Tanggal 18 April selalu jadi pengingat bahwa dunia pernah kehilangan salah satu otak paling berpengaruh dalam sejarah. Albert Einstein.
Ia meninggal pada tahun 1955 di Rumah Sakit Princeton, akibat pecahnya aneurisma aorta, kondisi serius yang sebenarnya sudah ia ketahui, tapi memilih untuk tidak dioperasi.
Ada satu detail yang sering bikin orang bertanya-tanya: kenapa Einstein meninggal di Princeton? Princeton di sini sering dikaitkan dengan the Ivy League campus. Jawabannya sederhana, tapi menarik.
Melansir dari history.com, di tahun-tahun terakhir hidupnya, ia memang menetap dan bekerja di Institute for Advanced Study, sebuah pusat riset elit yang lokasinya berdekatan dengan Universitas Princeton.
Jadi, hingga napas terakhirnya, Einstein benar-benar hidup di tengah dunia yang ia cintai. Yakni pemikiran, teori dan pencarian makna.
(BACA JUGA: Kisah di Balik Penyanyi Castrato yang Ternyata Tidak Seindah Suaranya)
Tapi sebelum sampai ke titik itu, Einstein sudah lebih dulu mengukir namanya sebagai legenda. Lahir di Ulm pada 1879, ia dikenal sebagai sosok yang tidak selalu fit dalam sistem pendidikan formal.
Namun, justru dari cara berpikirnya yang berbeda, lahirlah teori relativitas. Gagasan yang mengubah cara manusia memahami ruang, waktu dan realitas itu sendiri. Ia kemudian dianugerahi Nobel Fisika dan menjadi simbol global dari kecerdasan.
Dalam banyak representasi, Einstein hampir selalu digambarkan sebagai sosok yang serius. Mulai dari rambut berantakan, tatapan dalam, berdiri di depan papan penuh rumus yang hanya segelintir orang bisa memahaminya.
Tetapi di balik citra itu, Einstein ternyata jauh dari stereotip “ilmuwan kaku”. Ia menikmati hidup dengan cara yang sederhana. Seperti hobi berjalan-jalan santai, bermain biola dan tidak terlalu peduli dengan standar formalitas yang sering melekat pada figur publik.
Ada sisi yang lebih ringan, bahkan sedikit cheeky, yang jarang dibahas. Einstein bukan hanya seorang pemikir besar, tetapi juga seseorang yang tahu kapan harus tidak terlalu serius menghadapi dunia.
Dan mungkin, sisi inilah yang tanpa sengaja tertangkap dalam satu foto paling ikonik sepanjang masa. Yaitu foto saat dirinya menjulurkan lidah.
(BACA JUGA: 4 Maret 1905 Jadi Hari Bersejarah Bagi Theodore Roosevelt dan Amerika Serikat)
KISAH DI BALIK FOTO “MELET” EINSTEIN
Melansir dari britannica.com, foto itu diambil pada 14 Maret 1951, saat ulang tahunnya yang ke-72 di Princeton.
Malam itu, Einstein baru saja menghadiri perayaan dan hendak pulang ketika ia dikerubungi fotografer yang terus-menerus meminta pose. Di tengah kelelahan dan mungkin sedikit kejengkelan, ia melakukan sesuatu yang sama sekali tidak terduga.
Yakni menjulurkan lidahnya ke arah kamera. Momen itu berhasil ditangkap oleh seorang fotografer bernama Arthur Sasse dari United Press International, sebuah media berita ternama di Amerika Serikat.
Awalnya, foto tersebut dianggap terlalu tidak formal untuk dipublikasikan karena tidak mencerminkan “martabat” seorang ilmuwan besar. Tapi justru di situlah twist-nya. Alih-alih meminta Sasse menghilangkan foto tersebut, Einstein justru menyukainya.
(BACA JUGA: Jane Austen, Penulis Novel Romantis yang Hidupnya Dramatis)
Ia bahkan meminta salinannya, kemudian memotong foto tersebut agar fokus pada wajahnya, lalu menggunakannya sebagai kartu pribadi yang ia kirim ke teman-temannya.
Di saat dunia terus mencoba menempatkan Einstein ke dalam kategori formal: jenius, serius dan sempurna, ia justru memberikan satu pengingat sederhana. Bahwa orang terpintar di dunia pun tetap manusia.
Kadang lelah, kadang iseng, kadang memilih untuk tidak mengikuti ekspektasi. Dan mungkin, justru di situlah letak daya tariknya.
Bukan hanya karena ia memahami alam semesta, tapi karena ia tidak pernah sepenuhnya kehilangan dirinya sendiri di tengah semua itu.
(Rendy Aditya, foto: discovery.com)
