Pergerakan judi online memang semakin hari semakin meresahkan. Fenomena ini ternyata tidak hanya melanda Indonesia, tetapi juga negara-negara lain, salah satunya adalah Korea Selatan. Mirisnya, masyarakat yang kecanduan judi online di Negeri Ginseng ini justru para remaja yang masih duduk di bangku sekolah.
Melansir dari koreaherald.com, Badan Kepolisian Metropolitan Seoul merilis hasil survei terbaru yang mereka lakukan. Survei ini dilakukan pada 34.770 siswa dan hasilnya ditemukan bahwa 20,9 persen telah menyaksikan perjudian online (terpapar dengan konten judi online atau menyaksikan orang-orang di sekitarnya melakukan judi online).
Dan angka ini disebut meningkat dua kali lipat dibanding tahun lalu. Proporsi siswa yang pernah berjudi sendiri meningkat jadi 2,1 persen. Sedangkan tahun sebelumnya ada di angka 1,5 persen. Sebagian besar kasus melibatkan platform daring dengan ponsel pintar sebagai perangkat utamanya.
Meningkatnya jumlah remaja yang melakukan judi online ini bisa terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa hal. Mulai dari terpapar iklan digital, sampai pengaruh teman sebaya yang sudah melakukan judi online lebih dulu. Rentang usia remaja yang melakukan judi online juga terus menurun (semakin muda).
Bahkan, menurut laporan tersebut, siswa kelas 5 SD adalah kelompok tertinggi yang pertama kali melakukan judi online. Polisi mengatakan bahwa sebagian kecil responden memperoleh dana perjudian melalui pemerasan, penipuan, atau kekerasan di sekolah.
Hal ini menunjukkan bahwa ternyata judi online memberikan dampak pada pelanggaran sekunder. Sekitar 14 persen dari mereka yang berjudi mengatakan, mereka telah berhutang untuk melakukan perjudian ini. Bahkan beberapa di antaranya berhutang pada layanan ilegal atau informal.
Para pejabat tentu menyayangkan hal ini terjadi pada generasi masa depan mereka. Karena itu, mereka menekan sekolah untuk meningkatkan pengawasan, terutama dalam mengelola berbagai risiko digital yang lebih luas.
Para pejabat ini juga menyatakan bahwa meningkatnya kasus judi online pada remaja di Korea Selatan bukan masalah kecil. Tapi banyak efek jangka panjang yang jauh lebih mengkhawatirkan. Salah satunya adalah soal kesehatan mental masyarakat yang saat ini tengah menjadi concern dari pemerintah Korea Selatan.
Pihak kepolisian sendiri berencana untuk merilis kampanye pencegahan dan pemantauan yang terkoordinasi dari bulan Februari hingga April mendatang. Kampanye ini akan dirilis dengan berkolaborasi bersama Kantor Pendidikan Metropolitan Seoul untuk memblokir situs perjudian ilegal, melacak akun yang mencurigakan dan memperluas layanan konseling untuk anak di bawah umur.
Petugas polisi sekolah juga akan menyediakan program pencegahan yang ditargetkan rilis saat tahun ajaran baru dimulai.
(Rendy Aditya, foto: freepik.com/rawpixel.com)
