Kasus pencabutan gelar menantu Sultan Brunei menambah panjang daftar anggota kerajaan dunia yang kehilangan status royal akibat skandal.
Menjadi bagian dari keluarga kerajaan identik dengan kehormatan, kemewahan dan gelar bangsawan mentereng.
Namun, status royal tersebut bukanlah jaminan yang berlaku seumur hidup. Ketika aturan istana dilanggar atau skandal mencoreng nama baik monarki, keputusan tegas tak segan diambil.
Kabar mengejutkan terbaru datang dari Kesultanan Brunei Darussalam.
Sultan Hassanal Bolkiah secara resmi mengeluarkan titah kerajaan untuk mencabut seluruh gelar kebangsawanan milik menantunya, Pengiran Raabi’atul Adawiyyah (istri dari Pangeran Abdul Malik).
Melansir dari People, keputusan ini diambil setelah perilakunya dinilai tidak pantas (unbecoming) serta dianggap menunjukkan sikap kurang menghormati (lack of respect) terhadap sang Sultan.
Meskipun pihak Kesultanan Brunei secara resmi tidak merilis bentuk pelanggaran seperti apa yang dilakukan oleh sang Putri Menantu. Tetapi mengingat gelarnya dicabut, kemungkinan besar kesalahannya tidak bisa ditoleransi.
Tapi tahukah kamu? Kalau Pengiraan Raabi’atul Adawiyyah bukanlah anggota kerajaan pertama di dunia yang mengalami pencopotan gelar.
Menurut data, ada beberapa anggota kerajaan di dunia yang pernah mengalami kasus serupa. Berikut adalah sepuluh di antaranya:
PANGERAN ANDREW — INGGRIS

(Foto: hola.com)
Pencabutan gelar yang paling menyita perhatian publik terjadi di Monarki Britania Raya.
Melansir dari BBC, mendiang Ratu Elizabeth II secara resmi mempreteli seluruh gelar kemiliteran, peran patronase royal, serta penggunaan status His Royal Highness (HRH) dari Pangeran Andrew.
Langkah drastis ini diambil setelah Pangeran Andrew terseret dalam skandal kejahatan seksual yang melibatkan predator seksual Jeffrey Epstein serta gugatan hukum dari Virginia Giuffre.
PUTRI CRISTINA — SPANYOL

(Foto: cnn.com)
Kerajaan Spanyol tidak memberikan toleransi terhadap kejahatan keuangan.
Melansir dari The Guardian, Raja Felipe VI dari Spanyol secara resmi mencabut gelar kebangsawanan Duchess of Palma de Mallorca milik saudaranya sendiri, Putri Christina.
Tindakan tegas ini merupakan buntut dari skandal penggelapan pajak massal dan pencucian uang (Nóos case) yang melibatkan sang putri dan suaminya, Iñaki Urdangarin.
SINEENAT WONGVAJIRAPAKDI — THAILAND

(Foto: straitstimes.com)
Dinamika internal Istana Thailand pernah diguncang oleh persaingan kekuasaan.
Melansir dari Reuters, Raja Maha Vajiralongkorn merilis pengumuman resmi mencabut seluruh gelar kebangsawanan, pangkat militer, hingga medali kehormatan milik Selir Kerajaan, Sineenat Wongvajirapakdi.
Ia dinilai bersikap tidak patuh, membangkang, serta berambisi menyaingi posisi Ratu Suthida.
PANGERAN CHARLES EDWARD, DUKE OF ALBANY — INGGRIS/JERMAN

(Foto: townandcountrymag.com)
Pengkhianatan politik menjadi alasan pencabutan status royal di era Perang Dunia I.
Melansir dari The Independent, cucu Ratu Victoria ini merupakan pangeran Inggris, tetapi memihak kepada tentara Jerman saat perang meletus.
Pada tahun 1919, Parlemen Inggris memberlakukan Titles Deprivation Act untuk mempreteli seluruh gelar kebangsawanan Inggris milik Charles Edward karena dinilai melakukan pengkhianatan terhadap tanah airnya.
PUTRI STEPHANIE — MONAKO

(Foto: newmyroyals.com)
Gaya hidup yang memicu skandal media kerap memicu kemarahan istana Grimaldi.
Melansir dari Daily Mail, Putri Stephanie yang merupakan anak dari Pangeran Rainier III dan Grace Kelly, beberapa kali memicu kontroversi media akibat hubungannya dengan pengawal pribadi (bodyguard) hingga pengawal sirkus.
Akibat rentetan skandal yang dianggap mencoreng citra monarki, ia sempat dicoret dari garis suksesi takhta dan hak keistimewaan kerajaannya dibatasi oleh sang ayah.
(BACA JUGA: Meet the Most Stylish Royal Highness)
PANGERAN ERNST AUGUST, HANOVER — JERMAN/MONAKO

(Foto: people.com)
Perilaku kriminal di bawah pengaruh alkohol membuat posisi bangsawan ini kian tersudut.
Melansir dari HOLA!, Ernst August (suami Putri Caroline dari Monako) terlibat dalam serangkaian skandal kekerasan fisik dan pengancaman verbal di Jerman dan Austria.
Kasus hukum ini membuat hubungan keluarganya hancur, bahkan putranya sendiri mengambil langkah hukum untuk mencabut kewenangannya atas pengelolaan aset dan hak representasi Dinasti Hanover.
PUTRI CATHERINE BAGRATION — RUSIA

(Foto: hermitagefineart.com)
Sejarah mencatat skandal perselingkuhan tingkat tinggi yang meretas status kebangsawanan pada abad ke-19.
Melansir dari Britannica, Putri Catherine yang merupakan bangsawan Rusia dikenal lewat gaya hidup malam yang liar serta perselingkuhannya dengan sejumlah diplomat top Eropa.
Perilaku ini membuat pihak Kekaisaran Rusia menarik seluruh hak keistimewaan dan perlindungan diplomatik darinya di Saint Petersburg.
PANGERAN HEINRICH VII, REUSS — JERMAN

(Foto: wikimedia.org)
Kejahatan makar terhadap negara berujung pada pengusiran dari asosiasi keluarga.
Melansir dari DW (Deutsche Welle), Pangeran Heinrich VII ditangkap atas tuduhan memimpin kelompok ekstremis Reichsbürger dalam upaya kudeta terhadap pemerintah federal Jerman.
Kepala Wangsa Reuss secara terbuka mengutuk tindakan tersebut dan merilis pernyataan resmi bahwa Heinrich telah dikeluarkan dari asosiasi keluarga dan hak atas gelar bangsawan wangsa.
PUTRI CHARLOTTE — MONAKO

(Foto: people.com)
Tidak hanya Putri Stephanie, Kerajaan Monako juga pernah mencopot gelar anggota kerajaan yang lain. Yakni Putri Charlotte yang merupakan nenek dari Pangeran Albert II.
Skandal pribadi dan masalah moral di masa lalu memaksa pengunduran diri dari status suksesi. Melansir dari Hello Monaco, Putri Charlotte memiliki gaya hidup eksentrik dan skandal hubungan yang kerap memicu ketegangan di Istana Grimaldi.
Demi menyelamatkan legitimasi dan masa depan monarki Monako, sang ayah, Pangeran Louis II, memintanya untuk mengundurkan diri dan melepaskan hak suksesi takhtanya kepada sang putra (Pangeran Rainier III) pada tahun 1944.
ARCHDUKE LEOPOLD FERDINAND — AUSTRIA

(Foto: wikimedia.org)
Skandal moral menjadi alasan utama penghapusan status kekaisaran di masa lalu.
Melansir dari The New York Times, Kaisar Franz Joseph I dari Austria secara resmi mencabut seluruh gelar Archduke milik Leopold Ferdinand dan menghapus namanya dari daftar Keluarga Kekaisaran Austria pada tahun 1902.
Keputusan ini diambil akibat gaya hidup hedonis, penyalahgunaan keuangan, serta keterlibatannya dalam skandal prostitusi yang dinilai mencoreng dinasti Habsburg.
Deretan kasus di atas menjadi pengingat bahwa gelar kebangsawanan membawa tanggung jawab moral dan protokoler yang sangat besar.
Bagi keluarga kerajaan modern, menjaga integritas dan kepercayaan publik jauh lebih penting daripada mempertahankan status seorang anggota keluarga yang terseret skandal.
(Kirana Putri, foto: murai.my)
