Masih dalam rangka mengenang kepergian desainer Valentino Garavani, kali ini MOSTEAM ingin mengulik lebih dalam soal kehidupan pribadi sang desainer.
Yakni melalui rumah pribadinya yang ada di kawasan Prancis. Pada tahun 2012 lalu, Garavani mengizinkan media Architectural Digest untuk mengintip dan meliput semua sudut dari rumah tersebut.
Mengejutkannya, meskipun Garavani adalah seorang Italia sejati, tetapi rumah ini justru menampilkan budaya asing yang konon, sangat ia kagumi.
“Ketika saya pergi ke Beijing untuk pertama kalinya pada tahun 1993, saya melihat koleksi baju Tiongkok kuno. Dan momen itu, menjadi salah satu momen emosional terbesar yang pernah terjadi dalam hidup saya,” katanya.

Sejak saat itu, Garavani mengaku jatuh cinta dan sangat menghormati budaya Cina. Saking cintanya, ia tidak ragu untuk membuat penampilan rumahnya padat dengan unsur budaya Cina. Mulai dari desain bangunannya, sampai interior dan perabotan.
Rumah milik Garavani ini, sebetulnya adalah bangunan lama yang bernama Château de Wideville. Namun, ia secara resmi membeli rumah ini di tahun 1995 silam. Rumah ini sendiri sudah ada dari abad ke-17 dan dibangun oleh Menteri Keuangan Raja Louis XIII. Kemudian saat takhta dipegang oleh Raja Louis XIV, rumah ini dipakai untuk tempat tinggal salah satu selirnya.
Rumah megah ini memiliki delapan kamar tidur. Tepat setelah dibeli, Garavani menunjuk desainer interior bernama Henri Samuel untuk mengubah rumah ini agar lebih nyaman, tanpa menghilangkan unsur mewahnya.

Kemudian Samuel dan Garavani saling bekerja sama untuk menyelesaikan proses renovasi selama kurang lebih satu tahun. Dan sejak ia pensiun di tahun 2008, Garavani konon banyak menghabiskan waktu di rumah ini. Meskipun ia juga punya rumah di negara-negara lain. Mulai dari negara asalnya yakni Italia, Swiss, London dan masih banyak lagi.
Tetapi, dibanding rumah-rumah yang lain, Garavani bisa menghabiskan waktu lebih banyak di sini. Kurunnya bisa beberapa bulan dalam satu tahun. Ia juga tidak jarang menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekat yang mengunjunginya saat akhir pekan.
Saat memasuki rumah ini, sesaat kita akan lupa kalau rumah ini ada di Prancis. Karena seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, hampir semua sudut rumah ini mengusung budaya Cina. Kamu, bisa melihat banyaknya perabotan berbahan keramik khas Asia sebagai dekorasi. Termasuk patung-patung yang memakai kostum Cina.

Menurut Garavani, rumah ini memiliki ragam fasilitas yang sangat mendukung kebutuhannya. Mulai dari taman, ruang serba guna, sampai kandang burung merpati berbentuk menara yang kini, dialihfungsikan menjadi tempat persembunyian untuk dirinya ketika ingin melarikan diri dari hiruk-pikuk.
Di menara ini, Garavani banyak menghabiskan waktu untuk membaca, mendengarkan musik dan merenungkan proyek desain terbarunya. Salah satu karya yang lahir dari menara ini adalah kostum untuk empat produksi New York City Ballet yang debut di gala musim gugur.
“Kami tidak bisa memasang furnitur dan benda-benda biasa dari abad ke-18 di Eropa. Saya mengatakan pada Henri bahwa kita harus melakukan sesuatu yang lebih istimewa,” katanya saat bercerita tentang proses renovasi menara tersebut.
Setelah berdiskusi panjang lebar, ia dan Samuel akhirnya mengambil tema chinoiserie, tapi diarahkan ke sisi yang lebih modern. Garavani kemudian memasang dekorasi yang mengingatkan pada Shanghai tahun 1920-an, menggunakan garis-garis tajam dan kontras grafis.

Selain itu, potret leluhur dari Dinasti Qing yang berwarna-warni juga terlihat menghiasi dinding. Sementara bordes dan galeri tangga yang sempit, memajang layar lipat dan patung bangau. Kemudian untuk jendela dan rak buku, dihiasi oleh pedimen berlapis emas. Lentera besi juga bergantung di seluruh ruangan.
Bahkan sampul katalog lelang Christie’s berwarna merah cinnabar yang memenuhi rak buku pun cocok dengan suasana Asia Timur. Di ruangan ini juga ada peti pernis dari abad ke-19, serta meja ukiran tangan yang berkilauan dengan tatahan mutiara. Plus, ada juga kursi berlengan berlapis beludru yang entah mengapa sangat dibanggakan oleh Garavani.
“Hampir semuanya bergaya Cina. Dan saya rasa ini sangat harmonis,” ujarnya dengan wajah ceria.

Garavani sendiri mulai mengoleksi benda-benda khas Cina pada tahun 1964. Di mana saat itu, ia membeli sebuah patung kuda dari Dinasti Ming. Setelah itu, koleksi benda-benda Cina miliknya terus bertambah.
Bahkan, teman lama Garavani sekaligus brand ambassador Valentino yakni Carlos Souza mengatakan sebagai lelucon, bahwa untuk bisa tidur di malam hari Garavani bukan menghitung domba. Melainkan menghitung porselen.
“Saya hanya mengoleksi barang-barang yang saya anggap indah. Dan jika Anda mau mencari dengan tekun, maka bisa dengan mudah menemukan barang-barang yang indah saat berbelanja,” tuturnya.

(Rendy Aditya, foto: architecturaldigest.com)
