Bukan sekadar tren TikTok, ini alasan psikologis kenapa masa single kamu lebih berharga dari yang kamu kira.
Kalau belakangan ini FYP kamu dipenuhi konten “Being Single Should Be Fun” dengan backsound “Shape of My Heart”-nya Backstreet Boys, kamu tidak sendirian.
Tren ini hadir sebagai tandingan dari tren “Love Should Be Fun” yang menampilkan kompilasi momen pasangan dan viralnya tren “Being Single Should Be Fun” membuktikan satu hal. Banyak orang butuh validasi bahwa menikmati masa single itu sepenuhnya sah.
Tapi di balik konten-konten lucu dan relatable itu, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar humor jomblo. Yakni ada kebenaran psikologis yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka.
Selama bertahun-tahun, narasi yang paling sering kita dengar adalah bahwa menjadi single itu semacam “fase transit”. Sesuatu yang harus segera diselesaikan sebelum sampai ke tujuan utama yang bernama hubungan asmara.
Kalau kamu masih single di usia tertentu, pertanyaan “kapan punya pacar?” datang silih berganti, seolah statusmu saat ini adalah sesuatu yang perlu diperbaiki. Tapi penelitian psikologi justru bicara hal yang berbeda.
Sebuah studi dari Johannes Gutenberg University menemukan bahwa generasi muda saat ini jauh lebih puas dengan status single mereka dibandingkan dengan generasi sebelumnya dan para peneliti menilai hal ini berkaitan dengan bergesernya pola pikir.
Singlehood bukan lagi dilihat sebagai kegagalan, melainkan sebagai pilihan yang sah dan bahkan memberdayakan.
Dan kalau kamu adalah salah satu yang sedang menikmati masa single, ini bukan sekadar perasaan subjektif. Melansir dari psyche.co, dalam sebuah studi yang melibatkan hampir 6.000 orang dewasa single dari berbagai negara, ditemukan bahwa rata-rata perempuan single lebih bahagia dibanding laki-laki single.
Mereka lebih puas dengan status single-nya, lebih puas dengan kualitas hidupnya dan yang menarik, lebih sedikit yang merasakan keinginan untuk segera memiliki pasangan.
Ini bukan berarti hubungan asmara tidak menyenangkan. Tapi data ini menunjukkan sesuatu yang penting. Tidak ada satu definisi happily ever after yang berlaku untuk semua orang dan sangat mungkin untuk mencapai kebahagiaan itu sendirian.
(BACA JUGA: Jangan Ge’er, Ini Alasan Pasanganmu Menangis Saat Tahu Kamu Selingkuh!)
Yang juga perlu digarisbawahi adalah perbedaan antara single karena memilih dan single karena “terpaksa”.
Melansir dari PubMed Central, penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang menganggap status single mereka sebagai pilihan, memiliki tingkat kesehatan mental yang lebih baik.
Mulai dari lebih sedikit rasa kesepian, lebih sedikit gejala kecemasan dan depresi, serta well-being yang lebih tinggi secara keseluruhan. Artinya, cara kamu memaknai masa single-mu itu penting.
Ketika kamu melihatnya sebagai ruang untuk tumbuh dan menikmati hidup, bukan sebagai kondisi yang “harus segera berubah”, sesuatu yang berbeda terjadi di dalam dirimu.
Dan tren “Being Single Should Be Fun” di TikTok, dengan caranya yang ringan dan humoris, sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang lebih bermakna. Ia mengubah narasi dari “jomblo itu menyedihkan” menjadi “jomblo itu juga bisa seru”.
Dan itu, secara psikologis, jauh lebih sehat dari yang terlihat. Jadi, kalau kamu sedang single dan sesekali merasa perlu memvalidasi kebahagiaanmu sendiri, tidak ada yang salah dengan itu.
Kamu tidak perlu menunggu seseorang untuk mulai menikmati hidupmu. Seperti yang dikatakan psikolog Bella DePaulo:
“Jalani hidupmu sebagai single secara penuh, dengan sukacita, dan tanpa perlu meminta maaf kepada siapa pun.”
“Shape of My Heart” boleh jadi lagu tentang cinta. Tapi ternyata ia juga bisa jadi soundtrack untuk merayakan dirimu sendiri.
@deriaisha Decided to join the trend after finally making peace with a relationship that ended after almost 4 years🧍🏻♀️
(Annisa Larasati, foto: freepik.com/freepik)
