Tren “less is more” mulai menjadi pilihan banyak orang demi mendapatkan kesehatan kulit wajah yang lebih baik.
Masih ingat ketika rutinitas skincare identik dengan sepuluh langkah a la Korea?
Mulai dari cleansing oil, facial wash, toner, essence, ampoule, serum, sheet mask, eye cream, moisturizer, hingga sleeping mask. Semakin banyak produk yang digunakan, semakin serius seseorang dianggap merawat kulitnya.
Namun beberapa tahun terakhir, tren tersebut mulai berubah.
Kini, semakin banyak dermatolog, beauty editor, hingga content creator justru mendorong rutinitas yang jauh lebih sederhana. Alih-alih memakai delapan atau sepuluh produk setiap hari, banyak orang mulai kembali pada tiga langkah dasar: cleanser, moisturizer dan sunscreen saja.
Apa yang membuat dunia skincare kini bergerak ke arah yang lebih minimalis?
Selama bertahun-tahun, industri kecantikan identik dengan konsep layering atau menggunakan banyak produk secara berurutan.
Sayangnya, semakin banyak produk yang dipakai juga berarti semakin besar kemungkinan kulit terpapar berbagai bahan aktif sekaligus.
Menurut American Academy of Dermatology (AAD), penggunaan terlalu banyak produk aktif, terutama retinoid, AHA, BHA, vitamin C dengan konsentrasi tinggi, maupun benzoyl peroxide, dapat meningkatkan risiko iritasi, kulit kering, hingga merusak skin barrier.
Karena itu, AAD menyarankan untuk memperkenalkan produk baru satu per satu dan menghindari kombinasi bahan aktif yang tidak diperlukan.
Perubahan ini melahirkan istilah baru di dunia kecantikan. Namanya adalah skinimalism.
Istilah yang dipopulerkan oleh Pinterest Predicts ini menggambarkan pendekatan skincare yang lebih sederhana. Yaitu menggunakan lebih sedikit produk, tetapi memilih formulasi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan kulit.
Tren ini juga mendorong orang untuk menerima tekstur alami kulit, alih-alih mengejar kulit yang terlihat sempurna setiap saat.
Sejak saat itu, konsep skinimalism terus berkembang dan kini menjadi salah satu pendekatan yang banyak didukung oleh dermatolog.
(BACA JUGA: Ketahui Tahapan Skin Cycling untuk Pemula, di sini!)
Banyak orang mengira semakin banyak kandungan aktif yang digunakan, hasilnya akan semakin cepat terlihat. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.
Dermatolog Dr. Shari Lipner dari Weill Cornell Medicine menjelaskan bahwa penggunaan terlalu banyak bahan aktif dapat membuat kulit mengalami iritasi kronis, sehingga fungsi pelindung alaminya melemah.
Akibatnya, kulit justru menjadi lebih sensitif, mudah merah, terasa perih, bahkan memunculkan jerawat baru.
Fenomena ini sering disebut sebagai overdoing skincare. Bukan istilah medis resmi, tetapi menggambarkan kondisi ketika rutinitas skincare menjadi terlalu kompleks hingga justru merugikan kulit.
Kalau ditanya apa rutinitas skincare paling mendasar, banyak dermatolog memberikan jawaban yang hampir sama.
Menurut American Academy of Dermatology, tiga produk yang paling penting adalah:
- Cleanser untuk membersihkan kulit tanpa merusak kelembapan alaminya.
- Moisturizer untuk membantu menjaga skin barrier tetap sehat.
- Sunscreen dengan SPF minimal 30 yang digunakan setiap pagi, bahkan saat cuaca mendung.
Produk lain seperti serum, retinol, exfoliant, maupun essence tetap dapat digunakan, tetapi sifatnya lebih spesifik sesuai kebutuhan masing-masing kulit.
Menariknya, tren ini turut mengubah cara brand dalam mengembangkan produk.
Jika beberapa tahun lalu satu produk hanya fokus pada satu manfaat, kini semakin banyak produk yang menawarkan fungsi ganda. Misalnya, moisturizer yang sekaligus mengandung ceramide, niacinamide dan peptide, atau sunscreen yang juga berfungsi sebagai pelembap.
Pendekatan ini membuat rutinitas skincare menjadi lebih ringkas tanpa harus mengorbankan efektivitas.
Bahkan, menurut laporan tren kecantikan dari Mintel, konsumen kini semakin mencari produk multifungsi yang dapat mengurangi jumlah langkah dalam rutinitas harian mereka.
Dan rutinitas skincare yang sederhana bukan berarti kurang peduli terhadap kesehatan kulit.
Justru sebaliknya, pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa kulit memiliki kemampuan untuk menjaga dan memperbaiki dirinya sendiri selama tidak terus-menerus dibebani dengan terlalu banyak produk.
Bagi sebagian orang, rutinitas tiga langkah mungkin sudah cukup. Sementara bagi yang memiliki masalah kulit tertentu, tambahan serum atau treatment tetap diperlukan.
Kuncinya bukan pada seberapa banyak produk yang digunakan, tetapi apakah setiap produk benar-benar memiliki fungsi yang jelas.
(Kirana Putri, foto: magnific.com/pikisuperstar)
