Bukan Remake ‘Breakfast at Tiffany’s’, Lily Collins Akan Memerankan Audrey Hepburn di Film Baru

Apa yang akan terjadi kalau kamu berada di posisi Lily Collins? Lama mengidolakan seseorang, tiba-tiba dapat kesempatan untuk memerankan idola kamu di sebuah film?

Hal inilah yang terjadi pada aktris Lily Collins. Melansir dari independent.co.uk, Collins akan memerankan sosok Audrey Hepburn dalam film yang menceritakan tentang proses di balik lahirnya film Breakfast at Tiffany’s.

Kabar gembira ini dibagikan langsung oleh Collins via akun Instagram pribadinya. Collins membagikan foto Audrey Hepburn yang memerankan tokoh Holly Golightly dan cuplikan dari media deadline.com yang menyatakan bahwa dirinya akan memerankan sosok tersebut di film Breakfast at Tiffany’s.

“Hampir sepuluh tahun berlalu sejak proses development dari film ini dan momen-momen di mana aku sangat mengidolakan Audrey, akhirnya aku bisa mengumumkan ini. Aku merasa sangat terhormat bisa mendapat kesempatan besar ini,” tulisnya sebagai caption.

Masih melansir dari sumber yang sama, film yang akan dibintangi Collins ini diangkat dari novel nonfiksi karya Sam Wasson yang berjudul ‘Fifth Avenue, 5AM: Audrey Hepburn, Breakfast at Tiffany’s and the Dawn of the Modern Woman’.

Di mana novel nonfiksi ini menceritakan cerita di balik proses pembuatan film Breakfast at Tiffany’s yang penuh gejolak serta kontribusi dari penulis skenario film tersebut, yakni George Axelrod, sutradara Blake Edwards, dan perancang kostum Edith Head.

Buku ini betul-betul merinci semua hal dramatis yang terjadi pada masa pra-produksi. Termasuk kegagalan sang penulis cerita, yakni Truman Capote, yang gagal untuk memilih Marilyn Monroe sebagai pemeran tokoh Holly Golightly.

Bahkan buku ini mengungkap bahwa Paramount Pictures, selaku rumah produksi dari film tersebut, disebut telah mengkhianatinya dengan memilih Audrey Hepburn sebagai pemeran tokoh Holly Golightly.

Akibatnya, situasi di lokasi shooting menjadi sangat tegang. Selain itu, buku ini juga mengungkap betapa besar upaya rumah produksi dalam melunakkan suasana seksual dari tokoh tersebut, serta dampak yang diciptakan oleh film tersebut hingga hari ini.

(Foto: oglobo.globo.com)

SINOPSIS FILM BREAKFAST AT TIFFANY’S

Film Breakfast at Tiffany’s berlatar belakang kota New York di awal tahun 1960-an yang penuh mimpi, kebebasan dan ilusi tentang kesuksesan. Di tengah hiruk pikuk Manhattan, ada seorang perempuan muda bernama Holly Golightly yang hidup dengan caranya sendiri. Bebas, eksentrik dan percaya diri, meskipun di balik itu ia menyimpan banyak kegelisahan.

Holly tinggal di apartemen kecil, hidup dari pesta ke pesta dan menjalin hubungan dengan pria-pria kaya yang mampu memberinya hadiah dan bantuan finansial. Namun, di balik hidupnya yang berwarna ini, ketika merasa cemas atau kosong, Holly akan pergi ke toko perhiasan Tiffany & Co., lalu memandangi kemewahan yang terpanjang di etalase dari balik kaca.

Uniknya, setelah melakukan hal ini, ia akan merasa tenang. Karena bagi Holly, Tiffany & Co. adalah simbol kehidupan yang ideal. Seperti aman, indah dan tanpa kekacauan emosional.

Suatu hari, Holly bertemu dengan seorang penulis muda bernama Paul Varjak yang ternyata juga hidup seperti dirinya. Di mana ia mengandalkan wanita-wanita kaya yang lebih tua agar hidupnya terus berjalan. Pertemuan mereka awalnya biasa saja. Tapi lama-lama berkembang menjadi persahabatan yang intim, penuh obrolan ringan, kejujuran setengah-setengah dan momen reflektif tentang hidup. 

Seiring dengan berjalannya waktu, Paul mulai melihat sisi lain Holly. Di mana ternyata hidup Holly diliputi oleh rasa takut gagal, takut terikat dan takut kehilangan kebebasannya. Di balik gaya hidup mewah dan sikap santainya, Holly adalah sosok yang terus melarikan diri dari masa lalu dan kenyataan hidupnya. 

Film ini perlahan menggeser fokus dari kisah cinta biasa menjadi cerita tentang pencarian jati diri. Holly dihadapkan pada pilihan: terus hidup dalam ilusi kebebasan tanpa komitmen, atau berani menghadapi perasaan dan kenyataan yang selama ini ia hindari. Hubungannya dengan Paul menjadi cermin untuk memahami siapa dirinya sebenarnya.

Pada akhirnya, Breakfast at Tiffany’s bukan hanya tentang romansa, tetapi tentang kesepian di kota besar, tentang perempuan yang berusaha menciptakan identitasnya sendiri dan tentang keberanian untuk mengakui bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kemewahan.

(Foto: imdb.com)

Share