Masih lekat dalam ingatan betapa mengerikannya penyebaran virus corona beberapa tahun lalu, kini masyarakat dunia kembali diteror oleh kehadiran virus baru bernama nipah.
Virus ini pertama kali teridentifikasi di Malaysia pada sebuah peternakan babi. Menurut laporan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, babi-babi di peternakan tersebut menunjukkan gejala demam, kesulitan bernapas dan kejang. Kabar ini langsung sampai ke telinga World Health Organization (WHO).
Tidak perlu waktu lama, WHO langsung mencatat dan mengidentifikasi bahwa virus ini berasal dari kelelawar buah yang kemudian menularkannya pada babi. Namun uniknya, kelelawar sendiri adalah reservoir alami dari virus nipah. Artinya virus ini tidak menyebabkan sakit pada mereka, tapi justru menularkannya pada hewan lain.
Penyebab utama kenapa virus ini berkembang adalah karena maraknya penebangan hutan secara massive. Hal ini menyebabkan kelelawar kehilangan habitat dan akhirnya pindah mendekati pemukiman manusia serta peternakan. Hal inilah yang kemudian membuat virus Nipah berpindah dari kelelawar ke hewan seperti babi misalnya, lalu dari babi pindah ke manusia.
CARA PENULARAN
Masih melansir dari situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, virus nipah termasuk dalam kelompok Paramyxovirus yang merupakan jenis virus RNA. Kelompok virus ini bisa menyebabkan gangguan penyakit seperti pneumonia, gondongan, hingga campak.
Namun berbeda dengan virus corona, virus nipah memiliki karakteristik khusus yang membuatnya jadi ancaman serius. Sistem penularannya sendiri terjadi jika manusia bersentuhan langsung dengan cairan dari tubuh hewan yang terinfeksi. Mulai dari liurnya, darah, atau urine.
Selain itu, menurut penelitian penularan virus ini juga bisa terjadi melalui konsumsi pangan. Misalnya mengonsumsi daging hewan yang terinfeksi, terutama jika dagingnya tidak matang seratus persen saat dimasak.
Selain penularan dari hewan, virus ini juga bisa menular antar manusia. Kurang lebih konsepnya sama seperti virus corona. Di mana penularan antar manusia bisa terjadi melalui cairan tubuh. Misalnya air liur.
GEJALA INFEKSI VIRUS NIPAH
Jika seseorang terinfeksi virus ini, maka virus tersebut akan berkembang dalam kurun waktu 4-14 hari sebelum gejalanya muncul. Namun gejalanya sendiri bisa bervariasi efeknya di tubuh setiap orang. Ada yang ringan, ada juga yang berat. Dan dalam beberapa kasus juga bisa mengancam jiwa.
Beberapa gejala yang biasanya muncul karena virus ini adalah demam, sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, sesak napas, muntah, sulit menelan dan dalam kasus parah bisa peradangan otak (ensefalitis).
Jika seseorang terkena virus ini dan mengalami gejala ensefalitis, maka efeknya di tubuh adalah rasa kantuk yang berlebihan, sulit berkonsentrasi, disorientasi, hingga perubahan mood yang sangat signifikan. Dan dalam kasus yang paling parah, virus nipah juga bisa menyebabkan kematian.
CARA MENCEGAH
Cara mencegah penularan virus nipah sebetulnya sederhana:
- Hindari kontak langsung dengan hewan yang berisiko. Seperti kelelawar dan babi, karena keduanya adalah sumber penularan utama.
- Pastikan selalu mencuci buah dan sayur sebelum dikonsumsi. Hindari juga makanan-makanan yang mungkin terkontaminasi oleh hewan-hewan terkait.
- Ketika membersihkan kotoran atau urine hewan yang berisiko tertular, pastikan gunakan sarung tangan, sepatu boots dan pelindung wajah seperti masker dan face shield.
- Pastikan untuk selalu rutin mencuci tangan dengan sabun dan air bersih, baik sebelum dan setelah beraktivitas. Terutama jika berinteraksi dengan hewan atau orang yang sakit, khususnya yang mengalami gejala terinfeksi virus nipah.
- Jika ingin makan daging (khususnya babi), pastikan untuk memasak daging tersebut sampai matang seratus persen.
Sampai berita ini diturunkan, kasus virus nipah belum tercatat di Indonesia. Tetapi sebaiknya belajar dari pengalaman saat pandemi kemarin. Penyebaran virus bisa terjadi sangat cepat, sehingga mulailah lakukan hal-hal preventif dari sekarang seperti yang sudah disebutkan di atas. Jadi, jangan diabaikan ya!
(Annisa Larasati, foto: freepik.com/benzoix)
