Tanggal 30 Januari 2026 kemarin, the America’s First Lady yakni Melania Trump, merilis sebuah film dokumenter yang diberi judul Melania: Twenty Days to History. Film ini berkisah tentang momen 20 hari jelang pelantikan sang suami yakni Donald Trump untuk menjadi Presiden Amerika Serikat untuk kedua kalinya.
Film ini disutradarai oleh Brett Renner dan diproduseri oleh Melania sendiri. Sayangnya, saat dirilis film dokumenter ini menuai banyak sekali kritik dari berbagai pihak. Mulai dari penonton sampai media massa. Alasannya karena pendekatan film ini lebih menonjolkan kehidupan pribadi Melania, aktivitas publisitas dan perannya di balik layar selama periode tersebut.
Film dokumenter ini konon diproduksi dengan anggaran yang cukup besar untuk sebuah film dokumenter. Yakni sekitar USD 75 juta atau kurang lebih sekitar IDR 1,2 triliun. Termasuk biaya lisensi dan marketing serta promosi yang dikelola oleh Amazon MGM Studios.
ALASAN KENAPA FILM INI KONTROVERSIAL
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa tepat setelah dirilis film ini mendapat banyak kritikan dari berbagai pihak. Berikut ini ada beberapa alasan di balik kritikan-kritikan yang datang.
Gaya dan Tujuan Film Ini Dipertanyakan
Melansir dari independent.co.uk, banyak kritikus menyebut Melania bukan dokumenter biasa. Justru lebih mirip dengan film propaganda dan vanity project. Alasannya karena banyak adegan di film dokumenter ini terlihat staged atau dibuat untuk menunjukkan gaya hidup mewah seorang Melania, daripada kajian mendalam tentang karakter Melania itu sendiri.
Film dokumenter ini juga dianggap lebih fokus pada persoalan mode, jet pribadi dan kehidupan elite ketimbang narasi substansial. Beberapa kritikus bahkan menyebut kalau film ini tidak memberi wawasan yang tulus tentang Melania sebagai pribadi.
Biaya Produksi Ekstrem
Lagi-lagi seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa total nilai yang dikeluarkan untuk proyek ini sangat besar. Bahkan dianggap luar biasa tinggi untuk sebuah film dokumenter. Banyak analisis industri film menyebut bahwa angka ini sangat tidak masuk akal secara eknomi.
Sehingga menimbulkan kecurigaan bahwa pembelian dan investasi terhadap film ini disebut sebagai bentuk pendekatan politik atau upaya menjalin pengaruh melalui keluarga Trump.
Konteks Sutradara yang Bermasalah
Posisi Brett Ratner sebagai sutradara juga menambah daftar panjang kontroversi dari film ini. Karena sebelumnya Ratner sempat hiatus karena kasus dugaan pelecehan seksual yang ia lakukan di tahun 2017. Beberapa kru yang terlibat di dalam film dokumenter ini bahkan enggak dicantumkan namanya di kredit film karena alasan etika.

(Foto: imdb.com)
REAKSI PUBLIK DAN MEDIA
Ulasan atau kritik yang diberikan oleh publik dan media adalah hal yang nyata. Karena hal ini bisa terlihat dari skor atau rating yang diberikan di situs Rotten Tomatoes dan IMDb yang sangat rendah.
Para pengulas juga menulis bahwa film ini sangat monoton, tidak ada substansi, bahkan ada yang menyebut film ini sebagai omong kosong.
Performa Box Office dan Penjualan Tiket
Meskipun dapat rating atau skor yang rendah, tetapi film ini membuka perjalanan dengan pendapatan yang lebih tinggi dari ekspektasi stage dokumenter. Yakni sekitar USD 7 juta atau kurang lebih IDR 17 miliar. Meskipun angka ini terhitung sangat jauh dari pembiayaan yang dikeluarkan oleh Amazon MGM Studios.
Namun, beberapa analis mencatat adanya indikasi pembelian tiket secara bulk atau promosi khusus untuk membuat angka tampak lebih tinggi. Termasuk program gratisan atau tawaran streaming di komunitas tertentu.
Penolakan dan Respon Global
Meskipun angka penjualan di hari pertamanya bagus, tapi sayangnya film ini tidak diterima di banyak negara. Salah satunya adalah Afrika Selatan. Alasannya adalah karena saat ini Amerika Serikat dan Afrika Selatan sedang mengalami ketegangan dalam urusan diplomatik. Dan film ini dianggap menunjukkan dinamika politik global.
Itulah beberapa poin yang membuat film dokumenter ini jadi kontroversial. Karena berbeda dengan film dokumenter yang seharusnya, sisi pribadi Melania justru tidak banyak terlihat di film ini. Sehingga, dengan biaya yang sangat fantastis tidak ada satu pun hal yang bisa diambil oleh penonton pasca menonton film ini.
(Kirana Putri, foto: people.com)
