Baru membaca judulnya saja, beberapa dari kamu mungkin mengernyitkan dahi. Apa iya ada makanan yang dulunya dianggap “sampah” tapi sekarang jadi makanan mewah? Jawabannya, ya benar. Ada! Berikut adalah detail penjelasannya.
LOBSTER

(Foto: unsplash.com/louis hansel)
Kaget? Sama MOSTEAM juga. Salah satu makanan mewah ini dulunya dianggap “sampah” alias tidak berharga?
Lobster adalah salah satu jenis makanan yang usianya cukup tua karena sudah dikonsumsi sejak zaman prasejarah. Bahkan lobster juga tercatat sebagai makanan di kebudayaan kuno Romawi dan Yunani.
Namun semua berubah di Abad ke-17 dan 18. Saat itu, di pesisir New England jumlah lobster sangat melimpah. Saking banyaknya, makanan ini sampai dimanfaatkan untuk makanan tahanan, buruh, sampai pakan ternak dan pupuk. Betul-betul jauh dari makanan kelas atas.
Bahkan pada masa itu, di dalam kontrak tenaga kerja kolonial muncul aturan di mana tidak boleh memberi lobster lebih dari beberapa kali dalam seminggu karena dianggap memberi makan manusia dengan lobster adalah perlakuan buruk. Bayangkan. Menyajikan lobster sebagai menu makanan dianggap kejahatan.
Saking banyaknya jumlah lobster, masyarakat bahkan menyebutnya sebagai kecoak laut. Karena bentuknya dianggap seperti serangga laut.
Tetapi semua berubah di abad 19 pertengahan ketika lobster mulai masuk ke dalam transportasI modern seperti kereta api. Saat itu, karena jumlahnya yang banyak pemerintah mulai berpikir untuk mengirim lobster ke daerah lain.
Dan karena kereta api dianggap jadi transportasi modern yang cepat, maka pemerintah menggunakan kereta api untuk mengirim lobster. Sementara itu, di daerah tujuan ternyata ada banyak orang yang belum pernah melihat lobster.
Uniknya, mereka melihat lobster sebagai binatang laut yang eksotis. Dan setelah mencoba, banyak orang jatuh cinta dengan lobster. Sampai suatu hari ada sebuah restoran berpikir untuk menjual lobster secara eksklusif. Restoran tersebut bernama Lobster Palaces di New York.
Restoran ini, menyajikan lobster untuk kalangan atas. Hasilnya? Berhasil mengubah perspektif. Dari makanan orang miskin, menjadi makanan orang kaya. Perubahan tren ini membuat permintaan lobster jadi tinggi.
Akhirnya di tempat asal jumlah lobster berkurang. Namun karena permintaan tinggi, maka harganya jadi mahal. Sejak itu lobster pun naik kelas hingga sekarang.
OYSTER

(Foto: unsplash.com/mitili mitili)
Menu makanan berikutnya yang juga naik kelas adalah oyster. Menurut beberapa situs sejarah, oyster sudah dikonsumsi oleh manusia sejak ribuan tahun lalu. Hal ini bahkan dibuktikan oleh temuan arkeologis di mana masyarakat pesisir banyak mengonsumsi kerang laut.
Karena dianggap makanan pesisir, maka oyster pun tidak dianggap sebagai makanan mewah. Pada Abad ke-19, di kota-kota besar seperti London dan Paris, oyster sering dikaitkan dengan makanan murah karena dijual di jalanan. Jadi konsumen utamanya adalah masyarakat kelas pekerja.
Lalu bagaimana ceritanya oyster bisa naik kelas?
Seiring berjalannya waktu, masyarakat kelas pekerja berhasil meningkatkan level ekonomi mereka. Meski begitu, mereka tetap mengonsumsi oyster. Karena orang-orang di level ekonomi ini mengonsumsi oyster, akhirnya persepsi oyster pun bergeser.
Dari makanan kelas pekerja menjadi makanan kaum elit. Apalagi, pada tahun 1889 sebuah restoran di New Orleans bernama Antoine’s menciptakan sebuah menu oyster mewah bernama Oysters Rockefeller lengkap dengan saus yang kaya rasa.
Sejak saat itulah oyster menjadi konsumsi kaum elit hingga membuatnya jadi simbol gaya hidup mewah di Abad ke-20 dan 21.
ESCARGOT

(Foto: freepik.com/fabrikasimf)
Sama seperti dua makanan lainnya, escargot awalnya juga makanan kaum proletar. Khususnya di Prancis. Escargot adalah menu mewah yang menyajikan siput darat.
Namun, jauh sebelum jadi escargot, siput darat juga sudah menjadi konsumsi masyarakat sejak lama. Bahkan sejak zaman paleolitik, jauh sebelum pertanian ditemukan.
Siput darat sendiri banyak ditemukan di pedesaan. Karena di area ini ada banyak kebun dan ladang, di mana area ini adalah tempat tinggal para siput tersebut. Apalagi kalau selepas hujan, jumlahnya akan banyak sekali.
Karena banyak muncul di area pedesaan, maka tidak heran jika siput ini dianggap makanan yang statusnya rendah. Namun semua berubah sejak seorang koki asal Prancis mengubah siput ini jadi sajian mewah dengan teknik pemasakan haute cuisine.
Ia memasak siput dengan mentega, bawang putih, peterseli dan saus yang kaya rasa, sehingga membuatnya sangat elegan. Sejak itu, siput ini masuk ke dalam daftar menu di restoran mewah Prancis.
Ditambah, identitas kuliner Prancis yang kuat sebagai gastronomic nation membantu mengangkat siput darat ini jadi simbol fine dining.
(Andiasti Ajani, foto: freepik.com/freepik)
