Makanan Gluten-Free, Apa Benar Lebih Sehat?

Beberapa tahun terakhir, fenomena makanan gluten-free tengah jadi primadona karena dianggap jauh lebih sehat dibanding makanan yang tidak gluten-free. Gluten-free sendiri terdiri atas dua kata: gluten dan free.

Gluten adalah protein yang secara alami ada di gandung, barley dan rye. Fungsinya adalah memberi elastisitas pada adonan. Gluten inilah yang membuat sebuah roti mengembang dan kenyal. Sementara, ketika digabung dengan kata free, artinya makanan tersebut (sebutlah roti) tidak mengandung protein tersebut.

Awal mula stigma gluten itu tidak sehat, bermula karena para penderita celiac desease yang merupakan salah satu jenis gangguan autoimun. Jadi, tren gluten-free itu awalnya bukan tren kesehatan. Melainkan terapi medis untuk orang-orang yang tubuhnya, memang mengalami alergi terhadap gluten.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa penderita celiac disease, gluten bisa memicu reaksi imun yang merusak usus halus. Sehingga, satu-satunya terapi yang efektif adalah menghindari gluten seumur hidupnya.

Begitu juga dengan orang yang mengidap non-celiac gluten sensitivity (NCSGS). Di mana orang-orang ini, akan mengalami sakit perut, kembung, lelah, atau brain fog setelah makan gluten food. Mereka ini disarankan untuk menghindari bahkan berhenti makan makanan yang mengandung gluten.

Plus, orang-orang yang alergi gandum juga disarankan untuk mengonsumsi makanan-makanan gluten-free. Bukan cuma untuk kesehatan, tapi juga untuk keselamatan mereka.

Kalau begini ceritanya, sejak kapan makanan gluten-free jadi tren sehat?

(Foto: freepik.com/freepik)

Jadi, di sekitar awal 2010-an, makanan gluten-free naik kelas dari terapi klinis ke label wellness. Pemicunya adalah:

  • Popularitas buku diet dan selebriti yang mengklaim bahwa makanan gluten-free lebih ringan dan lebih bersih.
  • Persepsi bahwa gluten adalah jenis zat yang membuat tubuh gemuk.
  • Industri makanan yang cepat beradaptasi dengan menghadirkan makanan gluten-free sebagai label, ternyata mampu jadi selling point.

Melansir dari mayoclinic.org, media-media kesehatan bahkan mencatat kenaikan yang cukup tinggi terhadap konsumen gluten-free, meskipun mereka tidak punya indikasi medis tertentu.

Stigma tentang gluten-free itu sehat, kemudian memicu pertanyaan baru. Betulan sehat atau tidak?

Jawabannya, tergantung. 

Melansir dari Harvard Health Publishing, gluten-free akan sehat untuk orang-orang yang memiliki gangguan kesehatan tertentu, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Karena bagi orang-orang ini, makanan gluten-free bisa membantu mengurangi inflamasi, memperbaiki penyerapan nutrisi, serta menghilangkan gejala gangguan pencernaan dan kelelahan.

Namun, untuk orang-orang yang tidak punya gangguan kesehatan tertentu, makanan gluten-free belum tentu jadi makanan yang sehat. Karena sejauh ini, belum ada temuan riset yang membuktikan kalau makanan gluten-free memberikan manfaat tambahan untuk tubuh mereka.

Apalagi, di pasaran ada beberapa produk gluten-free olahan yang kadar gulanya lebih tinggi, lemaknya lebih tinggi, seratnya juga lebih rendah dari yang biasa.

Selain itu, sebuah studi juga mengungkapkan bahwa orang-orang yang menghindari gluten tanpa indikasi medis, tidak memiliki risiko penyakit jantung yang lebih rendah. Artinya, risiko mereka untuk mengalami penyakit jantung tetap tinggi.

Tetapi, bagi orang-orang yang mengonsumsi makanan gluten-free dan mengaku tubuhnya lebih kurus, sebetulnya penyebab utamanya bukan karena glutennya. Tetapi karena mereka, berhenti makan roti putih, pastry dan mi instan. Mengurangi ultra-processed food, secara otomatis akan menurunkan berat badan.

(Kirana Putri, foto: freepik.com/rawpixel.com)

Share