Pilates: Berawal dari Kamp Militer, Kini Jadi Olahraga Populer

Saat pertama kali muncul di Indonesia, pilates sering disematkan sebagai jenis olahraga baru yang juga pesaing dari olahraga yoga. Padahal, kalau merunut pada sejarah, olahraga ini usianya juga sudah berabad-abad.

Melansir dari Cleveland Clinic, pilates dikembangkan oleh seorang laki-laki asal Jerman bernama Joseph Pilates dari tahun 1883 sampai 1967. Joseph, menjalani masa kecil yang jauh dari kata bugar. Karena ia menderita asma, rakhitis dan demam rematik.

Karena itu ia secara obsesif mempelajari banyak hal yang bisa membantunya hidup lebih baik. Mulai dari mempelajari anatomi tubuh, pernapasan, yoga, bela diri, sampai senam klasik. Alasannya sepele. Joseph percaya bahwa penyakit di dunia modern berasal dari postur tubuh yang buruk karena kurangnya kesadaran untuk bergerak.

Kemudian saat Perang Dunia I, Joseph ditahan di kamp di Inggris. Saat berada di kamp militer inilah Joseph mengembangkan metode-metode latihan untuk sesama tahanan. Termasuk menciptakan alat bantu dari pegas tempat tidur rumah sakit, untuk pasien yang tidak bisa bangun. Dan metode ini kemudian berkembang menjadi salah satu teknik pilates yakni reformer.

Namun awalnya, Joseph menggunakan nama Crontrology untuk metode ini. Karena fokusnya adalah untuk melatih fokus tubuh pada postur, melalui pernapasan, keseimbangan, serta koordinasi antara otot dan otak.

Setelah Perang Dunia I selesai, Joseph pindah ke New York dan membuka studio di dekat studio tari. Saat membuka studio ini, Josep Memilih nama Pilates Studio yang artinya adalah studio milik Joseph Pilates.

Tidak disangka, metode terapi kesehatan yang ia buat ini diminati oleh para penari. Mulai dari penari balet, koreografer, sampai para atlet juga datang ke studio Joseph untuk terapi pasca cedera hingga pulih, tanpa harus kehilangan kontrol tubuh.

Sejak saat itu, metode pelatihan yang dikembangkan Joseph ini terus merajalela hingga ke seluruh dunia. Konsepnya pun mulai bergeser. Tidak hanya menjadi terapi, tetapi juga olahraga. Meskipun konsep dasarnya tetap sama. Karena tetap fokus pada kualitas gerakan, stabilitas, hingga kontrol.

Itulah kenapa makanya, olahraga pilates rasanya tenang tapi melelahkan. Pelan, tapi kalau baru pertama kali membuat tubuh pegal-pegal. Karena yang dilatih bukan otot besar seperti gym misalnya. Tetapi lebih ke otot penyangga terdalam. 

MANFAAT PILATES

Setelah mengetahui sejarah dan perkembangan pilates, sekarang saatnya membahas apa saja manfaat yang diberikan jika kita rutin berolahraga pilates?

Menguatkan Core Secara Fungsional

Pilates terkenal dengan fokus pada core tubuh, tapi bukan sekadar abs. Core dalam pilates mencakup otot perut, punggung bawah, dasar panggul dan diafragma. Ketika core tubuh seseorang kuat, maka postur tubuh juga akan membaik, mengurangi nyeri punggung di bagian bawah, saat beraktivitas juga tubuh terasa lebih nyaman.

Itulah sebabnya, orang-orang yang punya masalah tulang belakang seperti skoliosis, bungkuk, nyeri leher, nyeri bahu, atau pernah patah tulang, banyak yang memilih pilates sebagai olahraga mereka. Olahraga ini juga cocok untuk pekerja kantoran karena sering duduk saat bekerja.

Efek Rendah Namun Efektif

Melansir dari situs Mayo Clinic, pilates dikenal sebagai salah satu jenis olahraga yang sebetulnya efeknya rendah, tetapi terbukti efektif bagi para pelakunya. Ibaratnya, keringat yang keluar mungkin tidak banyak seperti olahraga kardio, tetapi efeknya luar biasa bagi tubuh.

Seperti mengurangi tekanan pada sendi, aman untuk berbagai usia dan yang terpenting, setiap gerakan bisa dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan setiap orang.

Membantu Rehabilitasi dan Pencegahan Cedera

Seperti yang sudah disebutkan di awal, pilates dibuat awalnya memang untuk terapi. Sehingga, pilates memang sering dijadikan pelengkap fisioterapi, latihan pemulihan pasca cedera, serta pencegahan agar seseorang tidak mengalami cedera atau cedera lagi di kemudian hari. 

Menghubungkan Tubuh dan Mental

Seperti yang lagi-lagi sudah disebutkan di awal, olahraga pilates tidak hanya fokus pada gerakan semata. Tetapi orang yang melakukannya, harus berkonsentrasi penuh supaya ritme napas dan setiap gerakan yang dilakukan, berjalan beriringan.

Efeknya, bisa menurunkan stres, meningkatkan fokus, serta memberikan rasa grounded setelah latihan. 

(Annisa Larasati, foto: unsplash.com/ahmet kurt)

Share