Selamat tahun baru 2026!
Bagaimana momen akhir tahun 2025 kalian? Seperti apa keseruannya? Apakah kamu banyak menghabiskan waktu bersama keluarga? Pasangan? Atau justru teman-teman?
Ketika memasuki akhir tahun, mayoritas orang akan membuat daftar resolusi yang ingin mereka capai di tahun 2026. Mulai dari ingin hidup lebih sehat, ingin punya karier yang lebih baik, mungkin juga pasangan yang sesuai dengan kriteria dan kebutuhan kita, intinya adalah kita ingin punya hidup yang lebih baik.
Tapi, tahukah kamu? Ternyata, menjalani kehidupan di awal tahun justru adalah hal yang berat atau sulit, lho!
Awal tahun sering dianggap sebagai momen paling “segar” dan tepat untuk memulai sesuatu yang baru. Namun, banyak orang justru menganggap awal tahun adalah momen yang berat secara emosional dan mental.
Kenapa? Karena ada banyak ekspektasi yang datang secara bersamaan. Ibarat perlombaan lari, ketika tombol mulai dibunyikan, kita tidak punya pilihan selain berlari. Tetapi sayangnya, pikiran kita belum benar-benar siap untuk berlari.
Sehingga ketika tubuh berlari, pikiran kita justru tidak fokus pada proses lari yang kita lakukan. Sepanjang berlari pikiran kita cenderung bercabang. Apa yang harus dilakukan lebih dulu? Apakah harus fokus pada garis finish? Atau pada proses berlarinya?
Pakar psikologi dari Universitas Airlangga yakni Atika Dian Ariana, MSc, MPsi, bahkan menyebut kalau awal tahun sering memicu tekanan psikologis. Terutama ketika kita merasa bahwa harus lebih baik dari tahun sebelumnya.
“Idealnya awal tahun menandai babak baru yang positif. Sayangnya, tekanan dari tujuan atau resolusi yang mungkin tidak tercapai di tahun sebelumnya, membuat kita merasa perlu menaikkan kapabilitas diri agar hal tersebut tidak lagi terjadi di tahun yang baru. Ada rasa optimis di dalam pesimis,” tuturnya seperti dikutip dari situs resmi Universitas Airlangga yakni unair.ac.id.
Atika juga mengatakan bahwa kehadiran media sosial di tengah kehidupan manusia turut menjadi salah satu penyebab munculnya tekanan ini.
“Perbandingan sosial di paltform media sosial dapat meningkatkan kecemasan. Jika kita kesulitan menyaring informasi ini, lebih baik beristirahat dari media sosial dan fokus pada interaksi di dunia nyata.”
Maksud di balik pernyataan ini adalah, kita seringkali mengukur kesuksesan atau pencapaian berdasarkan konten yang muncul di media sosial. Rasanya kalau kita tidak bisa meraih kesuksesan seperti yang dipertontonkan oleh konten-konten di media sosial, artinya kita adalah manusia gagal.
Sedangkan pencapaian dan kesuksesan setiap orang itu prosesnya berbeda-beda. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu kenapa awal tahun jadi momen yang berat bagi banyak orang.
TRANSISI ADALAH HAL YANG MELELAHKAN
Lebih lanjut kenapa awal tahun adalah momen yang berat bagi banyak orang adalah karena adanya transisi.
Pergantian tahun itu bukan cuma soal kalender. Tapi juga perubahan ritme, energi sosial dan ekspektasi.
Tubuh manusia pada dasarnya tidak suka perubahan atau transisi mendadak. Kita butuh waktu untuk recalibrate. Sehingga ketika tahun berganti, tubuh masih butuh waktu untuk beradaptasi atau memproses. Tetapi situasi dan kondisi membuat seakan-akan kita tidak lagi punya waktu untuk itu.
Seorang penulis buku bernama Jodi Wellmann, MAPP, mengatakan bahwa ada sebuah teori bernama “Fresh Start Effect”. Teori ini mengungkapkan bahwa banyak orang merasa terdorong untuk berubah atau menjadi versi baru, saat ada landmark temporal seperti awal tahun.
Padahal, dorongan ini bisa membuat kita menciptakan ekspektasi tinggi yang tidak sesuai dengan realitas harian.
KESADARAN DAN DUKUNGAN SOSIAL ADALAH SOLUSI KUNCI
Tekanan yang mungkin dialami oleh banyak orang di awal tahun, bisa diringankan dengan beberapa cara. Pertama praktik kesadaran dan yang kedua adalah aktivitas spiritual.
“Kesadaran membantu kita untuk tetap hadir dan meminimalkan kekhawatiran tentang masa depan. Sementara itu, praktik spiritual dapat menumbuhkan rasa syukur,” kata Atika.
Atika menambahkan, bahwa peran keluarga yang suportif seringkali menjadi pihak pertama yang memerhatikan perubahan perilaku kita.
“Namun jika dukungan keluarga tidak tersedia, maka jaringan sosial yang kuat bisa menggantikannya. Seperti pasangan, sahabat, atau rekan kerja.”
Sebagai penutup, Atika juga mengatakan bahwa kunci sukses hidup baik di awal tahun adalah dengan menjadikan momen refleksi diri sebagai sarana untuk menumbuhkan rasa syukur daripada kritik terhadap diri sendiri.
Artinya, jika kita bisa merefleksikan semua yang terjadi dalam hidup kita di tahun sebelumnya dengan sehat, mkaa kita akan lebih mudah dalam merencanakan masa depan. Karena kita tidak menganggap masa lalu sebagai kegagalan. Melainkan perjalanan yang sepatutnya kita hargai.
(Andiasti Ajani, foto: unsplash.com/francisco moreno)
