Belakangan ini, media sosial rasanya tidak pernah sepi dari satu jenis konten yang selalu berhasil menarik perhatian jutaan pasang mata. Pengungkapan perselingkuhan.
Mulai dari tangkapan layar percakapan yang bocor, video konfrontasi yang diunggah langsung oleh korban, hingga utas panjang di X yang menceritakan detik-detik saat seseorang mengetahui dirinya dikhianati.
Konten-konten ini viral bukan karena sensasi semata, tapi karena menyentuh sesuatu yang universal. Yakni rasa sakit akibat pengkhianatan orang yang paling dipercaya.
Fenomena ini seolah menjadi ruang publik baru bagi para korban untuk bersuara, sekaligus cermin bagi masyarakat luas tentang betapa perselingkuhan bukan lagi hal yang bisa disembunyikan selamanya.
Dan di setiap cerita yang beredar, hampir selalu ada satu gambaran yang sama: air mata.
(BACA JUGA: Sempat Muncul di Media Sosial, Apa Itu Frequency Theory?)

(Foto: freepik.com/freepik)
PENYEBAB ORANG BERSELINGKUH
Dari sisi psikologi, perselingkuhan jauh lebih kompleks dari sekadar tidak lagi mencintai pasangan. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Sex Research dan dilakukan oleh peneliti dari University of Maryland mengidentifikasi delapan alasan utama mengapa seseorang berselingkuh.
Di antaranya adalah keinginan seksual yang tidak terpenuhi, rasa tidak dicintai, merasa diabaikan oleh pasangan, hingga faktor situasional seperti berada di bawah tekanan tinggi atau pengaruh alkohol.
Studi tersebut juga menemukan perbedaan gender yang menarik. Di mana laki-laki cenderung berselingkuh karena dorongan seksual dan keinginan akan variasi, sementara perempuan lebih sering termotivasi oleh rasa terabaikan dalam hubungan.
Namun yang perlu digaris bawahi adalah, infidelitas terbukti menjadi prediktor depresi, kecemasan dan kekerasan dalam rumah tangga. Bukan hanya bagi korban, tetapi juga bagi dinamika hubungan secara keseluruhan.
Ketika pengkhianatan itu akhirnya terungkap, reaksi pertama yang paling sering muncul dari sisi korban adalah tangisan. Tapi jangan salah baca situasi. Air mata itu bukan selalu tentang kamu.
Ini mungkin yang paling perlu didengar oleh para pelaku selingkuh. Tangisan pasanganmu saat mengetahui pengkhianatanmu bukan otomatis berarti mereka masih mencintaimu dalam-dalam.
ALASAN DI BALIK AIR MATA KORBAN PERSELINGKUHAN
Secara psikologis, ada lapisan emosi yang jauh lebih kompleks di balik air mata itu.
Pertama, pengkhianatan menciptakan apa yang para peneliti sebut sebagai betrayal trauma. Yakni sebuah cedera psikologis spesifik yang terjadi ketika seseorang yang kita andalkan untuk rasa aman justru menghancurkan kepercayaan itu.
Rasa sakitnya bukan hanya tentang kehilangan hubungan, tapi tentang hancurnya kemampuan seseorang untuk mempercayai dunia dan orang-orang di sekitarnya.
Kedua, secara neurologis, rasa sakit akibat pengkhianatan mengaktifkan area otak yang sama dengan rasa sakit fisik. Artinya, tubuh benar-benar merespons pengkhianatan seperti sebuah ancaman nyata dan tangisan adalah salah satu cara sistem saraf meregulasi gejolak itu.
(BACA JUGA: Perempuan yang Suka Menahan Amarah Berisiko Mengalami Autoimun, Benarkah?)

(Foto: freepik.com/freepik)
Ketiga, tangisan bisa jadi merupakan bagian dari proses berduka. Tetapi bukan menangisi kamu sebagai seseorang. Justru menangisi versi hubungan yang selama ini dipercaya ada, gambaran masa depan yang sudah direncanakan dan sosok pasangan yang dikira dikenal baik.
Keempat, ada dimensi harga diri yang terluka di balik air mata itu. Ketika dikhianati, seseorang tidak hanya kehilangan hubungannya, mereka juga kehilangan dirinya sendiri.
Seperti identitas, rasa aman dan kepercayaan terhadap penilaian mereka sendiri. Tangisan itu bisa jadi adalah ekspresi dari pertanyaan yang paling menyakitkan: “Apakah aku tidak cukup?” bukan ungkapan kerinduan terhadapmu.
KESIMPULAN
Untuk kamu yang selingkuh dan menyaksikan air mata pasanganmu, jangan jadikan itu alasan untuk merasa dibutuhkan atau dicintai lebih dari sebelumnya.
Melansir dari pubmed.ncbi.nlm.nih.gov, antara 30 hingga 60 persen individu yang dikhianati mengalami gejala PTSD, depresi dan kecemasan pada tingkat yang signifikan secara klinis.
Air mata itu adalah respons trauma, bukan deklarasi cinta.
Sedangkan untuk kamu yang menjadi korban dan sedang membaca ini sambil bertanya-tanya apakah tangisanmu berarti kamu masih mencintai orang yang menyakitimu, jawabannya tidak sesederhana itu.
Menangis bukan berarti kamu lemah dan bukan berarti kamu harus bertahan. Kadang, air mata adalah cara tubuh dan pikiran memproses kehilangan yang terlalu besar untuk diungkapkan dengan kata-kata. Dan itu sepenuhnya valid.
(Kirana Putri, foto: freepik.com/drazen zigic)
