Kalahkan ‘The Little Mermaid’, Ini Fakta Menarik Soal Film Animasi ‘Anastasia’

Berawal dari rivalitas sengit dengan Disney, kini Anastasia justru resmi dirayakan sebagai bagian dari keluarga besar Disney.

Momen mengharukan terjadi di panggung D23 2026 kemarin.

Alyssa Fox, aktris Broadway yang dikenal sebagai pemeran Elsa di musikal panggung ‘Frozen’, tampil membawakan lagu “Journey to the Past” dari film animasi Anastasia (1997) di Disney Rewind Concert, salah satu program spesial dalam rangkaian acara D23.

Momen ini sukses bikin banyak penggemar lama Anastasia terharu, karena secara simbolis menandakan film ini kini benar-benar dirangkul sebagai bagian dari keluarga besar Disney.

Padahal, siapa sangka, dulunya Anastasia justru lahir sebagai “musuh” Disney yang sengaja diciptakan untuk menyaingi kedigdayaannya di industri animasi musikal.

Pertengahan hingga akhir 1990-an adalah masa keemasan animasi hand-drawn di Hollywood, dipicu oleh rentetan box office raksasa Disney seperti The Little Mermaid, Beauty and the Beast, Aladdin dan The Lion King.

Melihat kesuksesan fantastis ini, banyak studio besar berlomba-lomba membangun “kerajaan animasi” sendiri dan Fox menjadi salah satu yang paling serius mengambil langkah ini.

Menariknya, sosok di balik Anastasia, Don Bluth, sebenarnya adalah mantan animator Disney sendiri. Ia memilih keluar dari Disney pada 1978 bersama rekannya, Gary Goldman, karena merasa gaya kreatif Disney kala itu terlalu konservatif.

Setelah sempat sukses lewat studio independennya, Sullivan Bluth, lewat film seperti The Land Before Time dan An American Tail. Sayangnya, rentetan film Bluth berikutnya justru gagal di box office, memaksa studionya gulung tikar pada 1995.

Melihat momentum animasi 2D yang sedang panas-panasnya, Fox pun membuat investasi besar-besaran dengan merekrut Bluth dan Goldman pada 1994, membangun studio senilai puluhan juta dolar seluas 66.000 kaki persegi di Phoenix, Arizona, lengkap dengan 300 seniman animasi profesional.

Fox Animation Studios pun resmi lahir dengan misi jelas, yaitu menantang dominasi Disney di industri animasi musikal.

(BACA JUGA: Setelah 29 Tahun, ‘Anastasia’ Akhirnya Dirayakan Sebagai Bagian dari Disney)

Ide untuk mengadaptasi kisah Anastasia sebenarnya datang dari CEO Fox Filmed Entertainment kala itu, Bill Mechanic.

Bluth dan Goldman awalnya diberi pilihan proyek dari sederet properti milik Fox, termasuk adaptasi The King and I dan My Fair Lady, namun keduanya menilai judul-judul klasik itu kurang cocok untuk ditransformasikan jadi animasi.

Mereka akhirnya memilih mengadaptasi drama Anatole Litvak berjudul Anastasia (1956), dengan menambahkan sentuhan a la Pygmalion, yaitu transformasi Anya dari gadis biasa menjadi sosok bangsawan anggun, formula klasik yang juga sering dipakai Disney sendiri di film-film princess mereka.

Fox sengaja merilis Anastasia bertepatan dengan rilis ulang The Little Mermaid oleh Disney pada November 1997, langkah kompetitif yang cukup berani kala itu.

Meski bersaing langsung, Anastasia justru berhasil meraih box office solid, meraup USD 140 juta di seluruh dunia dari budget produksi USD 53 juta, menjadikannya film paling menguntungkan sepanjang karier Bluth sekaligus satu-satunya film sukses besar dari Fox Animation Studios.

Perjalanan panjang inilah yang membuat momen penampilan “Journey to the Past” di D23 2026 terasa begitu bermakna.

Setelah hampir tiga dekade dianggap sebagai “saingan,” kini Anastasia akhirnya mendapat tempat yang layak dalam semesta besar Disney, sebuah babak baru yang mungkin tak pernah dibayangkan oleh Don Bluth sendiri saat pertama kali memutuskan keluar dari Disney puluhan tahun silam.

(Annisa Larasati, foto: imdb.com)

Share