Katanya, kalau sebuah hubungan berakhir dengan si pasangan saling berteriak satu sama lain, itu adalah perpisahan yang buruk. Tapi tahukah kamu? Justru hubungan yang berakhir tanpa suara itu jauh lebih buruk daripada yang bertengkar hebat. Kondisi ini disebut dengan istilah the quiet ending.
Melansir dari verywellmind.com, quiet ending adalah istilah yang diambil karena terinspirasi dari kisah film. Di mana sebuah film seringkali menyuguhkan tipe akhir cerita yang tidak ditutup dengan resolusi besar, klimaks emosional, atau jawaban pasti.
Ciri-cirinya tidak ada happily ever after, tidak ada konflik yang benar-benar selesai, cerita berhenti di satu momen sederhana, serta banyak pertanyaan dibiarkan mengambang tanpa penjelasan. Contohnya seperti ending film Call Me By Your Name. di mana sang aktor duduk sambil menatap api unggun.
Tidak ada dialog, tapi rasanya sakit sekali. Begitu juga dengan ending di film Before Sunset. Ending-nya digambarkan melalui adegan mengobrol yang diiringi musik dan senyum. No closure, just connection.
Teori quiet ending, tidak muncul karena akademik resmi. Tetapi berkembang lewat kritik film dan sastra, diskusi dari komunitas penonton, analisis psikologi populer, hingga budaya slow storytelling.
Artinya teori ini muncul secara kolektif. Lahir dari pengalaman emosional banyak orang terhadap cerita yang tidak selesai. Dalam kajian psikologi modern, fenomena ini berkaitan dengan riset tentang pemrosesan emosi dan ketidakpastian yang juga banyak dibahas oleh American Psychological Association.
QUIET ENDING SANGAT MENGGANGGU PSIKOLOGIS
Secara mental, quiet ending mengganggu karena menyentuh mekanisme dasar otak manusia. Pada dasarnya, otak tidak suka hal-hal yang menggantung. Karena manusia cenderung ingin kepastian dan penjelasan.
Akhir yang terbuka atau menggantung membuat otaknya bertanya-tanya. Pertanyaan-pertanyaan ini harus terjawab. Kalau tidak, ia akan terus berkembang dan melahirkan pertanyaan-pertanyaan lain.
Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab ini mulai mengganggu kehidupan kita. Misalnya, jadi tidak fokus kerja, tidak bisa tidur dengan nyenyak dan lain sebagainya.
CARA MENGATASI TEKANAN PSIKOLOGIS AKIBAT QUIET ENDING
Bagian ini bisa jadi yang terpenting dari bagian-bagian sebelumnya. Pertama, sadari kalau tidak semua hal butuh jawaban. Karena hidup kita bukan film di mana ceritanya harus selalu rapi. Ini adalah bagian dari emotional maturity.
Selain itu, kamu juga bisa melakukan emotional processing. Alias, jangan dipendam perasaan apa pun yang kamu rasakan. Luapkan dengan cara bercerita pada sahabat atau orang yang kamu percayai, journaling, atau mungkin cari pelampiasan dengan melakukan hal-hal yang kamu suka. Misalnya traveling, melukis dan lain sebagainya.
Tidak hanya dua hal tadi, kamu juga membangun self-validation. Dengan cara mengingatkan diri kamu kalau kamu itu berharga. Mau dapat penjelasan atau tidak, bukan urusan kamu. Pokoknya, situasi yang terjadi membuat kamu merasa cukup.
Katakan pada diri sendiri:
“I don’t need an explanation to live my life.”
That’s your mantra!
(Kirana Putri, foto: xxx)
