MOSTROOPS, pernahkah kalian berpikir kenapa ya saat musim liburan harga tiket pesawat atau transportasi lain meningkat drastis? Padahal kan banyak yang beli. Bukannya mereka akan untung kalau menjual di harga normal?
Di sisi lain ketika low season alias musim non liburan, harga tiket pesawat justru landai. Padahal kan yang beli sedikit? Bukankah maskapai akan merugi?
Entah kalian pernah berpikir tentang hal tersebut atau tidak, tapi MOSTEAM pernah. Karena menurut logika, ketika musim liburan tiba, semua orang pasti akan memburu tiket pesawat. Sehingga dijual dalam harga normal pun akan tetap habis terjual.
Berbeda dengan low season. Orang yang bepergian jumlahnya tidak sebanyak di musim liburan. Maka seharusnya harga tiket pesawat lebih mahal, supaya biaya operasional maskapai bisa tercukupi.
Tapi, bisnis maskapai ternyata tidak berpikir seperti itu. Melansir dari pros.com, ada sebuah istilah di dalam dunia bisnis yakni dynamic pricing.
APA ITU DYNAMIC PRICING?
Dynamic pricing adalah strategi harga yang fleksibel di mana bisnis, menaikkan harga selama permintaan tinggi dan menurunkannya saat permintaan rendah. Strategi inilah yang diterapkan oleh pelaku bisnis maskapai.
Lebih lanjut, perusahaan maskapai menerapkan dynamic pricing dalam bentuk: harga bisa berubah secara real-time berdasarkan permintaan, waktu pemesanan, kompetisi dan variabel pasar lainnya.
Strategi ini, menolong perusahaan maskapai untuk mengoptimalkan revenue mereka, karena harga tiket bukan lagi angka tetap tetapi hasil perhitungan algoritma yang terus diperbaharui.
Bahkan, beberapa perusahaan maskapai mengembangkan model continuous pricing, di mana mereka menetapkan harga di antara titik harga yang ada untuk menangkap willingness to pay dari pelanggan.
Contoh mudahnya adalah, sebelum keberangkatan harga tiket bisa berubah puluhan kali. Satu kursi bahkan harganya bisa naik atau turun, tergantung pada berapa banyak yang sudah dipesan dan kapan dipesan.
Kedua. Tiket termurah biasanya muncul jauh-jauh hari ketika permintaan masih rendah. Nantinya, ketika jumlah kursi tinggal sedikit namun peminat masih banyak, maka harga secara otomatis akan naik.
Kesimpulannya, ketika high season jumlah traveler pasti meningkat. Tetapi, jumlah pesawat dan kursi tidak bertambah. Ketidakseimbangan antara permintaan tinggi dan jumlah pesawat serta kursi yang terbatas inilah yang membuat harga naik secara alami.
KENAPA SAAT LOW SEASON HARGA TIKET MURAH?
Ketika musim non liburan, perusahaan maskapai cenderung menurunkan harga tiket untuk merangsang penjualan. Bayangkan kalau kamu adalah orang yang suka traveling. Melihat harga tiket murah, apakah kamu tidak tertarik untuk membeli? Pasti tertarik kan?
Kedua. Ketika musim non liburan tiba, maskapai sering mengalami di mana kursi pesawat tidak sepenuhnya terjual. Sedangkan, biaya operasional yang dikeluarkan tetap sama. Traffic penerbangannya juga tetap sama.
Sehingga, untuk meminimalisir kerugian, perusahaan maskapai memutuskan untuk menurunkan harga tiket agar banyak orang tertarik untuk membeli demi menutupi biaya kerugian tersebut.
(Andiasti Ajani, foto: unsplash.com/dennis gecaj)
