Menuju Korea Selatan dan Jepang, Indonesia Juga Terancam Degradasi Kelahiran

Pada tahun 2025 kemarin, Badan Pusat Statistik alias BPS, merilis data yang mengejutkan sekaligus tidak mengejutkan. Karena, melansir dari situs resmi BPS, pada tahun 2025 tercatat ada 71,04 persen pemuda Indonesia yang belum menikah per bulan Maret 2025.

Angka ini disebut-sebut meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2024. Karena di tahun itu, data menunjukkan ada 69,75 persen pemuda di Indonesia yang belum menikah.

Pemuda yang dimaksud oleh BPS adalah orang-orang yang ada di kategori usia 16-30 tahun, jika merunut pada UU Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan. 

Masih melansir dari situs yang sama, sejak tahun 2020 jumlah anak muda di Indonesia yang belum menikah secara konsisten terus meningkat. Mulai dari 59,82 persen, naik jadi 61,09 persen pada 2021, naik lagi jadi 64,56 persen pada 2022, naik lagi menjadi 68,29 persen pada 2023, terus naik ke angka 69,75 persen di tahun 2024 dan puncaknya, 71,04 persen di tahun 2025 lalu.

Meningkatnya angka pemuda Indonesia yang belum menikah, maka secara otomatis mencatat bahwa angka pernikahan pemuda di Indonesia yang menikah di rentang tahun tersebut terhitung rendah. Pada tahun 2025 hanya tercatat sekitar 27,92 persen pemuda yang menikah.

Tingginya angka pemuda Indonesia yang belum menikah tentu bukan tanpa alasan. Mulai dari sulitnya ekonomi, gaya hidup, sudut pandang, hingga pergeseran batas usia perkawinan juga menjadi faktor lain yang menyebabkan hal ini. Karena sejak tahun 2016, UU yang mengatur batas usia pernikahan berubah dari 16 tahun menjadi 19 tahun.

Selain faktor-faktor di atas, ideologi atau pemahaman soal pernikahan juga membuat banyak orang berpikir dua kali soal pernikahan. Salah satunya adalah soal budaya patriarki. 

Masih merunut pada data yang sama, pada tahun 2025 ada sekitar 6,91% pemuda yang menjadi kepala rumah tangga, didominasi oleh laki-laki. Artinya, budaya patriarki masih sangat lekat di negara kita.

Di mana laki-laki ditugaskan menjadi penanggung jawab utama keluarga, sedangkan perempuan bertanggung jawab untuk mengurus rumah. Mulai dari memasak, mencuci, beres-beres, sampai mengurus anak, semua dibebankan pada perempuan.

Pemahaman semacam inilah yang membuat banyak pemuda khususnya perempuan, berpikir lebih dari dua kali untuk menikah. Karena menurut mereka, pernikahan semacam ini bukanlah tipe pernikahan yang ideal.

Berkat pembekalan yang mereka dapat dari kesadaran akan value di dalam diri, mereka berpikir untuk lebih baik terlambat menikah daripada menikah dengan orang yang salah.

Hal-hal inilah yang kemudian memicu rendahnya jumlah angka pernikahan di Indonesia selama lima tahun terakhir. Dan, jika angka ini terus meningkat sampai beberapa tahun ke depan, maka Indonesia diprediksi akan mengalami permasalahan seperti yang dialami oleh Jepang dan Korea Selatan sekarang.

Yakni degradasi kelahiran. Karena kalau tidak ada yang menikah, artinya angka kelahiran juga rendah. Jika angka kelahiran rendah, maka regenerasi penduduk di Indonesia juga ikut terancam.

(Kirana Putri, foto: unsplash.com/nathan dumlao)

Share