Di media sosial hari ini, jadi influencer sering terlihat sebagai salah satu cara paling cepat untuk menghasilkan uang. Cukup dengan satu video yang viral, seseorang bisa mendapatkan jutaan views, bekerja sama dengan brand dan perlahan membangun personal brand yang terlihat menjanjikan.
Tidak heran kalau profesi ini semakin diminati bukan hanya karena fleksibilitasnya, tapi juga karena terlihat seperti easy money di tengah gaya hidup digital yang serba cepat. Influencer kini bukan sekadar pembuat konten, tapi juga menjadi perpanjangan tangan brand dalam membentuk opini, tren, bahkan keputusan membeli audiensnya.
Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang jarang terlihat: proses yang tidak selalu secepat yang tampak di layar dan tekanan yang datang setelahnya.
Sebenarnya, kemunculan influencer di media sosial bukan sesuatu yang terjadi secara instan. Jauh sebelum istilah ini populer seperti sekarang, brand sudah mulai beralih dari iklan tradisional ke pendekatan yang lebih personal, dengan mengandalkan individu yang dianggap punya kedekatan dan kepercayaan dengan audiensnya.
Seiring berkembangnya platform seperti Instagram dan YouTube di awal 2010-an, muncul generasi awal content creator yang membangun audiens secara konsisten, bukan hanya dari satu konten yang kebetulan viral.
Menurut laporan dari Influencer Marketing Hub, pertumbuhan industri influencer marketing sendiri meningkat secara signifikan dalam satu dekade terakhir, menunjukkan bagaimana peran individu dalam memengaruhi keputusan audiens semakin diakui oleh brand.
Inilah yang kemudian membentuk fondasi influencer seperti yang dikenal hari ini. Bukan sekadar soal angka views, tapi tentang konsistensi, kepercayaan dan kemampuan untuk membangun pengaruh dalam jangka panjang.
Di sisi lain, dari perspektif brand dan agensi, peran influencer sebenarnya masih dianggap efektif, selama dijalankan dengan konsisten dan punya kredibilitas. Banyak brand melihat influencer sebagai cara untuk menjangkau audiens secara lebih personal, bahkan membangun kepercayaan yang sulit dicapai lewat iklan tradisional.
Namun, seiring semakin banyaknya kreator yang bermunculan, ekspektasi terhadap influencer juga ikut meningkat. Tidak sedikit brand yang mulai mempertanyakan konsistensi, kualitas konten, hingga dampak nyata dari kampanye yang dijalankan.
Dalam beberapa laporan media seperti Business Insider dan Forbes, muncul keluhan soal engagement yang tidak selalu sebanding dengan jumlah followers, hingga hasil kampanye yang tidak sesuai ekspektasi.
(BACA JUGA: Sepi Pemulai, Inilah Daftar Bidang Konten yang FYP Oriented)
Tetapi kalau melihat dari sisi influencer itu sendiri, sebetulnya ada banyak tekanan yang mereka rasakan, meskipun sering kali tidak terlihat. Felix Kjellberg atau yang dikenal dengan nama akun PewDiePie misalnya, pernah mengungkapkan kelelahan karena tuntutan untuk terus memproduksi konten secara konsisten, hingga akhirnya beberapa kali memutuskan untuk rehat dari YouTube.
Hal serupa juga dirasakan kreator lain yang mengaku harus terus aktif mengikuti algoritma dan ekspektasi audiens, seolah tidak ada jeda dalam pekerjaan mereka. Melansir dari bitdefender.com, bahkan dalam berbagai studi, creator burnout menjadi fenomena yang semakin umum, dengan tekanan untuk terus relevan, kreatif dan “selalu ada” di platform digital.
Apa yang terlihat seperti easy money di permukaan sering kali datang dengan tuntutan untuk terus aktif, kreatif, dan konsisten, tanpa batas waktu kerja yang jelas.
Pada akhirnya, menjadi influencer memang tetap terlihat sebagai peluang yang menjanjikan, terutama di era digital yang serba cepat seperti sekarang. Tapi di balik fleksibilitas dan eksposur yang ditawarkan, ada realita yang sering kali tidak ikut terlihat di layar.
PROS AND CONS MENJADI SEORANG INFLUENCER
Ada sisi yang membuat profesi ini terlihat menarik:
- Fleksibilitas waktu dan kebebasan dalam bekerja
- Peluang penghasilan yang besar dari berbagai sumber
- Kesempatan membangun personal brand dan jaringan yang luas
Tapi ada juga sisi lain yang jarang dibicarakan:
- Pendapatan yang tidak selalu stabil dan sulit diprediksi
- Tekanan untuk terus relevan dan mengikuti algoritma
- Burnout karena tuntutan ide dan konsistensi konten
- Batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan yang semakin tipis
Karena mungkin yang terlihat sebagai easy money sebenarnya adalah hasil dari proses yang tidak selalu mudah dan tidak selalu cocok untuk semua orang. Jadi, kalau ada di antara kamu yang “kebelet kaya” dan ingin menjajal profesi sebagai content creator atau influencer, mungkin bisa dipertimbangkan lebih matang lagi sebelum memutuskan.
Karena sejatinya, semua pekerjaan apapun bentuknya, selalu punya pain point meskipun mungkin tidak selalu kita lihat. Termasuk bekerja sebagai influencer yang terlihatnya, sangat mudah untuk dilakukan.
(Kirana Putri, foto: economist.com)
