MOSTROOPS coba absen dulu. Siapa di antara kamu yang suka overthinking? Saking parahnya, kamu sampai sulit tidur di malam hari.
Melansir dari Journal of Anxiety Disorders yang dikeluarkan oleh Universitas Johns Hopkins, overthinking secara sederhana digambarkan sebagai pola pikir yang berulang, berlebihan dan tidak produktif. Biasanya tentang kekhawatiran, kemungkinan negatif, atau peristiwa yang sudah terjadi.
Namun, overthinking bukan cuma sekadar berpikir. Tetapi lebih ke terjebak dalam lingkaran pikiran yang sulit dihentikan. Psikolog melihat overthinking sebagai bentuk ruminasi atau worrying yang berlebihan.
PENYEBAB OVERTHINKING
Sebelum membahas lebih dalam soal efek magnesium yang mampu menurunkan overthinking, sebaiknya kita bahas dulu apa saja penyebab dari overthinking itu sendiri.
Masih melansir dari jurnal yang sama, para ahli psikologi telah mengelompokkan beberapa hal yang menjadi pemicu munculnya overthinking.
Kecemasan
Orang dengan kecemasan biasanya punya predisposisi untuk mengantisipasi ancaman (real atau dibesar-besarkan). Bagi mereka, overthinking menjadi mode pertahanan yang terus aktif. Banyak studi menunjukkan bahwa ada hubungan kuat antara overthinking dan gangguan kecemasan umum.
Ruminasi Tentang Masa Lalu
Ruminasi adalah salah satu bentuk regulasi emosi maladaptif yang ditandai dengan kecenderungan berpikir berulang, pasif dan tidak solutif terhadap peristiwa negatif di masa lalu atau perasaan tidak menyenangkan.
Berbeda dengan berpikir reflektif, ruminasi tidak mengarah pada solusi. Justru membuat pikiran stuck. Kalau seseorang terus mengulang kesalahan atau kekhawatiran dari masa lalu, itu bisa memicu overthinking.
Perfeksionisme dan Takut Gagal
Overthinking tidak hanya berkaitan dengan pemikiran-pemikiran negatif seperti yang disebutkan sebelumnya. Tetapi bisa juga dari sifat atau kepribadian seseorang. Salah satunya adalah perfeksionisme.
Orang yang perfeksionis cenderung mempertanyakan diri sendiri tentang banyak hal. Mereka juga sulit membuat keputusan tanpa analisis berulang-ulang kali. Hal ini sering jadi akar dari proses overthinking yang berkepanjangan.
Tingkat Kontrol yang Berlebihan
Berbeda dengan perfeksionis, ada juga orang-orang yang merasa tidak punya kontrol terhadap dirinya. Sehingga otaknya selalu mencoba mengulang dan memprediksi segala kemungkinan. Ini mirip dengan fenomena brain trying to regain control.
Faktor Neurobiologis dan Temperamen
Beberapa orang secara neurologis cenderung lebih sensitif terhadap stimulan negatif. Selain itu, ada juga tipe orang yang punya otak yang mudah memproses hal secara mendalam. Faktor ini juga bisa membuat pola overthinking jadi lebih dominan.
Lingkungan dan Pengalaman Hidup
Selain faktor internal, faktor eksternal juga bisa menyebabkan overthinking. Seperti trauma, tekanan sosial, sering dikritik, atau pengalaman negatif yang terus-menerus dialami mulai dari sekolah, hubungan asmara, sampai keluarga bisa memperkuat kecenderungan overthinking.
