Drowning Into ‘Wuthering Heights’

Berawal dari sebuah novel yang terbit pada tahun 1847, sampai perjalanannya menjelajah ke dimensi lain dalam bentuk visual.

Beberapa hari lalu MOSTEAM mendadak bernostalgia dengan menyaksikan kembali film komedi romantis The Proposal (2009).

Dalam film tersebut, Margaret Tate, yang diperankan oleh Sandra Bullock, mengatakan bahwa setiap momen Natal ia selalu membaca novel favoritnya, yakni ‘Wuthering Heights’.

Percakapan singkat di kamar tidur itu tidak hanya memberi dimensi manusiawi pada karakter Tate yang dingin, tetapi juga menjadi bukti betapa sastranya karya klasik ini telah meresap kuat ke dalam pop kultur modern sebagai simbol tontonan dan bacaan yang emosional.

MENGENAL ‘WUTHERING HEIGHTS’

‘Wuthering Heights’ merupakan satu-satunya novel yang ditulis oleh sastrawan asal Inggris, Emily Brontë, dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1847 di bawah nama pena pria, Ellis Bell.

Melansir dari Britannica, novel bergenre gothic romance ini mengambil latar tempat di wilayah padang rumput (moors) Yorkshire yang liar dan terisolasi.

Menceritakan kisah hubungan yang rumit, obsesif dan destruktif antara Heathcliff, seorang anak yatim piatu yang diangkat oleh keluarga Earnshaw, dengan Catherine Earnshaw, putri dari pemilik kediaman Wuthering Heights.

Alih-alih menyajikan dongeng romantis yang manis, novel ini secara berani mengeksplorasi sisi gelap manusia seperti dendam membara, batasan kelas sosial, hingga trauma antargenerasi yang dipicu oleh patah hati.

Ketahanan ‘Wuthering Heights’ hingga menjadi mahakarya legendaris selama hampir dua abad tidak lepas dari keberanian strukturnya yang melampaui zamannya.

(BACA JUGA: Film Komedi Romantis Ini Ternyata Terinspirasi dari Naskah Shakespeare)

Melansir dari ulasan The British Library, ketika pertama kali terbit di era Victoria, novel ini sempat memicu kontroversi dan kritik pedas karena dinilai terlalu brutal, kelam, serta menampilkan karakter yang tidak memiliki nilai moral konvensional.

Namun, justru sifat byronic hero pada sosok Heathcliff yang kelam serta penggambaran cinta yang melampaui batas kematian itulah yang membuat buku ini begitu abadi.

‘Wuthering Heights’ berhasil mendobrak norma sastra zamannya dengan membuktikan bahwa cerita cinta paling berbekas sering kali lahir dari gairah yang penuh cacat dan kompleksitas psikologis yang nyata.

PERJALANAN ‘WUTHERING HEIGHTS’

Daya pikat narasi yang begitu intens membuat ‘Wuthering Heights’ terus hidup dan berevolusi lewat berbagai adaptasi layar lebar dan serial televisi dari generasi ke generasi.

Melansir dari Variety, perjalanan visual novel ini telah mencatat berbagai adaptasi yang ikonik. Mulai dari versi klasik tahun 1939 yang dibintangi Laurence Olivier, versi fithful tahun 1992 yang menampilkan Ralph Fiennes, hingga yang terbaru garapan sutradara Emerald Fennell yang memasangkan Margot Robbie dan Jacob Elordi.

Penjelajahan dari halaman buku menuju dimensi visual ini membuktikan bahwa pesona kegelapan dan romantisme tragis ala Emily Brontë tidak pernah kehilangan relevansinya untuk terus ditafsirkan ulang oleh para sineas dunia bahkan hingga hari ini.

(Kirana Putri, foto: tatler.com)

Share