MOSTROOPS, seberapa suka kamu menonton K-Drama atau K-Movie? Kalau sangat suka, genre atau cerita seperti apa yang paling kamu minati? Apakah romantis? Komedi? Atau mungkin yang ceritanya dark?
Kalau kamu perhatikan, beberapa tahun terakhir ada banyak sekali K-Drama atau K-Movie yang mengusung genre-genre keras. Sebut saja “Vicenzo”, “Squid Game”, “The Glory”, “Sky Castle” dan masih banyak lagi.
Awalnya, MOSTEAM mengira, para penulis cerita, sutradara, produser dan rumah produksi, mengusung genre ini murni karena ingin bersaing dengan tayangan-tayangan Barat yang memang, ketika mengusung genre ini pasti berhasil meraup jumlah penonton.
Apalagi, kehadiran OTT semakin memperluas aksesibilitas K-Drama atau K-Movie ke kancah global. Aksesibilitas ini kemudian menjadi poin penting bagi para pelaku industri. Sebisa mungkin, karya mereka mampu bersaing dengan tayangan-tayangan Barat di OTT tersebut.
Tapi, melalui hasil riset yang dilakukan, ternyata keputusan untuk mengusung genre keras lebih dari sekadar menarik minat penonton alias selling point. Namun ada beberapa poin penting yang ternyata, merupakan bentuk kritik bagi negara.
REFLEKSI SOSIAL
K-Drama atau K-Movie yang populer secara internasional, menjadikan adegan kekerasan bukan sekadar bumbu horor atau shock value, melainkan dipakai sebagai alat bercerita untuk:
- Ketidaksetaraan sosial
- Konsekuensi sistem publik
- Struktur kompetitif yang berlebihan
- Ketegangan nilai tradisional versus modern
Kita ambil contoh yang paling terkenal adalah “Squid Game”. Serial ini secara eksplisit menggunakan kekerasan ekstrem sebagai metafora ketidakadilan ekonomi dan persaingan brutal dalam sistem kapitalis modern.
Ketidakadilan atau ketidaksetaraan ekonomi di serial ini bisa disaksikan lewat para peserta yang rela menjalani risiko ekstrem karena hutang. Hutang ini adalah representatif dari ekonomi yang tidak merata di Korea Selatan.
HIDUP BERBASIS KOMPETISI
Sudah jadi rahasia umum kalau hidup menjadi warga negara Korea Selatan di Korea Selatan sangatlah berat. Setiap individu di dalam masyarakat, sejak kecil sudah terbiasa untuk hidup berkompetisi. Mulai dari sekolah sampai karier.
Fakta ini dihadirkan di dalam serial “Squid Game”. Di mana setiap permainan, mencerminkan bagaimana sistem sosial di Korea Selatan hadir dan membuat semua orang bersaing secara ekstrem. Bukan karena pilihan, melainkan tekanan struktur.
REPRESENTASI KETEGANGAN SOSIAL
Menyambung dari poin yang sebelumnya, Korea Selatan memang dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat masyarakat paling kompetitif di dunia. Mulai dari pendidikan, pekerjaan, status sosial dan lain sebagainya.
Bahkan, saking kompetitifnya persaingan antar masyarakat, pemerintah Korea Selatan bahkan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat suasana kota hening saat tes masuk perguruan tinggi diadakan. Polisi turut dikerahkan untuk menjemput para siswa dan siswi dari stasiun kereta atau halte bus, lalu mengantarkan mereka ke tempat ujian.
Jalur terbang pesawat juga dialihkan. Jangan sampai pesawat terbang di atas lokasi ujian dan mengganggu konsentrasi para siswa.
Para idola K-Pop tidak luput dari hal ini. Sistem trainee atau pelatihan sebelum debut, adalah fakta bahwa mereka harus berusaha sekeras dan semaksimal mungkin, termasuk bersaing dengan sesama trainee agar bisa debut.
Maka tidak heran, kalau genre keras tidak hanya dibalut pada K-Drama dan K-Movie dewasa. Tapi juga school-aged.
PENGALAMAN EMOSIONAL
Selain mengemban nilai-nilai sosial, genre keras juga menjadi bentuk pengalaman emosional. Penonton tidak sekadar melihat aksi brutal, tetapi turut merasakan intensitas yang sama seperti tokoh utama di dalam cerita. Di mana tokoh tersebut, terjebak dalam sistem yang tidak adil.
Menurut teori media studies, representasi kekerasan yang kuat membuat penonton mengalami emosi yang mirip dengan ketidakadilan sistemik itu sendiri. Efek ini kemudian berdampak pada pemahaman sosial yang lebih dalam.
Pemahaman sosial yang lebih dalam ini, mampu mendoktrinisasi penonton untuk ikut sadar akan isu sosial di sekitar mereka, yang secara metafora digambarkan lewat adegan kekerasan di dalam cerita.
(Andiasti Ajani, foto: imdb.com)
