Dalam beberapa tahun terakhir, istilah slow living mulai banyak dibicarakan sebagai respons terhadap gaya hidup yang serba cepat. Di tengah tuntutan untuk selalu produktif, kompetitif, dan menjadi yang “paling” baik dalam karier, finansial, maupun kehidupan pribadi, banyak orang mulai merasa lelah.
Hidup yang seharusnya dijalani justru terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir. Dari media sosial hingga lingkungan kerja, ada tekanan yang terus mendorong seseorang untuk bergerak lebih cepat, lebih tinggi dan lebih banyak.
Tidak mengherankan jika kemudian muncul keinginan untuk memperlambat ritme hidup bukan karena tidak mampu, tapi karena ingin bernapas lebih lega.
Dari sinilah muncul konsep soft living yang sering dianggap sebagai evolusi dari slow living.
APA ITU SOFT LIVING?
Jika slow living berfokus pada memperlambat ritme, maka soft living lebih menekankan pada bagaimana seseorang memilih hidup yang terasa lebih ringan, nyaman dan minim tekanan.
Tren ini banyak berkembang di media sosial, terutama melalui platform seperti TikTok, di mana istilah soft life populer di kalangan Gen Z sebagai bentuk penolakan terhadap budaya hustle yang dianggap melelahkan.
Fenomena ini juga banyak dibahas dalam media global seperti The Guardian dan Forbes, yang melihat soft living sebagai refleksi dari generasi muda yang mulai memprioritaskan kesejahteraan mental dibandingkan dengan ambisi yang berlebihan.
Berbeda dengan slow living yang masih berfokus pada ritme hidup, soft living lebih personal tentang memilih hal-hal yang tidak menguras energi, menghindari konflik yang tidak perlu dan menciptakan hidup yang terasa “cukup” tanpa harus selalu mengejar lebih.
(BACA JUGA: Spoiled Baby, Cara Tumbuh Seseorang yang Bikin Sulit Bertahan Hidup Saat Dewasa)
Perpindahan dari slow living ke soft living menunjukkan perubahan cara pandang yang lebih dalam. Jika sebelumnya orang hanya ingin memperlambat, kini mereka mulai bertanya untuk apa terus mengejar sesuatu yang justru membuat lelah?
Banyak yang mulai menyadari bahwa hidup tidak selalu harus dioptimalkan dan bahwa kenyamanan juga bisa menjadi tujuan. Namun, soft living bukan berarti menghindari tanggung jawab sepenuhnya. Justru, kuncinya adalah memilih mana yang layak diperjuangkan dan mana yang tidak.
Beberapa cara sederhana untuk mulai menerapkan soft living antara lain dengan menetapkan batas yang jelas dalam pekerjaan, mengurangi konsumsi konten yang memicu perbandingan sosial, serta memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat tanpa rasa bersalah.
Namun, di sisi lain, pendekatan ini juga memiliki risiko terutama jika diartikan secara ekstrem sebagai bentuk menghindari tantangan. Tanpa keseimbangan, soft living bisa berubah menjadi stagnasi, di mana seseorang kehilangan dorongan untuk berkembang.
Pada akhirnya, baik slow living maupun soft living bukan tentang memilih mana yang lebih benar, tapi tentang bagaimana seseorang menemukan ritme hidup yang paling sesuai dengan dirinya.
(Annisa Larasati, foto: freepik.com/rawpixel.com)
