Bukan Menikah, Standar Kebahagiaan Millennials Ternyata Hanya Soal Hidup Cukup

Dulu, saat masih berusia belasan hingga 20-an, generasi millennials ramai-ramai memupuk dan membangun mimpi untuk masa depan mereka. Mulai dari lulus kuliah, bekerja sekitar lima tahun, menikah, lalu punya anak.

Dulu, mereka pikir inilah standar hidup yang layak dan membahagiakan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, millennials mulai banyak yang banting setir. Karena mereka menyadari bahwa standar hidup yang mereka pikirkan ini tidak sejalan dengan kenyataan yang ada.

Bahkan banyak dari mereka yang ketika memasuki usia 30 tahun hidupnya justru semakin struggling dan jauh dari kata bahagia. Karena itulah, millennials mulai berpikir realistis soal standar hidupnya.

Mereka kini percaya bahwa standar hidup untuk bahagia itu bukan soal mimpi besar. Tetapi soal hidup biasa-biasa saja, namun berkecukupan.

Tahun 2025 lalu, perusahaan Deloitte merilis data yang memperlihatkan standar kehidupan bahagia yang diinginkan oleh generasi Millennials. Berikut adalah beberapa poin yang sudah MOSTEAM rangkum:

MONEY, MEANING, WELL-BEING

Uang, arti hidup dan keselarasan adalah tiga fondasi dari standar kebahagiaan millennials. Menurut riset global Deloitte, millennials tetap berpikir realistis bahwa uang adalah hal yang sangat penting.

Tapi uang saja tidak cukup. Millennials juga butuh purpose, tujuan hidup dan artinya, sekaligus kondisi mental yang stabil. Jadi konsepnya bukan kerja keras demi kaya, tetapi hidup stabil dan punya kerjaan yang meaningful.

FINANCIAL SECURITY

Bagi millennials, financial security bukan lagi luxury things. Tapi sudah jadi basic happiness. Menurut data global Deloitte, hampir setengah millennials merasa tidak aman secara finansial.

Banyak dari mereka yang bertahan hidup from paycheck to paycheck. Uang bukan lagi simbol sukses. Tapi jadi syarat untuk hidup tenang. 

WORK LIFE BALANCE

Dulu, naik jabatan di kantor adalah tujuan. Tapi sekarang, millennials lebih butuh keseimbangan antara hidup dan bekerja. Bahkan konsep ini sekarang jadi salah satu prioritas tertinggi dibandingkan dengan status karier.

Bukan berarti mereka kehilangan ambisi. Millennials tetap ambisius, tetapi definisi suksesnya diubah. Bukan lagi mengejar jabatan, tetapi lebih bagaimana ambisi mereka di sektor karier tidak membuat mereka kehilangan hidup.

Jadi, apa yang mereka lakukan sekarang adalah bekerja sebaik-baiknya, dibayar sebaik-baiknya dan menabung sebanyak-banyaknya. Maka tidak heran jika banyak millennials yang memilih frugal living agar hidup tenang yang ingin mereka dapatkan bisa tercapai lebih cepat.

(BACA JUGA: Populer di Kalangan Gen Z, Apa Kata Psikolog Soal Sikap Nonchalant?)

MEANINGFUL LIFE LEBIH PENTING DARI IMPRESSIVE LIFE

Menurut data Deloitte, 50 persen millennials menganggap makna dalam pekerjaan itu sangat penting. Jadi bukan cuma soal karena, tapi benar-benar ada artinya bagi mereka. Keren tapi tidak sejalan dengan kenyamanan hati dan makna hidup yang mereka cari akan membuat hidup mereka terasa sia-sia.

MENTAL HEALTH JADI KEBUTUHAN UTAMA

Selama beberapa tahun terakhir, millennials dan juga Gen Z menyadari bahwa kesehatan mental itu ternyata sangat penting. Kesadaran ini muncul utamanya setelah mereka beranjak dewasa dan menyadari bahwa realita orang dewasa itu tidak semenyenangkan yang dibayangkan.

Data Deloitte menunjukkan bahwa banyak millennials mengalami stres dan anxiety. Penyebabnya adalah karena mereka gusar akan masa depannya. Terutama yang berkaitan dengan pekerjaan dan keuangan.

Belum lagi bagi mereka yang menjadi sandwich generation. Sukses, punya dana pensiun yang cukup dan hidup bahagia di masa tua rasanya jadi satu hal yang jauh dari bayangan. 

Itulah kenapa makanya millennials mulai memusatkan fokus pada kesehatan mental. Karena dengan kondisi mental yang stabil, kebahagiaan pasti otomatis mereka rasakan. 

Jadi, bagi millennials hidup bahagia itu bukan yang paling produktif. Tetapi yang paling sustainable secara mental.

GROWTH

Standar bahagia millennials yang berikutnya menurut data Deloitte adalah bahwa mereka tetap ingin berkembang. Tetapi bukan sekadar naik jabatan di kantor. 

Lebih ke belajar skill baru, eksplorasi hal-hal yang mungkin tidak pernah mereka lakukan sebelumnya, hingga menerapkan fleksibilitas hidup.

Kalau diringkas, standar kebahagiaan millennials sekarang adalah hidup yang stabil secara finansial, tenang secara mental dan hidup terasa bermakna secara personal. Bukan lagi soal rumah besar, menikah, punya anak, atau jabatan tinggi di kantor.

(Kirana Putri, foto: unsplash.com/helena lopes)

Share