Penuh Kontroversi, Film ‘The Assassin(s)’ Bercerita Tentang Apa?

Tembus dua juta penonton dalam 11 hari, film thriller sejarah ini justru memicu perdebatan sengit tentang sejarah, politik dan batas kebebasan kreatif di Korea Selatan.

Film Korea Selatan The Assassin(s) tengah menjadi salah satu pembicaraan terbesar di industri film Korea.

Sejak dirilis pada 23 September 2026, film garapan sutradara Hur Jin-ho ini langsung menjadi salah satu film terlaris selama periode Chuseok dan mengumpulkan sekitar 1,4 juta penonton hanya dalam empat hari masa liburan tersebut.

Pada hari ke-11 penayangannya, The Assassin(s) telah melewati angka 2 juta penonton dan menjadi film Korea kesembilan yang mencapai angka tersebut sepanjang 2026. Hingga 5 Oktober, jumlah penontonnya telah mencapai lebih dari 2,4 juta orang.

Di tengah performa box office yang kuat tersebut, film ini juga menghadapi kontroversi yang semakin meluas hingga melibatkan politikus, organisasi konservatif, aktor, bahkan agenda promosi film.

Melansir dari Yonhap News, film The Assassin(s) mengambil latar peristiwa nyata pada 15 Agustus 1974, ketika terjadi percobaan pembunuhan terhadap Presiden Korea Selatan Park Chung-hee dalam sebuah upacara Hari Kemerdekaan di Seoul.

Beruntung Presiden Park selamat dari tragedi tersebut. Tapi sayangnya, sang istri, Ibu Negara Yuk Young-soo, tewas tertembak dalam kejadian itu. Pelaku atas kejadian ini diketahui adalah Mun Se Gwang, seorang keturunan Korea yang tinggal di Jepang.

Namun, beberapa pihak merasa curiga bahwa kejadian ini mungkin tidak hanya dilakukan oleh Se Gwang seorang diri. Tetapi melibatkan pihak-pihak lain. Film ini kemudian bercerita lebih lanjut soal penyelidikan yang dilakukan oleh beberapa orang untuk mencari tahu siapa dalang di balik tragedi penembakan yang dilakukan oleh Se Gwang.

Film The Assasin(s) sendiri dibintangi oleh sejumlah nama besar di industri perfilman Korea Selatan.

Seperti Yoo Hae-jin yang berperan sebagai detektif bernama Cheol Gu, yang bertanggung jawab atas keamanan di lokasi kejadian, Park Hae-il sebagai editor senior surat kabar bernama Jae Hwan, yang menemukan sejumlah kejanggalan dalam penyelidikan resmi dan Lee Min-ho sebagai Young-il, reporter muda yang menyaksikan langsung kejadian tersebut. Kemudian ada juga aktor Park Jung-min yang memerankan sosok Mun Se-gwang.

Percikan kontroversi mulai muncul sejak film tersebut ditayangkan karena The Assassin(s) tidak sekadar merekonstruksi versi resmi peristiwa 1974.

Film justru membangun cerita misteri dari sejumlah pertanyaan mengenai kejadian tersebut, termasuk jumlah tembakan dan bukti yang ditemukan di lokasi.

Dari sinilah film membuka kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat, termasuk kemungkinan keterlibatan badan intelijen Korea Selatan atau pihak di sekitar pemerintahan Park Chung-hee.

Pada akhirnya, pertanyaan mengenai sejauh mana sebuah film boleh menginterpretasikan kembali sejarah nyata menjadi perdebatan besar di Korea Selatan.

(BACA JUGA: Dibintangi Choi Min Sik dan Han So Hee, Film ‘The Intern’ Versi Korea Siap Tayang)

DAFTAR KONTROVERSI FILM THE ASSASIN(S)

Meragukan Peristiwa Resmi 1974

Melansir dari The Korea Times, salah satu sumber kontroversi terbesar berasal dari cara film mempertanyakan detail penembakan Yuk Young-soo.

Dalam film, enam suara tembakan terdengar ketika upacara berlangsung. Tetapi hanya empat peluru yang ditemukan di tempat kejadian perkara. Sehingga dua lainnya menjadi bagian dari misteri cerita.

Pertanyaan mengenai tembakan dan bukti yang hilang tersebut kemudian digunakan sebagai dasar untuk membangun kemungkinan adanya pelaku atau pihak lain di balik kejadian.

Secara historis, Mun Se Guwang telah dinyatakan sebagai pelaku penembakan dan dieksekusi mati pada 1974.

Karena itu, ketika film membuka kemungkinan adanya dalang lain, sejumlah pihak menilai cerita tersebut telah bergerak terlalu jauh dari catatan sejarah yang selama ini dikenal.

Narasi Keterlibatan Pemerintah Termasuk Sang Presiden

Film ini memang tidak secara langsung menyatakan bahwa Park Chung Hee merencanakan kematian istrinya. Namun, beberapa adegan membuka kemungkinan bahwa pemerintah atau badan intelijen Korea Selatan mungkin mengetahui atau bahkan terlibat dalam peristiwa tersebut.

Bagi kelompok konservatif, penggambaran semacam ini dianggap bermasalah karena dapat membuat penonton memahami sebuah kemungkinan fiktif sebagai fakta sejarah.

Kritik tersebut kemudian berkembang menjadi tuduhan bahwa film telah mendistorsi sejarah dan memberikan interpretasi baru terhadap kematian Yuk Young-soo yang tidak memiliki dasar historis yang cukup.

Park Chung Hee dan Yuk Young Soo Bukan Tokoh Sejarah Biasa

Melansir dari Yonhap News, kontroversi film menjadi jauh lebih besar karena tokoh yang digambarkan berada di pusat salah satu periode paling sensitif dalam sejarah Korea Selatan.

Park Chung Hee memimpin Korea Selatan setelah mengambil alih kekuasaan melalui kudeta militer pada 1961 dan kemudian memimpin negara tersebut selama periode pemerintahan yang otoriter.

Warisannya hingga kini masih diperdebatkan, terutama antara pandangan mengenai perannya dalam pembangunan ekonomi Korea Selatan dan kritik terhadap pemerintahan otoriternya.

Sementara itu, Yuk Young Soo juga memiliki posisi penting dalam memori publik Korea Selatan. Karena itu, reinterpretasi mengenai kematiannya tidak hanya dipandang sebagai keputusan kreatif sebuah film, tetapi juga menyentuh cara masyarakat memahami sejarah politik negaranya.

(BACA JUGA: 4 Proyek Kolaborasi Jepang-Korea yang Wajib Ditonton!)

Tuduhan Distorsi Sejarah dan Kasus Hukum

Perdebatan tersebut tidak berhenti di media dan media sosial. Seorang mantan anggota dewan kota Seoul dari Partai Kekuatan Rakyat yang konservatif melaporkan sutradara dan produser The Assassin(s) kepada polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik melalui penyebaran informasi palsu.

Yayasan Memorial Presiden Park Chung Hee juga menyatakan keberatan terhadap film tersebut dan meminta permintaan maaf resmi serta penghentian penayangannya. Di sisi lain, tim produksi menegaskan bahwa mereka tidak bermaksud menyangkal atau mendistorsi fakta sejarah.

Mereka mengatakan telah melakukan riset terhadap dokumen yang telah dideklasifikasi, buku dan dokumenter sebelum menggabungkan peristiwa nyata dengan karakter serta elemen fiksi.

Dengan kata lain, perdebatan utamanya bukan hanya mengenai apakah cerita film tersebut menarik atau tidak, tetapi apakah kebebasan untuk mengembangkan cerita fiksi berdasarkan peristiwa nyata memiliki batas ketika tokoh dan peristiwanya masih memiliki makna politik yang kuat.

Menyeret Para Pemain

Melansir dari Korea Herald, situasi semakin serius ketika kritik terhadap film mulai menyasar orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Kelompok konservatif menggelar aksi protes di sekitar rumah Yoo Hae-jin dan menuntut agar film tersebut dihentikan serta para pemain dan tim produksinya meminta maaf.

Dampaknya juga terasa pada agenda promosi. Para pemain The Assassin(s) memutuskan untuk tidak menghadiri acara pembukaan dan Outdoor Stage Greeting di Busan International Film Festival 2026 karena pertimbangan keamanan.

Pihak distributor mengatakan keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan keselamatan penonton dan seluruh pihak yang hadir.

Pada 5 Oktober, agensi Yoo Hae-jin juga mengatakan akan mengambil tindakan tegas terhadap tindakan yang melanggar privasi, mengancam keselamatan, atau merusak reputasi sang aktor.

Perdebatan mengenai sebuah film pun akhirnya berkembang menjadi persoalan yang menyangkut keamanan dan kehidupan pribadi para pemainnya.

Kontroversi Versus Marketing

Di tengah semua perdebatan tersebut, The Assassin(s) justru tetap menarik penonton dalam jumlah besar. Film ini sempat kehilangan posisi pertama di box office pada 28 September, tetapi kemudian kembali memimpin dan melewati dua juta penonton pada hari ke-11 setelah dirilis.

Pada periode 2–4 Oktober saja, film tersebut menambah lebih dari 412 ribu penonton dan mencapai total 2.233.961 penonton. Hingga 5 Oktober, angkanya telah mencapai 2.412.822 penonton.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kontroversi tidak otomatis membuat penonton menjauhi film. Justru, The Assassin(s) berada dalam situasi yang cukup unik. Filmnya sukses secara komersial, tetapi interpretasi sejarah di balik ceritanya terus diperdebatkan.

(Annisa Larasati, foto: koreajoongangdaily.com)

Share