Oke, sebelum kita membahas lebih lanjut soal Epstein Files, ada baiknya kita bahas dulu tentang siapa itu Epstein?
Melansir dari beberapa situs media asing, Jeffrey Epstein adalah mantan guru matematika yang kemudian beralih profesi menjadi penasihat finansial yang juga mengelola harta kekayaan dari klien-kliennya yang masuk dalam jajaran orang-orang super kaya di dunia.
Meskipun latar belakang bisnisnya tidak pernah benar-benar dijelaskan secara transparan, tapi ia berhasil membangun citra sebagai orang dalam dari kaum elite dunia. Mulai dari tokoh politik, pebisnis, sampai selebriti.
Berkat kariernya ini, Epstein diketahui memiliki banyak properti mewah yang tersebar di berbagai tempat. Mulai dari New York, Florida, Paris, bahkan ia juga punya pulau pribadi di Karibia yang kemudian dikenal luas sebagai bagian dari kasusnya.
AWAL MULA KEMUNCULAN KASUSNYA
Kasus Epstein pertama kali tercium publik pada tahun 2005 di Florida. Kala itu, ada orangtua dari seorang remaja perempuan melapor bahwa anaknya direkrut oleh Epstein untuk “memijat” lalu dilecehkan secara seksual. Dan laporan ini ternyata membongkar ice berg yang selama ini tersembunyi di balik nama besar Epstein.
Melalui investigasi besar, polisi menemukan bahwa ternyata remaja perempuan itu bukan satu-satunya korban dari Epstein. Melainkan ada puluhan remaja lainnya. Pola perekrutannya adalah dari teman ke teman. Misalnya remaja A direkrut, Epstein kemudian meminta remaja A ini untuk mengajak temannya yakni remaja B. Begitu seterusnya.
Bingung? MOSTEAM jelaskan lagi lebih detail sedikit ya. Jadi, Epstein memang jago dalam menjalankan modusnya. Ia menunjuk beberapa orang yang kemudian menjadi timnya untuk menyisir orang-orang di sekitar Florida yang umumnya berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.
Epstein sendiri memang pintar dalam menjaga citra dirinya. Ia dikenal sebagai sosok penting dan kaya, tetapi sangat rendah hati. Ia pun dikenal ramah dengan tetangga, komunitas, sekolah dan lain sebagainya.
Hal inilah yang kemudian menjadi modal utama untuk menjalankan modusnya. Karena ia sudah mendapat kepercayaan dari orang-orang yang jadi target operasinya. Tidak terkecuali para remaja ini. Orangtua mereka juga percaya pada Epstein karena sosoknya dikenal baik dan sangat positif.
Apalagi iming-iming uang tentu menjadi angin segar bagi mereka yang berasal dari kalangan tersebut. Itulah kenapa makanya, modus operandi yang dilakukan Epstein sangat mulus. Terlebih setelah para remaja ini direkrut, mereka juga diiming-imingi bisa mendapatkan bonus jika berhasil mengajak temannya.
Di setiap perekrutan, caranya sama. Yakni hanya untuk memijat tubuh Epstein. Layaknya kita saat kecil, misalnya diminta oleh orangtua kita atau om dan tante untuk memijat kaki mereka kemudian setelah selesai akan dapat imbalan. Konsepnya kurang lebih sama seperti itu.
Kembali lagi ke pelaporan, berkat investigasi ini Epstein pun menerima dakwaan pada tahun 2008. Tapi sayangnya, hukuman yang diberikan padanya terhitung sangat ringan. Ia memanfaatkan plea deal yang kemudian sangat kontroverisal. Di mana ia mengaku bersalah dan karena pengakuannya ini, hukuman yang ia terima jadi ringan bahkan ia tetap bisa bekerja di luar penjara.
Hal inilah yang menjadi titik awal kecurigaan publik soal perlakuan istimewa terhadap Epstein.

(Foto: 19thnews.org)
