Tahun baru sering dimanfaatkan oleh banyak orang untuk memulai hidup baru. Misalnya dengan memperbaiki pola pikir, merawat diri, makan makanan yang lebih sehat, banyak berolahraga dan lain sebagainya.
Langkah ini memang sangat tepat untuk dilakukan. Tetapi, selain memperbaiki diri, ada satu hal yang sering dilupakan orang padahal perlu juga untuk diperbaiki. Yakni rumah.
Perbaiki di sini bukan soal renovasi. Tapi lebih ke menata kembali rumah agar energi yang hadir di tahun baru bisa mendukung hidup orang-orang yang tinggal di rumah tersebut.
Apalagi, tahun 2025 sepertinya menjadi tahun yang berat bagi hampir semua orang. Jargon “in this economy” yang muncul di media sosial bisa menjadi bukti dari kesulitan yang dihadapi oleh banyak orang di tahun 2025.
Sedangkan, bagaimana rumah kita didesain, ternyata sangat memengaruhi kesehatan mental orang-orang yang tinggal di rumah tersebut.
Situs MDPI pernah mengunggah sebuah jurnal yang mengatakan bahwa desain rumah sangat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Mulai dari suasana hati, gejala depresi, kualitas tidur, bahkan kesejahteraan secara umum.
Berbagai studi juga menunjukkan bahwa aspek desain rumah seperti kualitas udara, layout dan pengaturan ruang secara signifikan memengaruhi kesehatan mental dan emosi penghuninya.
Coba kamu ingat lagi. Kalau di tahun 2025 kamu sering mengalami masalah susah tidur, mungkin itu adalah tanda kalau ada sesuatu yang harus diubah di kamar tidurmu.
Selain itu, banyaknya aktivitas yang dilakukan di rumah seringkali membuat sebuah ruangan atau benda jadi tidak sesuai fungsinya. Mulai dari kamar tidur yang juga jadi ruang kerja, ruang keluarga jadi tempat untuk tidur, meja makan yang tidak berfungsi sebagai meja makan dan lain sebagainya.
Karena itu, untuk memulai hidup baru di tahun 2026 kamu mungkin perlu menata ulang beberapa hal. Salah satunya adalah memberi ruang untuk bernapas.
CIPTAKAN RUANG UNTUK BERNAPAS
Setelah membaca penjelasan sebelumnya, hal pertama yang terbersit di dalam kepalamu adalah aku harus mengatur ulang posisi barang di rumah. Atau mungkin menyingkirkan beberapa barang yang sudah tidak terpakai dan ganti dengan barang baru yang mungkin lebih kamu butuhkan.
Tapi percayalah. Kalau kamu melakukan itu tapi isi kepalamu tidak dibenahi, maka hasilnya akan sama saja. Karena sejatinya, yang harus kamu lakukan adalah membuat rumah sebagai tempat untuk pulang.
Tempat yang bisa membuat pikiranmu tenang, lega, nyaman dan aman. Jadi ini bukan soal mengubah posisi atau barang tertentu, tapi soal bagaimana kamu membuat rumah jadi sebuah ruang yang berfungsi.
Meskipun tidak bisa dipungkiri mengubah tataan atau barang di dalam rumah, ada pengaruh positifnya untuk mentalitas penghuni. Tapi sifatnya hanya dorongan emosional sementara saja. Tidak otomatis menyelesaikan kelelahan mental atau tekanan yang belum diproses.
Banyak desainer interior menekankan bahwa home reset bukan soal mengubah, mengganti, atau membeli barang baru. Melainkan memberi ruang yang lebih kosong.
Ketika ada ruang yang lebih kosong di rumah, maka stimulasi visual yang kamu rasakan akan berkurang. Pendekatan seperti ini dipercaya membantu tubuh dan pikiran kembali ke ritme yang lebih tenang.
Dan percayalah. Jika rumahmu punya ruang kosong, artinya rumahmu bisa bernapas lebih lega. Ketika rumahmu bisa bernapas lebih lega, maka kamu sebagai penghuni juga akan merasa tidak terkungkung. Baik secara fisik maupun mental.
(Andiasti Ajani, foto: unsplash.com/vitaly gariev)
