Bhutan, The Last Shangri-La yang Tersembunyi di Kaki Gunung Himalaya

bhutan

Kalau boleh sombong sedikit, Asia adalah benua terbaik jika kita bicara soal destinasi wisata. Kenapa? Karena hanya Asia yang bisa menawarkan keberagaman pengalaman ketika dikunjungi untuk jalan-jalan. Dari sekian banyak negara di benua Asia, Bhutan adalah salah satu yang tidak boleh kamu lewatkan. 

Bhutan adalah sebuah negara kecil yang berada di kaki Pegunungan Himalaya. Posisinya, terkungkung di daratan antara India, Cina dan Tibet. Bhutan, disebut juga sebagai The Last Shangri-La. Shangri-La sendiri adalah sebuah istilah yang muncul di dalam novel karya James Hilton dengan judul ‘The Lost Horizon’ (1933).

Hilton, menggambarkan Shangri-La sebagai sebuah lembah tersembunyi di pegunungan Himalaya, yang suasananya sangat damai, harmonis, tingkat spiritualismenya tinggi, serta kebal terhadap kerusakan modern.

Shangri-La, juga digambarkan sebagai Utopia dari Timur. Artinya di tempat ini, orang-orang memiliki umur yang panjang, tenang, tidak serakah, serta memiliki hubungan yang dalam antara alam dengan batin mereka.

Sejak itu, istilah Shangri-La menjadi metafora global untuk sebuah tempat ideal yang masih murni, damai dan belum rusak oleh modernitas.

Meskipun Shangri-La adalah nama fiktif, tetapi semua penjelasan tentang konsep Shangri-La, secara tidak langsung menggambarkan Bhutan. Mulai dari lokasinya, sampai situasi kehidupan di negara tersebut juga mirip.

Sehingga secara simbolik, istilah Shangri-La disematkan pada Bhutan. Karena negara yang dipimpin oleh raja ini, masih sangat terjaga dari mass tourism, budaya dan spiritualitasnya hidup, alamnya dilindungi secara serius, serta arus modernisasi yang ada di negara ini sangat diatur.

Jadi kesimpulan kenapa Bhutan diberi gelar sebagai The Last Shangri-La adalah karena Bhutan, dipersepsikan sebagai salah satu tempat terakhir di dunia yang masih hidup dengan ritme pelan dan non-material.

(Foto: unsplash.com/nihar modi)

FAKTA MENARIK SOAL BHUTAN

Ekonomi Bukan Tolak Ukur Kebahagiaan

Bhutan, adalah negara yang mengusung konsep Gross National Happiness (GNH). Konsep ini adalah bentuk filosofi negara, yang menilai kesejahteraan lewat kesehatan mental, kelestarian alam, kualitas komunitas dan spiritualitas.

“Jadi, di Bhutan uang dianggap tidak penting?”

Bukan tidak penting. Tetapi tidak dijadikan tolak ukur kebahagiaan.

Negara dengan Jejak Karbon Negatif

Kalau kita bicara soal negara dengan udara terbersih di dunia, Swiss pasti jadi negara pertama yang muncul di kepala kita. Padahal, negara dengan udara terbersih di dunia adalah Bhutan. 

Melansir dari situs worldexpeditions.com, Bhutan adalah satu-satunya negara di dunia yang jejak karbonnya negatif alias nol. Artinya, Bhutan menyerap karbon lebih banyak daripada yang mereka hasilkan.

Hal ini bisa terjadi karena lebih dari 70 persen wilayah Bhutan adalah hutan yang dilindungi oleh konstitusi. Dengan kata lain, Bhutan melihat alam bukan sebagai aset ekonomi. Tetapi warisan spiritual.

Semua Bangunan Terlihat Senada

Selain melindungi alam, Bhutan juga melindungi aset budaya tradisional mereka. Salah satunya adalah arsitektur. Bangunan modern boleh dibangun di negara ini. Tetapi wajib memakai motif lokal baik di eksterior maupun interiornya.

Tidak terkecuali area publik seperti bandara, bahkan pom bensin. Hasilnya? Rapi, estetik dan juga luar biasa indah.

Selain arsitektur, pakaian tradisional juga dipakai sebagai pakaian sehari-hari. Namanya adalah gho untuk laki-laki dan kira untuk perempuan. Sehingga, kalau kita berkunjung ke Bhutan, sangat terasa sekali bagaimana identitas budaya dari negara ini benar-benar hidup.

Simbol Spiritual Terlihat di Berbagai Sudut Negara

Tingkat spiritualisme yang tinggi, bukan hanya dibuktikan melalui banyaknya kuil Buddha yang berdiri dengan kokoh. Tapi juga simbol-simbol yang tersebar di seluruh penjuru negeri.

Mulai dari bendera doa, stupa, sampai lukisan simbolik di rumah-rumah juga bisa terlihat jelas.

 

Share