makau? Kalau ada, sudah ke mana saja? Apakah kamu mengunjungi pelataran Ruins of Saint Paul? Pasti berkunjung dong? Bangunan ini memang menjadi salah satu destinasi wajib bagi siapa pun yang berkunjung ke Makau.

Buat kamu yang belum pernah ke Makau, mungkin bertanya-tanya. Ruins of Saint Paul itu tempat apa? Jadi, Ruins of Saint Paul itu sebetulnya adalah sebuah gereja Katolik. Nama aslinya adalah Church of Mater Dei alias Gereja Bunda Allah.

Pada masanya, Church of Mater Dei adalah gereja Katolik terbesar di Asia Timur pada abad ke-17. Gereja ini merupakan bagian dari kompleks St. Paul’s College yang dibangun oleh misionaris Jesuit sekitar awal 1600-an, ketika Makau masih menjadi koloni Portugis.

Saat masih berdiri kokoh, bangunan ini berfungsi sebagai tempat ibadah, sekolah teologi, hingga pusat misi Katolik ke Jepang dan Cina. Karena itu, Makau dikenal juga sebagai pintu gerbang dari benua Eropa dan Asia.

Sayangnya, pada tanggal 26 Januari 1835 sebuah kebakaran besar melanda kompleks St. Paul’s College. Api menyebar dengan sangat cepat karena struktur bangunan utama banyak menggunakan kayu. Ditambah angin juga sangat kencang. Plus, sistem pemadam kebakaran belum modern seperti sekarang.

Akibatnya, bangunan utama rubuh, atap runtuh, dan interior juga habis terbakar. Namun, ada satu sisi bangunan yang saat kebakaran terjadi tetap aman dan utuh. Yakni bagian fasadnya. Bagian tersebut dibuat dengan bahan batu granit tebal yang tahan api.

Itulah kenapa makanya kalau kamu berkunjung ke Ruins of Saint Paul, kamu akan melihat selapis dinding fasad yang merupakan sisa dari Church of Mater Dei. Kalau kamu melihat dari depan sih, seakan tidak ada yang aneh. Tetapi kalau kamu mendekat, kamu akan melihat bahwa fasad tersebut berdiri sendiri. 

Meski begitu, fasad ini memiliki detail arsitektur yang tiada duanya. Karena menggabungkan beberapa unsur seperti gaya Baroque khas Eropa, ukiran khas Cina, beberapa simbol Jepang, serta simbol-simbol Katolik.

(Foto: macaulifestyle.com)

KENAPA TIDAK DIBANGUN ULANG?

Well, this is a good question. Ada beberapa alasan yang membuat bangsa Portugis pada masa itu memutuskan untuk tidak memugar atau membangun ulang kompleks gereja ini. Pertama, tentu karena biaya dan kondisi politik.

Abad ke-19 bukan masa yang stabil untuk Makau. Ditambah, koloni Portugis saat itu punya prioritas lain. Sehingga mereka berpikir daripada buang-buang biaya untuk sebuah hal yang tidak pasti, lebih baik disimpan untuk hal lain yang lebih penting.

Selain masalah biaya, seiring berjalannya waktu, reruntuhan dari kompleks gereja ini justru menyimpan nilai sejarah yang penting karena menjadi simbol perpaduan antara budaya Barat dan Timur, sejarah kolonial, serta penyebaran agama Katolik di Asia. Jadi daripada dibangun ulang, lebih baik dibiarkan saja sebagai monumen sejarah.

(Kirana Putri, foto: news.cgtn.com)

Share