Buntut Flexing Keluarga, Ahn Ha Young Mundur dari ‘The Trauma Code: Heroes on Call’

Ternyata, rasa bangga yang Ahn Ha Young miliki atas latar belakang keluarganya, justru membawanya ke lubang hitam yang membuat kariernya terganggu.

Aktris Ahn Ha Young resmi mundur dari serial Netflix The Trauma Code: Heroes on Call musim kedua dan ketiga, seperti yang dikonfirmasi langsung oleh pihak Netflix pada 1 September 2026.

Keputusan ini muncul tak lama usai Ha Young terlibat kontroversi besar terkait latar belakang keluarganya, yang ternyata menyimpan sejarah kelam yang tidak ia duga sebelumnya.

KRONOLOGI KONTROVERSI

Kontroversi ini bermula pada 7 Agustus 2026, ketika Ha Young tampil di acara televisi KBS2 Problem Child in House.

Dalam kesempatan itu, ia bercerita bangga soal keluarganya yang merupakan “keluarga dokter empat generasi”, termasuk menyebut buyutnya, Ahn Sang Ho, sebagai sosok yang membuka klinik pengobatan Barat pertama di Hanyang (kini Seoul) dan bahkan pernah mengobati Kaisar Gojong.

Cerita yang awalnya dimaksudkan sebagai momen kebanggaan keluarga ini justru memicu rasa penasaran netizen untuk menelusuri lebih dalam sosok sang buyut.

Hasilnya, netizen kemudian menemukan bahwa Ahn Sang Ho tercatat sebagai anggota dewan penasihat organisasi pro-Jepang, Daejeong Chinmokhoe (Taisho Friendship Association), pada 1916, organisasi yang mendukung penjajahan Jepang atas Korea sepanjang 1910-1945.

Agensi Ha Young, Bistus Entertainment, awalnya membantah tuduhan ini sebagai “tindakan tidak berdasar”. Namun, sehari kemudian terpaksa menarik pernyataan tersebut setelah verifikasi kedua mengonfirmasi kebenaran catatan sejarah itu.

Karena itu, Ha Young kemudian mengunggah sebuah surat permintaan maaf yang ia tulis sendiri pada 12 Agustus 2026.

Lewat surat tersebut ia mengakui bahwa selama ini ia hanya mengetahui sepotong-sepotong cerita soal buyutnya dan menyesal telah membanggakan hal tersebut tanpa memahami sejarah kelam masa penjajahan Jepang di Korea.

Kontroversi ini terasa semakin sensitif karena muncul persis menjelang Hari Kemerdekaan Korea (Gwangbokjeol) pada 15 Agustus, hari yang juga jadi peringatan berakhirnya penjajahan Jepang.

Sayangnya, permintaan maaf Ha Young tidak sepenuhnya diterima publik. Sebuah unggahan lama dari 2013 kembali viral, diklaim ditulis oleh cicit lain dari Ahn Sang Ho.

Ia justru mengaku malu dengan latar belakang keluarganya dan menyebut sang buyut sebagai dokter kerajaan yang dicurigai meracuni Kaisar Gojong. Unggahan ini kemudian membuat sebagian netizen semakin mempertanyakan ketulusan ketidaktahuan Ha Young.

(BACA JUGA: Selena Gomez Buka Suara Soal Gugatan Penipuan Startup Wondermind)

Kasus Ha Young ini membuka diskusi lebih luas soal fenomena selebriti Korea yang kerap memamerkan latar belakang keluarga mentereng sebagai bahan pembicaraan di acara varietas maupun sesi promosi.

Menurut laporan EDAILY, risiko reputasi di industri hiburan Korea kini meluas melampaui kesalahan pribadi biasa.

Seperti mengemudi dalam pengaruh alkohol atau kekerasan di sekolah, merambah ke ranah “garis keturunan lintas generasi”, termasuk latar belakang keluarga dan sejarah masa lalu yang bisa muncul kapan saja tanpa diduga.

Kritikus budaya pop, Kim Heon Sik, menyoroti bahwa masyarakat Korea punya kecenderungan khusus untuk memamerkan latar belakang pendidikan dan keluarga sebagai strategi mendekatkan diri dengan publik.

Ia menyarankan agar pembahasan latar belakang personal seorang aktor, baik pendidikan maupun keluarga, dalam kegiatan promosi dan marketing mulai dipertimbangkan ulang, sebagai salah satu cara mencegah risiko reputasi semacam ini muncul di kemudian hari.

Kasus Ha Young menjadi pengingat penting bahwa latar belakang keluarga yang dibanggakan secara terbuka, apalagi tanpa verifikasi menyeluruh terhadap sejarahnya, bisa menjadi bumerang yang berdampak besar terhadap karier seseorang.

Di tengah maraknya tren “family flex” sebagai strategi mendekatkan diri dengan publik, kasus ini menunjukkan bahwa transparansi tanpa kehati-hatian justru bisa berujung petaka, terutama ketika menyangkut isu sejarah yang masih menjadi luka sensitif bagi banyak orang.

(Annisa Larasati, foto: koreaherald.com)

Share