MOSTROOPS, kalian pasti sudah mendengar kabar kalau novel legendaris karya Jane Austen, yakni Pride & Prejudice, diadaptasi jadi serial oleh Netflix. Serial ini direncanakan tayang tahun ini, meskipun belum ada tanggal pastinya.
Ngomong-ngomong soal Jane Austen, MOSTEAM tiba-tiba ingin mengangkat profil singkat tentang Austen yang mungkin beberapa dari kalian juga belum tahu.
Melansir dari britannica.com, Jane Austen lahir pada tahun 1775 di sebuah desa kecil bernama Steventon, di Inggris. Ia lahir di keluarga yang kaya akan cerita. Ayahnya, yang merupakan seorang pendeta, disebut sangat mencintai buku. Di rumahnya bahkan ada perpustakaan pribadi yang berisi koleksi buku milik ayahnya.
Karena itu, sejak kecil Austen hidup dikelilingi oleh buku. Di sisi lain, sang ibu disebut punya sifat yang lucu dan menyenangkan. Sehingga Austen kecil tumbuh di lingkungan yang sangat sehat, di mana sisi intelektualitasnya terbangun, tetapi ia juga pandai dalam bersosialisasi. Bukan tipe kutu buku yang antisosial.
Saat tumbuh menjadi seorang remaja, Austen mulai suka menulis cerita pendek, parodi, satire, sampai drama lucu. Namun, karya-karya ini hanya ia tunjukkan kepada keluarga dan sahabatnya. Intinya, saat itu ia menulis hanya karena suka, bukan karena ingin jadi penulis terkenal.
Sampai akhirnya, ketika ia menginjak usia 20-an, Austen membuat sebuah cerita berjudul ‘First Impression’ yang menjadi cikal bakal dari ‘Pride & Prejudice’.

(Foto: forumauctions.co.uk)
CINTA, KELAS SOSIAL DAN REALITA HIDUP
Sebagai penulis novel romantis, hidup Austen juga tidak luput dari cerita. Melansir dari beberapa situs, Austen pernah jatuh cinta dan hampir menikah. Namun, karena faktor ekonomi dan status sosial, ia sadar bahwa menikah tanpa cinta (perjodohan dengan orang kaya) membuat finansialnya aman.
Tetapi kalau menikah dengan cinta, maka risiko hidup susahnya tinggi. Dan tahu apa yang ia pilih? Tidak menikah! Ini tentu pikiran dan keputusan yang sangat berani untuk perempuan di abad ke-19.
Itulah kenapa makanya, rata-rata tokoh perempuan di dalam novel karya Austen selalu punya integritas. Di mana cinta harus seimbang dengan harga diri.
Di sisi lain, pemikiran ini muncul karena Austen sempat mengalami masa sulit dalam hidup pasca ayahnya meninggal. Karena tidak ada lagi yang mencari nafkah, keluarganya jatuh miskin. Ia harus pindah-pindah domisili hingga membuatnya berhenti menulis selama beberapa tahun.
Sampai akhirnya di tahun 1809, Austen pindah ke rumah kecil milik saudara laki-lakinya yang ada di daerah Chawton. Di rumah ini Austen punya kamar sendiri dan di kamar itu ada sebuah meja kecil yang bisa ia gunakan untuk kembali menulis. Pasca pindah ke rumah ini, hidupnya juga jadi lebih stabil.

(Foto: housecrazysarah.life)
Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1811 novel pertamanya terbit. Judulnya adalah ‘Sense and Sensibility’. Namun, karena situasi saat itu, Austen tidak bisa mencantumkan namanya sebagai penulis. Ia memakai nickname “By a Lady” sebagai nama penulis.
Novel tersebut bisa dibilang laku di pasaran. Tetapi tidak membuatnya jadi super kaya dan terkenal. Karena ia masih terus hidup dalam kesederhanaan. Meski begitu, ia tidak pernah berpikir untuk berhenti. Karena setelah itu ia terus merilis beberapa novel seperti ‘Emma’, ‘Persuasion’, serta yang paling istimewa, ‘Pride & Prejudice’. Dan ia tidak lagi menggunakan nickname, tetapi mulai memakai nama Jane Austen.
Sayangnya, hidup Austen di dunia tidak lama. Karena ia tercatat meninggal dunia di usia 41 tahun pada tahun 1817. Artinya, hanya enam tahun pasca ia merilis novel pertamanya. Mirisnya lagi, saat meninggal dunia, Austen belum jadi penulis legendaris. Masih sangat jauh dari itu.
