Kalau tidak efektif, kok ada yang panas?
Sejak tayang secara publik di Netflix, stand up comedy show Mens Rea milik Pandji Pragiwaksono, berhasil menyita perhatian publik. Awalnya, orang-orang merasa terhibur karena berkesempatan menyaksikan pergelaran tersebut.
Sebab, pergelaran ini digelar bertepatan dengan momen demonstrasi besar-besaran pada bulan Agustus 2025 lalu. Namun, untuk sesaat MOSTEAM sempat khawatir. Jika pergelaran ini tayang di Netflix, maka semua orang bisa menontonnya.
Apa iya ini akan aman untuk Pandji? Dan ternyata kekhawatiran MOSTEAM terbukti. Karena Pandji, tiba-tiba dilaporkan ke pihak kepolisian oleh sekelompok masyarakat, karena dianggap sudah melakukan penghinaan ke beberapa nama pejabat yang ia sebut saat tampil. Salah satunya adalah Wakil Presiden Indonesia, Gibran Rakabuming Raka.
Sebelum kita lanjut, MOSTEAM mau memastikan dulu bahwa artikel ini tidak akan membahas tentang Mens Rea dan permasalahan yang sedang dialami oleh Pandji. Tetapi, yang akan dibahas di artikel ini adalah soal ternyata, mengritik pemerintah lewat komedi terbukti jadi cara yang lebih efektif daripada hanya demonstrasi atau sindiran satir di media sosial.
HUMOR MENURUNKAN RESISTENSI PSIKOLOGIS
Pada tahun 2008, sebuah jurnal tentang komunikasi politik berjudul ‘The Privileged Role of the Late-Night Joke in Defining Political Issues’ yang dibuat oleh Young, Dannagal G, mengungkapkan beberapa hal yang menjadi dasar kenapa kritik lewat komedi terbilang sangat efektif.
Humor Bekerja Lewat Disarming Effect
Menurut Young, humor itu membuat audiens lengah secara kognitif. Sehingga ketika diselipkan dengan pesan-pesan politik, tidak akan memicu mekansime yang defensif.
Atau dalam bahasa sederhananya, orang yang biasanya menolak mendengarkan isu politik dengan semua permasalahannya, justru mau mendengarkan jika dibungkus sebagai lelucon.
Karena humor, membuat kritik politik jadi terkesan tidak mengancam. Sehingga lebih mudah untuk diterima.
Komedi Menciptakan “Izin Sosial” untuk Berpikir Kritis
Menurut Young, ketika seorang komedian menyampaikan kritik politik dan membuat penonton tertawa, artinya mereka tidak merasa sedang mengambil posisi ekstrem. Plus, kritik jadi terasa seperti observasi bersama. Mudahnya, kritik yang dilontarkan oleh sang komedian bukan suatu hal yang jauh.
Tapi terasa dekat dengan para penonton yang notabene duduk menonton beramai-ramai. Mereka sadar bahwa yang merasakan hal tersebut bukan mereka saja.
Humor Menggeser Fokus Kritik
Ketika seseorang melakukan bincang-bincang politik, keberpihakannya pasti akan terasa. Si A membela si B, si C membal si D dan seterusnya.
Tetapi di panggung komedi, penonton tidak akan terdorong untuk membela siapa-siapa. Karena di dalam komedi, fokusnya akan berpindah ke absurdisitas situasi. Sehingga kritik lebih terasa universal dan reflektif.
Artinya, ketika seorang komedian menyampaikan kritik baik di panggung maupun di media lainnya, para penonton bukan marah. Tapi justru berkaca. Mereka akhirnya sadar tentang kondisi dan situasi yang tengah terjadi di sekitarnya.
