Kolaborasinya dengan Zoe Kazan membuat Pugh tak hanya berperan sebagai Cathy Ames, tetapi juga ikut terlibat dalam perjalanan kreatif serial ini sejak awal.
Florence Pugh melihat East of Eden sebagai salah satu proyek yang membantunya berkembang, bukan hanya sebagai aktris tetapi juga sebagai kreator.
Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, Pugh mengungkap bahwa kolaborasinya dengan Zoe Kazan dalam adaptasi novel John Steinbeck tersebut justru memberinya dorongan kepercayaan diri yang besar.
Pugh pertama kali membaca naskah East of Eden pada 2020, ketika Kazan menghubunginya untuk memerankan Cathy Ames. Namun, tawaran tersebut bukan sekadar ajakan untuk berakting.
Kazan mengundang Pugh untuk ikut dalam perjalanan kreatif proyek tersebut sejak tahap awal, sesuatu yang membuat Pugh merasa dipercaya untuk berkembang lebih jauh sebagai seorang performer.
Menurut Pugh, kesempatan untuk terlibat dalam proses kreatif dari awal hingga produksi membuatnya merasa lebih berani mengambil ruang.
Ia melihat peran Cathy sebagai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan akting sekaligus belajar berkontribusi di balik layar. Pugh kemudian juga menjadi executive producer untuk serial tersebut.
Kazan sendiri sejak awal memang hanya membayangkan Pugh sebagai Cathy. Kepada The Hollywood Reporter, Kazan mengatakan bahwa ia tidak memiliki pilihan cadangan untuk karakter tersebut.
Menurutnya, Pugh memiliki kombinasi yang tepat untuk menggambarkan Cathy seperti yang dideskripsikan Steinbeck: terlihat feminin dan lembut dari luar, tetapi memiliki sisi yang dingin dan kuat di baliknya.
Kolaborasi keduanya akhirnya berkembang menjadi hubungan kreatif yang saling menguatkan. Pugh merasa kepercayaan yang diberikan Kazan membuatnya semakin yakin terhadap kemampuannya sendiri.
Sementara Kazan juga mengatakan bahwa keputusan Pugh untuk bergabung justru membuatnya semakin percaya diri bahwa versi East of Eden yang ingin ia buat bisa benar-benar diwujudkan.
Hal tersebut menjadi penting karena Cathy Ames merupakan salah satu karakter paling kompleks dalam novel Steinbeck. Alih-alih sekadar menggambarkannya sebagai sosok jahat, Pugh tertarik mengeksplorasi sisi manusia dari karakter tersebut.
Baginya, karakter yang menarik bukan selalu karakter yang mudah disukai, melainkan karakter yang memiliki banyak lapisan dan kontradiksi.
Pendekatan tersebut juga menjadi bagian penting dari adaptasi Kazan. Serial tujuh episode Netflix ini memberikan ruang yang lebih luas untuk menggali kehidupan Cathy dan hubungan antarkarakter dibandingkan film adaptasi 1955.
Kazan ingin mempertahankan kompleksitas novel sekaligus memberikan perspektif yang lebih mendalam terhadap karakter yang selama ini sering diposisikan sebagai antagonis.
Bagi Pugh, pengalaman mengerjakan East of Eden akhirnya menjadi lebih dari sekadar kesempatan memainkan karakter besar.
Proyek ini memberinya ruang untuk tumbuh, mengambil keputusan kreatif dan membangun kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri. Sebuah proses yang dimulai dari satu tawaran sederhana dari Kazan enam tahun sebelumnya.
(Annisa Larasati, foto: vogue.com)
