Tempat Favorit Marilyn Monroe Ungkap Sisi Lain Sang Ikon

Dari hotel mewah hingga apartemen sederhana, lokasi-lokasi ini menyimpan kisah penting dalam hidup Marilyn Monroe.

Lebih dari enam dekade setelah kepergiannya, Marilyn Monroe masih menjadi salah satu ikon paling berpengaruh dalam sejarah Hollywood.

Namun, di balik citra glamor yang melekat padanya, terdapat sejumlah tempat yang menyimpan cerita tentang kehidupan pribadi, ambisi, dan perjalanan karier sang aktris.

Bertepatan dengan peringatan 100 tahun kelahirannya pada 1 Juni 2026, sejumlah sejarawan dan pengelola properti bersejarah mengungkap kembali lokasi-lokasi yang pernah menjadi tempat favorit Monroe untuk tinggal, bekerja dan melepas penat.

Tempat-tempat tersebut tidak hanya menjadi saksi kesuksesannya, tetapi juga memperlihatkan sisi lain dari kehidupan sang bintang.

Salah satu tempat yang paling sering dikaitkan dengan Monroe adalah Hotel Bel-Air di Los Angeles.

Pada era 1950-an, hotel ini menjadi tempat pelariannya dari hiruk-pikuk Hollywood. Lokasinya yang tersembunyi dan menawarkan privasi membuat Monroe kerap menghabiskan waktu di sana bersama suaminya saat itu, Joe DiMaggio.

Hotel ini juga menjadi lokasi pemotretan ikonik The Last Sitting karya fotografer Bert Stern, yang dilakukan hanya beberapa minggu sebelum Monroe meninggal dunia pada 1962.

Tidak jauh dari sana, Monroe juga memiliki hubungan panjang dengan Beverly Hills Hotel. Ia beberapa kali tinggal di bungalow hotel tersebut selama masa kejayaan kariernya.

(BACA JUGA: Brand Asal Prancis Christian Louboutin, Resmi Membuka Boutique Hotel Pertama di Portugal)

Menurut catatan sejarah hotel, Monroe memiliki beberapa bungalow favorit dan sering menghabiskan waktu di Polo Lounge, restoran legendaris yang hingga kini masih menjadi salah satu daya tarik utama hotel tersebut.

Namun, kehidupan Monroe tidak selalu identik dengan kemewahan Hollywood. Pada 1955, setelah berpisah dari Joe DiMaggio, ia pindah ke New York dan menetap di Waldorf Towers yang merupakan bagian dari kompleks Waldorf-Astoria.

Masa tinggalnya di kota tersebut dianggap sebagai salah satu periode paling penting dalam hidupnya.

Di sana, Monroe berusaha membangun kembali kariernya, mendirikan Marilyn Monroe Productions dan mengambil kendali lebih besar atas masa depannya sebagai aktris dan produser.

Berbeda dengan citra glamor yang sering muncul di media, Monroe menjalani kehidupan yang relatif sederhana selama berada di New York. Ia lebih jarang tampil mencolok, mengikuti kelas akting, dan berusaha menjalani rutinitas layaknya warga kota pada umumnya.

Periode ini juga menunjukkan keinginannya untuk dikenal sebagai seniman yang serius, bukan sekadar simbol seks Hollywood.

Lokasi penting lainnya adalah Hotel del Coronado di San Diego, tempat Monroe menjalani proses syuting film Some Like It Hot pada 1958. Film tersebut kemudian menjadi salah satu karya paling sukses dalam kariernya.

(BACA JUGA: Mengulik Château de La Messardière, Hotel Mewah yang Konon Jadi Lokasi Shooting ‘White Lotus Season 4’)

Berbeda dengan syuting di studio tertutup, proses produksi yang berlangsung di area pantai membuat Monroe lebih dekat dengan publik dan menarik perhatian banyak penggemar yang datang untuk melihatnya secara langsung.

Hingga saat ini, tempat-tempat tersebut masih menjadi destinasi favorit para penggemar Monroe dari seluruh dunia.

Banyak yang datang bukan hanya untuk melihat lokasi bersejarah, tetapi juga untuk merasakan kedekatan dengan sosok yang hingga kini tetap menjadi simbol budaya pop global.

Lebih dari sekadar bangunan atau hotel mewah, lokasi-lokasi tersebut menggambarkan perjalanan hidup Marilyn Monroe yang penuh kontradiksi. Di satu sisi, ia adalah ikon glamor Hollywood yang dipuja jutaan orang.

Di sisi lain, ia adalah perempuan yang terus berusaha menemukan ruang aman, kebebasan kreatif, dan identitasnya sendiri di tengah sorotan dunia.

(Kirana Putri, foto: architecturaldigest.com)

Share