BWF India Open 2026 Selesai, Ini Sejumlah Kritik yang Ramai Diperbincangkan

bwf india open 2026

Perhelatan BWF India Open 2026 baru saja berakhir pada 18 Januari 2026 lalu. Turnamen ini, adalah salah satu acara Super 750 dari rangkaian BWF World Tour yang diselenggarakan di Indira Gandhi Indoor Stadium, New Delhi, India.

Turnamen ini tentu menjadi sorotan terutama dari para penggemar olahraga bulu tangkis. Mulai dari para atletnya, hasil pertandingannya, para pemenangnya, sampai hal-hal lain yang sifatnya kontroversial.

KUALITAS UDARA YANG KOTOR

Melansir dari situs Times of India, dua hal ini konon menjadi isu besar bagi para atlet. Salah satu atlet yakni Anders Antonsen asal Denmark yang juga pebulu tangkis peringkat tiga dunia, menyatakan mundur dari India Open 2026 dengan alasan polusi udara yang ekstrem di New Delhi.

Lewat sebuah pernyataan, Antonsen mengatakan bahwa kualitas udara di kota itu tidak layak untuk kompetisi bulu tangkis, jika melihat dari sisi kesehatan. Antonsen bahkan rela membayar denda sebesar USD 5,000 atau sekitar IDR 84 juta karena keputusan mengundurkan dirinya ini.

Sebab, dalam aturan BWF, para pemain top dunia WAJIB ikut dalam rangkaian acara Super 750. Dan jika tidak berpartisipasi karena alasan pribadi, maka mereka wajib bayar denda.

Selain Antonsen, atlet bulu tangkis asal Denmark lainnya yakni Mia Blichfeldt juga secara terbuka menyuarakan kekhawatirannya atas udara yang kotor, kondisi tempat pertandingan yang tidak sehat, serta pengaruhnya terhadap stamina dan performa permainannya saat di lapangan.

KEBERSIHAN DAN FASILITAS LOKASI PERTANDINGAN

Selain kualitas udara di New Delhi yang buruk, beberapa atlet juga mengritik kebersihan dan manajemen fasilitas di Indira Gandhi Indoor Stadium. Melansir dari situs ESPN, Blichfeldt mengatakan bahwa lokasi latihan dan sejumlah area dalam keadaan kurang bersih dan berdebu.

Situasi ini memicu kekhawatiran publik soal standar sanitasi di dalam turnamen sekelas Super 750. Selain itu, ada juga kejadian tidak terduga saat sebuah pertandingan sedang berjalan. 

Di mana tiba-tiba, kotoran burung jatuh ke tengah-tengah lapangan. Dan bukan cuma sekali. Tapi berkali-kali. Hal ini membuat pertandingan terpaksa dihentikan sementara, agar pihak penyelenggara bisa membersihkannya lebih dulu.

Belum berhenti di situ. Konon, ada laporan yang datang soal hadirnya binatang liar seperti monyet, yang berkeliaran di area tribun dan luar stadion. Hal ini semakin memperkuat persepsi bahwa selama pertandingan ini, pihak penyelenggara dianggap mengabaikan kontrol hewan dan kebersihan.

Kritik-kritik ini tentu sampai ke pihak penyelenggara dan federasi. Mereka mengatakan bahwa setiap kritik yang datang sudah ditangani dengan sebaik-baiknya. Mereka bahkan ikut meninjau lokasi dan kondisi venue.

Terlepas dari kontroversi yang terjadi, pihak penyelenggara dan federasi mengatakan bahwa sebetulnya, Indira Gandhi Sports Complex sangat layak untuk menjadi lokasi pertandingan. Meskipun memang, ada beberapa tantangan yang mungkin dihadapi jika menggelar pertandingan di tempat ini.

Salah satunya adalah faktor cuaca seperti kabut, dingin dan tentu kualitas udara yang dihasilkan. Tapi lebih dari itu, jika menyebut kalau lokasi tersebut tidak layak untuk menjadi lokasi pertandingan, rasanya berlebihan menurut BWF. Karena jika dibandingkan dengan tahun lalu, lokasi pertandingan ini sudah diperbaiki jadi lebih baik.

Sementara itu, pihak Badminton Association of India (BAI) secara tegas menolak sebagian kritik yang berkembang di kalangan masyarakat dan media massa. Karena menurut mereka, lokasi pertandingan dalam hal ini adalah Indira Gandhi Indoor Stadium sudah memenuhi syarat untuk menjadi lokasi pertandingan, terlepas dari kontroversi yang bermunculan.

Sehingga, pihak BAI berharap beberapa isu yang terjadi untuk tidak dibesar-besarkan. Karena jika memang Indira Gandhi Indoor Stadium tidak layak untuk jadi lokasi dari acara olahraga sebesar ini, pihaknya tidak akan mungkin melanjutkan pertandingan di lokasi tersebut. Pasti akan ada tidak lanjut yang mereka lakukan, demi kenyamanan dan keamanan para atlet.

(Kirana Putri, foto: unsplash.com/stephan rothe)

Share