Kisah di Balik Penyanyi Castrato yang Ternyata Tidak Seindah Suaranya

Jika membahas soal penyanyi klasik, maka jenis suara Angel atau castrato tentu tidak bisa dipisahkan. Castrato adalah sebutan untuk penyanyi pria di Eropa (khususnya Italia) pada abad ke-16 sampai 18. 

Suara mereka terdengar sangat indah karena belum akhil baligh atau pubertas. Sehingga suaranya sangat bersih dan tinggi, tetapi didukung oleh kapasitas paru-paru dan kekuatan tubuh pria dewasa.

Suara yang mereka buat terkesan punya kombinasi yang tidak natural. Karena pitch tinggi seperti anak kecil atau perempuan, tetapi kekuatan dan kontrol napas seperti pria dewasa. 

Selama berabad-abad, penyanyi castrato dikenal punya suara yang sangat fleksibel. Karena volumenya besar dan tone-nya juga unik. Bahkan, hingga hari ini suara dari penyanyi castrato tidak bisa ditiru atau direplikasi seratus persen. 

Suara yang paling mendekati adalah countertenor (pakai falsetto) atau rekonstruksi secara digital. Selebihnya? Tidak bisa dan tidak ada.

SISI GELAP PENYANYI CASTRATO

Seperti yang disebutkan pada judul, di balik keindahan suara penyanyi castrato, ada kisah yang sama sekali tidak indah, bahkan menyeramkan. 

Melansir dari journals.openedition.org, untuk mendapatkan suara castrato, para penyanyi pria ini harus menjalani sebuah prosedur mengerikan untuk mempertahankan suara “malaikatnya”. Yakni dikebiri sebelum mereka mengalami masa pubertas.

Ketika beranjak dewasa, setiap laki-laki akan mengalami perubahan di dalam tubuhnya. Salah satunya adalah meningkatnya hormon testosteron. Ketika hormon ini meningkat, laring atau kotak suara jadi membesar.

Hasilnya, pita suara jadi lebih panjang dan tebal. Sehingga, suara jadi lebih berat atau pecah. Itulah kenapa makanya, ketika para remaja memasuki usia 15 sampai 17 tahun, mereka akan mengalami perubahan suara. Dari tinggi ke rendah.

Ketika mereka dikebiri sebelum masa pubertas, tubuh tidak akan memproduksi hormon testosteron dalam jumlah normal. Jika hormon tersebut jumlahnya tidak banyak, maka laring tidak akan membesar layaknya pria dewasa pada umumnya.

Hasilnya? Pita suara tetap pendek dan tipis seperti anak-anak. Artinya, seumur hidup mereka tidak akan kehilangan Angel’s voice.

Langkah ini tentu menjadi kontroversial. Apalagi pada masa itu, sistem medis masih jauh dari sistem medis di zaman sekarang. Sehingga tindakan kebiri bisa dibilang risikonya tinggi sekali. Bahkan bisa menyebabkan seseorang meninggal dunia.

Bahkan pada masa itu, praktik ini sering dikamuflasekan sebagai kecelakaan agar lolos dari jeratan hukum.

(BACA JUGA: 4 Maret 1905 Jadi Hari Bersejarah Bagi Theodore Roosevelt dan Amerika Serikat)

ALASAN DI BALIK PROSES KEBIRI

Selain untuk mempertahankan Angel’s voice, praktik kebiri pada penyanyi castrato ternyata terjadi karena berkaitan dengan norma sosial.

Perempuan Dilarang Bernyanyi di Gereja

Pada masa itu, ada peraturan yang menyatakan bahwa perempuan tidak boleh menyanyi di gereja. Khususnya Gereja Katolik. Namun, iringan musik untuk ibadah tetap membutuhkan suara tinggi. Sehingga solusinya adalah menciptakan suara tinggi pada laki-laki.

Industri Opera dan Obsesi Suara yang Sempurna

Pada era Baroque, opera adalah salah satu jenis hiburan yang elit. Penyanyi castrato bahkan disebut sebagai superstar. Jauh lebih besar dibandingkan dengan penyanyi perempuan. Sehingga bayaran untuk penyanyi castrato sangat tinggi.

Di era tersebut, banyak anak laki-laki berasal dari keluarga miskin. Sehingga mereka rela mengorbankan tubuhnya untuk jadi orang terkenal dan kaya raya. 

Selain itu, untuk menjadi penyanyi castrato, ada banyak anak yang dipaksa untuk menjalani prosedur ini. Artinya mereka terpaksa melakukannya karena industri, bukan karena keinginan sendiri.

Mirisnya lagi, banyak dari penyanyi castrato ini yang justru gagal terkenal dan hidupnya malah sulit. Jadi secara langsung, praktik kebiri yang sudah mereka lakukan sia-sia.

HILANGNYA PENYANYI CASTRATO

Di akhir abad ke-18, terjadi pergeseran moral di mana tubuh bukan lagi alat. Manusia mulai dilihat sebagai individu yang punya hak. Sehingga praktik yang mengorbankan tubuh mulai dianggap tidak manusiawi. Kastrasi anak mulai dipandang sebagai eksploitasi, bukan pengorbanan demi seni. 

Selain itu, larangan untuk perempuan bernyanyi di gereja mulai dilonggarkan. Penyanyi soprano pun mulai banyak bermunculan. Lama-lama, penyanyi castrato tergantikan secara natural.

Tidak hanya itu. Selera musik di Eropa juga mulai berubah. Dari era klasik ke era romantis. Musik yang lebih emosional dan realistis mulai disukai. Sehingga karakter opera yang lebih manusiawi mulai digandrungi.

Sementara suara castrato yang dulu dianggap Angel’s voice mulai terasa terlalu artificial dan kurang relatable. Karena itu, para komposer perlahan-lahan lebih memilih penyanyi soprano dan tenor.

Lebih dari itu, Gereja Katolik di Italia juga mengeluarkan larangan resmi yang menyatakan tidak lagi memperbolehkan penyanyi castrato baru tampil di gereja. Sehingga di akhir abad ke-19, praktik ini secara praktis hilang.

Jika kamu penasaran dan ingin melihat seperti apa penyanyi castrato pada masa itu, kamu bisa mendengar suara Alessandro Moreschi yang sering disebut sebagai “The Last Echo of a Vanished World”.

Moreschi adalah penyanyi castrato yang muncul di akhir tahun 1800-an. Dan ia adalah penyanyi castrato terakhir sekaligus satu-satunya di dunia yang suaranya pernah direkam. 

(Kirana Putri, foto: retetesivedete.ro)

Share