Belakangan ini, ada banyak sekali istilah-istilah muncul di media sosial yang latar belakangnya adalah untuk menjelaskan situasi dan kondisi tertentu. Salah satunya adalah frequency theory.
Frequency theory sebetulnya bukan istilah baru. Meskipun, frequency theory punya arti yang berbeda tergantung pada konteksnya. Mulai dari neurologi, psikologi, sampai metafisika.
Nah, dari ketiga konteks ini, frequency theory yang muncul di media sosial adalah yang berkaitan dengan neurologi. Teori ini, berkaitan juga dengan realita sosok yang tepat untuk menjadi jodoh kita. Sebaiknya cari orang yang satu frekuensi dengan kita.
Kalau konten ini sempat muncul juga di explore atau beranda media sosial kamu, berikut adalah penjelasan detailnya. Apa iya manusia mengeluarkan sinyal seperti radio atau Wi-Fi?
APA ITU FREQUENCY THEORY?
Melansir dari situs National Library of Medicine, ada sebuah fenomena psikologis dan neuroscience, yang mengungkapkan kalau otak manusia itu bisa memancarkan frekuensi yang bisa ditangkap oleh orang lain.
Meskipun secara ilmiah tidak ada kajiannya, tetapi lewat kekuatan psikologis dan neuroscience semuanya jadi mungkin. Hal inilah yang disebut dengan frequency theory.
SINKRONASI OTAK
Di bidang neuroscience sosial, ada istilah brain to brain synchrony. Istilah ini muncul berkat sebuah penelitian menggunakan fMRI dan EEG, yang menunjukkan bahwa ada koneksi yang muncul saat ada dua orang berinteraksi.
Mulai dari dua orang yang berbincang dengan intens, sampai guru menjelaskan dan murid mendengarkan dengan saksama. Sinyal yang dikeluarkan oleh salah satu pihak bisa sampai ke pihak lainnya karena mereka fokus pada hal yang sama.
Emosi yang muncul juga selaras. Sehingga respons kognitifnya mirip. Situasi ini disebut dengan interpersonal neural synchrony.
EMOTIONAL CONTAGION
Secara psikologis, manusia itu peka terhadap ekspresi mikro wajah, intonasi suara, bahasa tubuh dan ritme napas. Otak kita, punya sistem mirror neurons yang membantu membaca dan meniru keadaan emosional orang lain.
Makanya kalau kamu pernah merasa ada seseorang yang mengerti perasaanmu dengan sangat baik, itu terjadi karena otak orang tersebut dengan sangat cepat membaca sinyal non verbal yang kamu keluarkan.
COGNITIVE SIMILARITY
Orang yang satu frekuensi biasanya punya nilai hidup yang mirip, sense of humor yang sama, pola pikir yang kompatibel, hingga fase kecepatan memproses situasi dan kondisi sosial yang juga sama.
Ketika kita bersama dengan orang yang satu frekuensi dengan kita, every single thing that happens in the relationship terasa sangat effortless. Dunia psikologi menyebut ini dengan istilah similarity-attraction effect.
Jadi, kesimpulan dari frequency theory adalah meskipun tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa manusia memancarkan frekuensi personal yang bisa dibaca orang lain tanpa berinteraksi, tetapi ada bukti bahwa otak manusia bisa sinkron saat berinteraksi sosial yang intens dan emosional.
Ada bukti juga bahwa manusia sangat cepat membaca sinyal non verbal dan emosi. Jadi, yang kita rasakan sebagai “satu frekuensi” kemungkinan adalah kecocokan nilai, kepribadian, sinkronasi respons emosional dan komunikasi no verbal yang efektif.
(Annisa Larasati, foto: freepik.com/freepik)
