Minggu ini sebuah nama sedang viral di dunia maya. Ia adalah Alex Pretti. Lewat sebuah video, Pretti ditembak mati konon oleh seorang petugas imigrasi. Aksi ini terjadi saat ia bergabung dengan aksi protes atas ketidakadilan dari kematian Renee Good, yang tewas ditembak oleh petugas Imigrasi dan Bea Cukai di dalam mobilnya pada awal Januari 2026 lalu.
Renée Good ditembak mati di dalam mobil oleh Agen Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat bernama Jonathan Ross. Kronologinya adalah Good sedang berada di dalam mobil yang berhenti dengan posisi menyamping di jalan untuk diperiksa oleh Ross. Ross kemudian berjalan mengelilingi mobil, lalu seorang agen lain mendekat dan meminta Good turun dari mobil.
Tapi karena satu dan lain hal, Good menolak permintaan tersebut. Ia kemudian sempat memundurkan mobilnya sekali, lalu maju berbelok ke arah kanan untuk pergi meninggalkan area tersebut. Namun tiba-tiba Ross menembak Good sebanyak tiga kali, dari bagian jendela mobil yang terbuka.
Renée Good diketahui bekerja sebagai petugas kesehatan, di mana ia berprofesi sebagai asisten dokter gigi. Faktor inilah yang memicu Pretti turun langsung ke lapangan untuk menuntut keadilan atas kematian Good yang janggal. Ditambah, ia juga memiliki kemarahan terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump karena ia terus mengizinkan perusakan lingkungan untuk kepentingan tertentu.
“Alex adalah seorang pecinta alam. Ia sering membawa anjingnya berjalan-jalan sambil menikmati keindahan alam. Sehingga ia marah sekali ketika tahu bahwa ada oknum-oknum yang dengan sadar merusak lingkungan demi kepentingan tertentu,” ujar Susan sebagai ibu dari Alex Pretti seperti yang dilansir dari Associated Press.

(Foto: npr.org)
Pretti sendiri ditembak saat diperiksa di tengah aksi protes yang ia lakukan. Alasannya karena sang petugas konon ingin membela diri, setelah ia melihat Pretti ancang-ancang mengeluarkan senjata api. Padahal, lewat video yang beredar serta beberapa saksi mata yang ada di tempat kejadian, Pretti sama sekali tidak terlihat mengeluarkan senjata api. Sehingga pernyataan tersebut dinilai hanya omong kosong alias alasan belaka.
Meskipun tidak dipungkiri bahwa Pretti memang memiliki sebuah pistol. Namun pistol ini ia miliki atas izin yang jelas. Termasuk untuk membawanya ke mana pun, selama masih di area Minnesota. Plus, pistol ini ia miliki sebagai bentuk perlindungan diri. Mengingat Amerika Serikat saat ini sedang dalam kondisi genting.
Di mana keamanan sepertinya adalah hal yang sangat asing bagi hampir semua warganya. Izin kepemilikan senjata api ini juga sudah dikonfirmasi oleh Kepala Polisi Minneapolis yakni Brian O’Hara.
O’Hara mengatakan bahwa Pretti adalah pemilik senjata api yang sah. Hal ini secara otomatis membantah kabar yang menyebut bahwa Pretti adalah pemilik senjata ilegal hingga membuatnya di-framing sebagai teroris.
Melansir dari Associated Press, keluarga Pretti mengaku sangat kecewa dengan kejadian ini. Terutama soal narasi yang menyebut bahwa Pretti seakan-akan adalah seorang teroris. Karena hal ini sangat bertolak belakang dengan kepribadian Pretti yang hangat, ramah dan sangat mengayomi.
Mengingat ia adalah seorang perawat khusus ICU di Rumah Sakit Veteran Affairs Minneapolis. Bahkan banyak pasien dan keluarga pasien yang ramai-ramai membersihkan nama Pretti lewat caranya masing-masing. Hingga kini banyak masyarakat juga berdatangan dan berkumpul di Dubuque, untuk memperingati kematian yang tidak adil dari Good dan Pretti.
(Kirana Putri, foto: abcnews.go.com)
