Penemuan di sebuah gua di Cina memberikan gambaran baru tentang manusia purba misterius ini, dari kemampuan fisik hingga cara mereka bertahan hidup.
Selama bertahun-tahun, Denisovan menjadi salah satu kelompok manusia purba yang paling sulit dipahami. Karena fosil mereka sangat terbatas, sehingga para ilmuwan selama ini lebih banyak mengenal mereka melalui jejak DNA yang ditemukan pada beberapa fosil dan manusia modern.
Kini, penemuan di Bianfu Cave, Provinsi Yunnan, Cina barat daya, memberikan sejumlah petunjuk baru.
Para peneliti menemukan tiga tulang Denisovan, empat gigi, serta lebih dari 1.360 alat batu di dalam gua tersebut.
Salah satu temuan yang paling penting adalah bagian dari tulang lengan bawah atau radius yang hingga kini menjadi tulang radius Denisovan pertama yang berhasil diidentifikasi.
Melansir dari National Geographic, fosil-fosil Denisovan tersebut diperkirakan berusia sekitar 167.000 hingga 134.000 tahun.
Sementara itu, rangkaian alat dan jejak aktivitas manusia di gua tersebut mencakup periode yang lebih panjang, sekitar 190.000 hingga 70.000 tahun lalu.
Bianfu Cave menjadi lokasi penemuan yang sangat penting karena selama ini para ilmuwan kesulitan menghubungkan fosil Denisovan dengan benda-benda yang mereka gunakan sehari-hari. Penemuan baru ini mulai mengisi celah tersebut.

(Foto: cnn.com)
Para peneliti menemukan berbagai alat batu, termasuk scraper, chopper dan hammerstone, serta alat yang terbuat dari tulang.
Lebih dari 60.000 fragmen tulang mamalia juga ditemukan di lokasi tersebut, termasuk sisa-sisa hewan seperti rusa dan kerbau. Temuan ini memberikan indikasi bahwa Denisovan merupakan pemburu yang memanfaatkan sumber daya hewan di lingkungan sekitarnya.
Menariknya, sejumlah alat batu yang ditemukan terlihat dibuat dengan cara yang relatif sederhana.
Alih-alih menghasilkan bentuk yang sangat terstandar, para peneliti melihat indikasi bahwa Denisovan terkadang cukup memukul batu untuk menghasilkan beberapa serpihan tajam, menggunakannya, lalu meninggalkannya.
Sementara itu, tulang radius yang ditemukan memberikan informasi yang jauh lebih spesifik mengenai kemampuan fisik mereka. Bagian tulang yang masih tersisa menunjukkan bahwa titik melekatnya otot bisep berada lebih ke belakang dibandingkan dengan manusia modern.
Menurut analisis para peneliti, struktur tersebut mungkin memungkinkan Denisovan menghasilkan gaya yang lebih besar ketika memutar lengan ke posisi telapak tangan menghadap ke atas, jika ukuran ototnya sama dengan manusia modern.
Dengan kata lain, tulang tersebut memberi gambaran mengenai bagaimana tubuh Denisovan mungkin beradaptasi dengan aktivitas yang mereka lakukan sehari-hari.

(Foto: cnn.com)
Identifikasi fosil-fosil tersebut juga menjadi tantangan tersendiri. DNA tidak berhasil diekstraksi dari tulang yang ditemukan.
Karena itu, para ilmuwan menggunakan analisis protein kuno atau paleoproteomics dengan memeriksa variasi asam amino dalam kolagen yang dapat membedakan kelompok manusia purba.
Hasil analisis menunjukkan adanya penanda protein yang konsisten dengan Denisovan dan tidak ditemukan secara meyakinkan pada Neanderthal maupun manusia modern.
Dua fragmen tulang tengkorak, satu bagian radius dan dua gigi akhirnya dapat dikaitkan dengan kelompok Denisovan.
Penemuan ini juga penting karena memperluas pemahaman mengenai wilayah persebaran Denisovan.
(BACA JUGA: Mengenal Barry Building, Bangunan Bersejarah yang Ditelantarkan)
Sebelumnya, jejak mereka diketahui dari sejumlah lokasi di Asia, termasuk Denisova Cave di Siberia, Dataran Tinggi Tibet, Cina bagian timur laut dan Taiwan. Dan Bianfu Cave kini mengisi salah satu celah geografis penting di Cina barat daya.
Yang membuat kisah Denisovan semakin menarik adalah bahwa mereka ternyata tidak sepenuhnya “hilang”.
Bukti genetik menunjukkan bahwa nenek moyang sebagian manusia yang hidup saat ini pernah kawin silang dengan Denisovan.
Jejak DNA Denisovan bahkan ditemukan pada populasi modern di berbagai wilayah Asia Tenggara dan Oseania.
Salah satu contoh yang paling dikenal adalah varian gen yang membantu masyarakat Tibet beradaptasi dengan kondisi dataran tinggi.
Karena itu, setiap fragmen tulang baru menjadi semacam potongan puzzle untuk memahami siapa sebenarnya Denisovan.
Penemuan di Bianfu Cave ini tidak hanya menambah jumlah fosil yang diketahui, tetapi juga mulai memperlihatkan bagaimana mereka menggunakan tubuh, membuat alat, berburu dan beradaptasi dengan lingkungan.
(Kirana Putri, foto: magnific.com/magnific)
