Punya rekam jejak kontroversial hingga terseret dalam berkas Epstein, simak profil miliarder pemilik Gillette Stadium yang memicu gelombang boikot di industri musik.
Industri musik global tengah dihebohkan oleh krisis besar yang menimpa tur konser musisi ternama Ed Sheeran. Di mana salah satu artis pembuka konsernya, yakni Macklemore, dikecam oleh seseorang karena dengan lantang menyuarakan dukungannya untuk Palestina.
Orang tersebut adalah Robert Kraft.
Robert Kraft dikenal sebagai salah satu pebisnis paling berpengaruh di Amerika Serikat sekaligus pendukung kuat gerakan pro-Israel melalui lembaga Foundation to Combat Antisemitism.
Ketika Macklemore menyuarakan sikap politiknya di panggung konser Ed Sheeran di MetLife Stadium, New Jersey, pada awal September, Kraft menggunakan posisinya sebagai pemilik venue untuk menutup ruang bagi sang rapper di Gillette Stadium.
Karena kebetulan, konser Ed Sheeran yang berikutnya juga akan digelar di tempat tersebut pada tanggal 25 September 2026 mendatang.
Menurut pernyataan Macklemore di media sosial pribadinya, ia mengatakan bahwa permasalahan ini sangat berat untuk ditangani. Termasuk oleh Ed Sheeran.
Dan setelah melakukan berbagai pertimbangan, pihak Ed Sheeran akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Macklemore dari rangkaian turnya.
Karena, selain melarang Macklemore untuk tampil di Gillette Stadium, Kraft disebut turut menggalang aliansi dengan pemilik stadion lain yang juga menjadi lokasi konser Ed Sheeran untuk menekan sang artis dengan ancaman pembatalan konser secara menyeluruh.
Keputusan Ed Sheeran yang akhirnya mengalah pada tekanan tersebut justru memicu efek domino yang tidak terduga.
Rasa solidaritas antarmusisi membuat nama-nama besar seperti FINNEAS, Lukas Graham, hingga band pengiring Ed Sheeran, yakni Beoga, memilih mundur dari tur sebagai bentuk protes.
Selain karena mendukung Macklemore, para musisi ini juga kerap menyuarakan kepedulian mereka terhadap Palestina. Terlebih Beoga yang berasal dari Irlandia, di mana Irlandia adalah salah satu negara yang secara terbuka menyatakan mendukung Palestina.
Publik menilai tindakan Kraft telah mencederai kebebasan berekspresi dalam bermusik demi kepentingan agenda politik pribadi seorang oligarki.
TERLIBAT DENGAN JEFFREY EPSTEIN
Sebagai pemilik Gillette Stadium dan tim NFL New England Patriots, Kraft menjadi figur utama yang memberi ultimatum keras kepada pihak Ed Sheeran untuk mendepak Macklemore dari daftar penampilan.
Langkah tegas Kraft yang dinilai sebagai bentuk sensor politik dan penyalahgunaan kekuasaan kapital ini justru memicu sorotan tajam terhadap latar belakang dan rekam jejak moral sang miliarder sendiri.
Terutama mengenai keberadaan namanya dalam tumpukan dokumen pengadilan kasus Jeffrey Epstein yang dikenal sebagai Epstein Files.
Melansir dari NBC News, nama dan nomor kontak Robert Kraft tercantum secara eksplisit dalam black book (buku alamat pribadi) milik Epstein, serta tercatat dalam manifest penerbangan jet pribadi Lolita Express pada era 1990-an hingga awal 2000-an.
Selain itu, Kraft teridentifikasi sebagai bagian dari lingkaran sosial kelas atas Palm Beach, Florida, yang sering hadir dalam acara networking garapan Epstein.
Meski pihak Kraft secara konsisten menegaskan bahwa hubungan mereka murni interaksi sosial dan Kraft sendiri tidak pernah didakwa atas kejahatan kekerasan seksual maupun perdagangan manusia, fakta ini tetap memicu kritik keras dari publik.
Ditambah dengan rekam jejak skandal hukum kasus prostitusi ilegal di Florida pada 2019 lalu yang turut menyeret namanya, publik menyoroti adanya standar ganda moralitas.
Bagaimana seorang oligarki yang rekam jejaknya dipenuhi kontroversi justru menggunakan pengaruh kapitalnya untuk “menghakimi” dan membatasi hak berekspresi musisi di panggung hiburan publik?
KLARIFIKASI ED SHEERAN
Menanggapi kontroversi yang semakin membesar, Ed Sheeran akhirnya menyampaikan klarifikasi terbuka.
Melansir dari Billboard, ia menyatakan bahwa dirinya berada di posisi yang sangat sulit karena terancam pembatalan izin penggunaan venue secara penuh jika tidak menuruti permintaan pengelola stadion.
Ed Sheeran menegaskan harapannya agar panggung musiknya tetap menjadi ruang yang netral dan aman bagi semua orang, sembari menyampaikan penyesalan atas ketidaknyamanan yang dialami para penggemarnya.
Sayangnya, klarifikasi tersebut tidak lantas meredakan krisis. Dampak finansial dan reputasi pun langsung menghantam rangkaian konser ini.
Gelombang refund tiket secara massal terjadi di berbagai kota, di mana ribuan pemegang tiket memilih membatalkan kehadiran mereka sebagai bentuk kekecewaan atas keputusan pementasan dan bentuk boikot terhadap keterlibatan Kraft.
(Rendy Aditya, foto: jta.org)
