Jane Austen, Penulis Novel Romantis yang Hidupnya Dramatis

ERA VICTORIAN JADI TITIK BALIK YANG DRAMATIS

Beberapa tahun setelah Austen meninggal, Inggris memasuki era Victorian (1830-1870). Di era ini, kehidupan masyarakat kelas menengah naik. Zaman juga mulai berubah secara perlahan. Karena itu, banyak masyarakat, khususnya perempuan, mulai membaca buku. Termasuk novel.

Hal inilah yang membuat karya Austen naik. Karyanya terus dicetak ulang, masuk kurikulum informal, dibahas oleh para kritikus, hingga disukai para elit budaya.  Di titik ini nama Austen naik. Dari penulis bagus jadi penulis penting. 

Meski begitu, popularitas Austen masih berada di antara kalangan terbatas. Sampai akhirnya di abad ke-20, ledakan kedua terjadi. Di mana novel-novel karya Austen mulai masuk ke banyak universitas sebagai salah satu bahan kajian sastra Inggris.

Karya Austen dipelajari karena teknik narasinya, karakter yang diciptakan, hingga struktur penulisan cerita yang ia buat. Di fase ini, karya-karya Austen masuk ke dalam jajaran sastra klasik. 

ADAPTASI FILM DAN TELEVISI JADI LEDAKAN GLOBAL

Setelah bertahun-tahun jadi sastra klasik, karya-karya Austen mulai berpindah jadi karya populer berkat adaptasi film dan televisi pada tahun 1995. Dan karya yang diadaptasi ini adalah ‘Pride & Prejudice’.

Nama Jane Austen berubah menjadi seksi. Tokoh Mr. Darcy jadi crush global. Romance klasik jadi tren lagi. Sejak itu, nama Jane Austen dikenal juga sebagai pop culture icon. Bahkan hingga hari ini.

(Foto: imdb.com)

ALASAN KENAPA JANE AUSTEN DICINTAI

Austen bukanlah tipe penulis hopeless romantic. Setiap cerita dan tokoh yang diciptakan benar-benar seperti manusia, bukan princess perfect. Contohnya, Elizabeth Bennet karakternya pintar, sok kuat, tapi kadang salah juga. Begitu juga dengan Emma yang sedikit manipulatif tapi terus berkembang.

Selain itu, Austen dianggap sebagai pionir dalam menyuarakan suara perempuan. Tidak ada drama heroik dan sensasi, tetapi Austen muncul sebagai novelis perempuan yang kuat, tajam dan cerdas.

Makanya karya yang ia ciptakan bukan tipikal romance cengeng. Tapi lebih menekankan pada harga diri, kelas sosial dan logika hidup yang berkaitan dengan cinta. Saking ikoniknya, orang bahkan menyebutnya tanpa Austen tidak akan ada kisah Bridget Jones, rich and poor trope, enemies to lovers, atau slow-burn romance.

Tidak hanya itu. Latar belakang Austen yang bukan bangsawan, bukan orang kaya, bukan selebriti dan bukan anak orang penting juga berhasil menarik perhatian publik. Ia hanya perempuan desa yang suka membaca dan menulis secara konsisten. 

(Annisa Larasati, foto: nationaltoday.com)

Share