Berkunjung ke Situs Babylonia, Ini 5 Hal yang Bisa Kamu Lakukan

Ribuan tahun lalu, ada sebuah peradaban yang disebut sebagai yang terbesar di wilayah Mesopotamia. Peradaban tersebut adalah Babylonia. Peradaban ini berkembang di sekitar kota Babylon, yang juga salah satu kota terbesar di dunia kuno.

Jika dilihat dari timeline sejarah, Kerajaan Babylonia berdiri kurang lebih pada tahun 1894 sebelum Masehi. Namun, kejayaannya baru muncul pada masa kepemimpinan Raja Hammurabi.

Kejayaan ini semakin berkembang ketika Kerajaan Babylonia dipimpin oleh Raja Nebuchadnezzar II. Sampai akhirnya, masa kejayaan Babylonia berakhir ketika jatuh ke tangan Cyrus the Great.

Kenapa Babylonia disebut sebagai peradaban terbesar yang pernah ada di dunia? Karena lokasinya sangat strategis. Yakni berada di antara Sungai Tigris dan Sungai Eufrat, yang membuat wilayah ini sangat subur dan cocok untuk pertanian. 

Selain itu, ada alasan lain kenapa Babylonia disebut sebagai peradaban. Yakni karena kota ini melahirkan banyak sekali ilmu yang hingga kini masih kita pakai. Seperti:

Hukum Tertulis

Raja Hammurabi menciptakan Code of Hammurabi. Yakni salah satu kode hukum tertulis tertua di dunia. Ciri khasnya adalah sekitar diciptakannya 282 pasal hukum yang mengatur perdagangan, keluarga, hingga kriminalitas.

Salah satu prinsip yang terkenal dari aturan tertulis ini adalah an eye for an eye. Hal ini bahkan membuat Mesopotamia menjadi contoh awal negara yang berdiri dengan sistem hukum formal.

Kemajuan Ilmu Pengetahuan

Selain melahirkan aturan tertulis, bangsa Babylonia juga sangat maju dalam berbagai ilmu pengetahuan. Utamanya adalah astronomi, matematika dan sistem penanggalan atau kalender. 

Beberapa warisan ilmu pengetahuan dari bangsa Babylonia bahkan masih kita pakai sampai sekarang. Seperti: 

  • 60 menit dalam 1 jam
  • 360 derajat dalam lingkaran

Kota Superpower Dunia Kuno

Di masa kepemimpinan Raja Nebuchadnezzar II, kota Babylon menjadi pusat perdagangan internasional, pusat budaya dan agama, hingga kota dengan arsitektur spektakuler.

Contohnya Ishtar Gate dan Hanging Gardens of Babylon. Beberapa sejarawan bahkan menyebut Babylonia sebagai New York-nya dunia kuno.

(BACA JUGA: Burg Eltz, Kastil Bersejarah yang Bentuknya Mirip Hotel Transylvania)

KENAPA BABYLONIA RUNTUH?

Melihat sebesar itu pengaruhnya, mungkin tidak masuk ke dalam logika bagaimana mungkin peradaban ini runtuh? Jawabannya sebetulnya bukan runtuh. Hanya saja Kerajaan Babylonia berhasil ditaklukan oleh kekaisaran lain.

Yakni Cyrus the Great dari Kerajaan Persia. Tapi menariknya, saat menaklukan kota Babylon, ia tidak menghancurkannya. Pasukan Persia masuk hampir tanpa perlawanan. Para penduduk pun tetap tinggal di sana.

Setelah dikuasai, kota Babylonia pun berubah nama menjadi Achaemenid Empire. Beberapa ratus tahun kemudian, kota ini ditaklukan lagi oleh Alexander the Great. Kemudian pindah lagi ke Kekaisaran Seleucid, lalu Parthia, hingga Sassanid Persia.

Dan seiring berjalannya waktu, kota Babylon perlahan ditinggalkan. Para penduduk mulai pindah ke kota baru. Lama-lama bangunan di kota ini satu per satu runtuh dan tertimbun pasir. 

Bertahun-tahun kemudian, wilayah Babylonia kini sebagian besar berada di Irak. Terutama di sekitar kota Hillah. Sementara situs kota Babylonia itu sendiri saat ini menjadi situs arkeologi yang dilindungi oleh UNESCO.

Dan dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Irak mulai membuka diri lagi untuk pariwisata setelah situasi keamanan jauh lebih stabil dibandingkan era perang di awal tahun 2000-an. 

Bahkan, sejak tahun 2021 hingga 2024, jumlah wisatawan asing meningkat, khususnya mereka yang tertarik pada sejarah Mesopotamia.

Share