Dari “My Frosty’s Funeral” sampai “It’s Not a Phase, It’s a 10PC”, Wendy’s mengubah momen melamun di parkiran restoran menjadi soundtrack emo sungguhan.
Wendy’s sedang memasuki era emo.
Pada 23 September 2026, jaringan restoran cepat saji asal Amerika Serikat tersebut merilis sebuah album bernama ‘Songs to Listen to in a Wendy’s Parking Lot’.
Album ini berisi enam lagu yang menggabungkan musik emo dan pop-punk dengan tema yang sangat khas Wendy’s. Kentang goreng, hamburger, Frosty dan tentu saja drama kehidupan di dalam mobil.
Ide di balik proyek ini sebenarnya cukup sederhana. Wendy’s mengatakan bahwa selama bertahun-tahun, para penggemar menjadikan parkiran restorannya sebagai tempat untuk menghabiskan momen-momen emosional.
Mulai dari duduk sendirian setelah hari yang buruk sampai melamun dari balik kemudi. Kali ini, Wendy’s memutuskan untuk memberikan soundtrack untuk momen tersebut.
Dan mereka tidak sekadar membuat playlist bercanda. Wendy’s menggandeng Matt Squire, produser dan penulis lagu yang pernah bekerja sama dengan Panic! at the Disco, All Time Low, Simple Plan, Sum 41, hingga 3OH!3, sebagai executive producer.
Sejumlah musisi dari scene emo, pop-punk dan metalcore juga ikut mengisi vokal dalam enam lagu tersebut.
Track pembukanya adalah “She Said She Didn’t Want Fries” yang menampilkan Matty Mullins dari Memphis May Fire.
Ada pula “Salt in the Wound” bersama Chloe Kinnon dari Winona Fighter, kemudian Shane Told dari Silverstein di “I Miss the Sunroom”.
Dua lagu lainnya adalah “The Best Combo Meal on the Worst Night of My Life” bersama Beau Bokan dari blessthefall dan “It’s Not a Phase, It’s a 10PC” bersama Derek DiScanio dari State Champs. Rilisan ini ditutup oleh Kat Leon dari Holy Wars lewat “My Frosty’s Funeral”.
(BACA JUGA: Kylie Jenner Hidupkan Lagi Era “King Kylie” Lewat Kolaborasi dengan DUNKIN’)
Judul-judulnya memang terdengar seperti lelucon yang sengaja dibuat untuk internet, tetapi tema emosionalnya tetap mengikuti formula klasik musik emo.
Ada patah hati, nostalgia, rasa kehilangan, sampai momen ketika sesuatu yang sangat sederhana terasa seperti satu-satunya hal yang berjalan dengan baik hari itu. Bedanya, semua perasaan tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Wendy’s.
Misalnya, “I Miss the Sunroom” mengambil nostalgia yang sangat spesifik: ruang berkonsep sunroom yang dulu menjadi bagian dari sejumlah restoran Wendy’s.
Sementara “My Frosty’s Funeral” memberikan penghormatan dramatis kepada dessert ikonik Wendy’s yang sudah habis. Bahkan salah satu lagu membawa kalimat “It’s Not a Phase, It’s a 10PC”, mengubah stereotip klasik tentang fase emo menjadi referensi chicken nuggets.
Wendy’s juga sengaja menegaskan bahwa rilisan ini dibuat bersama musisi sungguhan dan bukan menggunakan AI-generated music. Menurut perusahaan, mereka ingin proyek tersebut tetap memiliki kualitas produksi dan karakter yang sesuai dengan genre emo.
Matt Squire pun mengatakan bahwa emo selalu berbicara tentang momen-momen kecil yang terasa sangat besar, sehingga duduk sendirian sambil menikmati Frosty di parkiran bisa menjadi bahan cerita yang cukup emosional.
Ini bukan pertama kalinya Wendy’s mencoba masuk ke dunia musik. Pada 2018, brand tersebut pernah merilis mixtape hip-hop berjudul ‘We Beefin’?’.
Namun kali ini, mereka mengganti beat hip-hop dengan gitar, chorus emosional dan estetika emo yang semakin sering kembali muncul dalam budaya pop.
Album ‘Songs to Listen to in a Wendy’s Parking Lot’ sendiri kini sudah tersedia di Spotify dan berbagai platform streaming musik. Jadi, buat kamu yang mau mendengarkan musik emo but in a different ways, streamed now!
(Rendy Aditya, foto: wtol.com)
