Pilihan film dan serial serta platform OTT yang terlalu banyak membuat kita semakin sulit untuk menentukan apa yang mau kita tonton.
Coba merapat dulu. Siapa di antara kamu yang pernah atau bahkan sering, di saat mau menonton film atau serial, mulai membuka platform OTT satu per satu?
Mulai dari Netflix, pindah ke Prime, Viu, iQiyi, Apple TV, Disney+ dan ujung-ujungnya… malah jadi bingung mau nonton apa?
Kalau dipikir-pikir, sebelum platform OTT hadir di tengah-tengah kita, rasanya hidup baik-baik saja. Padahal saat itu, jumlah tontonan yang tersedia untuk kita tidak sebanyak sekarang. Tapi setelah pilihan tontonan makin banyak, kok malah bikin kita bingung dan lelah ya?
Fenomena ini ada istilahnya. Yakni streaming fatigue.
APA ITU STREAMING FATIGUE?
Streaming fatigue bukan diagnosis medis, melainkan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kejenuhan konsumen menghadapi ekosistem streaming yang semakin kompleks.
Sebelum menonton satu film saja, kita mungkin harus menentukan platform mana yang ingin dibuka, genre apa yang sedang ingin ditonton, apakah film tersebut cukup menarik untuk menghabiskan dua jam, hingga apakah masih ada serial lain yang lebih bagus di platform berbeda.
Riset Deloitte mengenai perilaku konsumen media menunjukkan bahwa banyak konsumen merasa frustrasi ketika harus mengelola berbagai layanan streaming sekaligus.
Harga berlangganan yang terus berubah, konten yang berpindah platform, serta banyaknya pilihan menjadi bagian dari pengalaman streaming modern.
Fenomena ini menjadi salah satu paradoks terbesar era streaming. Menurut laporan Nielsen, jumlah konten yang tersedia bagi penonton telah berkembang sangat besar seiring bertambahnya layanan streaming dan saluran digital.
Akibatnya, proses menemukan konten menjadi tantangan tersendiri bagi konsumen. Nielsen bahkan menggunakan istilah discovery sebagai salah satu persoalan penting dalam pengalaman menonton modern.
Semakin besar katalog yang tersedia, semakin banyak pula waktu yang harus digunakan hanya untuk mencari sesuatu yang terasa tepat.
Dan di sinilah hiburan mulai terasa sedikit ironis. Kita membuka layanan streaming untuk beristirahat, tetapi sebelum bisa beristirahat, kita harus membuat keputusan lagi.
(BACA JUGA: 1 Musim Cukup, 5 Serial Netflix Ini Tinggalkan Kesan Mendalam)
Fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang eksklusif terjadi pada streaming.
Dalam psikologi, konsep choice overload menjelaskan bagaimana terlalu banyak pilihan dalam situasi tertentu dapat membuat proses mengambil keputusan menjadi lebih sulit dan terkadang menurunkan kepuasan terhadap keputusan yang sudah dibuat.
Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam ‘Journal of Consumer Psychology’ menemukan bahwa efek choice overload sangat bergantung pada konteks, termasuk kompleksitas pilihan, tingkat kesulitan tugas, preferensi seseorang dan ketidakpastian terhadap apa yang sebenarnya diinginkan.
Dalam konteks streaming, kondisinya hampir sempurna. Bayangkan membuka sebuah platform tanpa tahu ingin menonton apa, lalu dihadapkan dengan ratusan pilihan yang masing-masing meminta komitmen waktu satu hingga beberapa jam.
Tidak mengherankan kalau memilih film kadang terasa lebih melelahkan daripada menontonnya.
Pada awal era streaming, semuanya terasa sederhana. Berlangganan satu atau dua platform sudah cukup untuk mendapatkan banyak pilihan tontonan. Namun, industri kemudian mengalami fragmentasi.
Studio dan perusahaan media membangun layanan mereka sendiri. Film dan serial eksklusif tersebar di berbagai platform. Untuk mengikuti beberapa judul populer sekaligus, konsumen akhirnya harus berlangganan lebih dari satu layanan.
Netflix, Disney+, Prime Video, Max, Apple TV+, Paramount+, Peacock, belum lagi layanan yang lebih spesifik berdasarkan wilayah atau jenis kontennya.
Laporan Deloitte Digital Media Trends selama beberapa tahun terakhir menunjukkan pola churn and return: konsumen semakin mudah membatalkan satu layanan, kemudian kembali berlangganan ketika ada konten yang mereka inginkan.
Salah satu faktor pentingnya adalah biaya serta persepsi terhadap nilai yang mereka dapatkan dari setiap langganan.
Streaming yang awalnya menawarkan kemudahan pun perlahan kembali menyerupai sesuatu yang dulu ingin digantikannya. Yaitu paket hiburan yang terfragmentasi dan mahal.
(BACA JUGA: 6 Tontonan Bertema Musim Panas yang Bikin Mood Auto Membaik)
Platform OTT sebenarnya tahu bahwa terlalu banyak pilihan adalah masalah. Itulah alasan hampir setiap layanan streaming memiliki sistem rekomendasi.
Netflix, misalnya, menggunakan berbagai sinyal dari perilaku pengguna untuk mempersonalisasi rekomendasi dan membantu anggota menemukan tontonan yang kemungkinan mereka sukai.
Namun, algoritma menciptakan paradoks lain.
Semakin personal rekomendasinya, semakin banyak pula deretan kategori yang ditawarkan. Pilihan teratas untukmu, sedang tren, karena kamu menonton ini, mungkin kamu juga menyukai itu.
Tujuannya mengurangi pilihan. Namun, dari sisi pengguna, layar tetap dipenuhi pilihan.
FOMO MEMBUAT DAFTAR TONTONAN TIDAK PERNAH SELESAI
Ada lapisan lain yang membuat streaming semakin melelahkan. Yakni, budaya pop bergerak sangat cepat.
- Serial baru tayang hari Jumat
- Hari Sabtu sudah dibicarakan di TikTok
- Hari Minggu spoiler mulai bermunculan
- Senin pagi, teman kantor sudah bertanya, “Udah nonton belum?”
Akhirnya, menonton bukan lagi selalu tentang apa yang ingin kita nikmati. Kadang kita menonton karena merasa harus mengikuti percakapan.
Watchlist yang seharusnya menjadi daftar hiburan pun perlahan berubah menjadi seperti to-do list.
Ada serial yang harus diselesaikan. Film nominasi penghargaan yang belum ditonton. Season terbaru yang harus dikejar sebelum terkena spoiler.
Hasilnya? Hiburan mulai memiliki deadline.
CARA MENGURANGI STREAMING FATIGUE
Solusinya mungkin justru sama seperti menghadapi decision fatigue. Yaitu, kurangi pilihannya.
Tidak harus berlangganan semua platform secara bersamaan. Sistem rotasi atau berlangganan satu atau dua layanan selama beberapa bulan kemudian berpindah ketika ada tontonan baru, bisa mengurangi biaya sekaligus jumlah katalog yang harus dihadapi.
Watchlist juga tidak harus menjadi daftar panjang berisi puluhan judul. Pilih beberapa yang benar-benar ingin ditonton.
Dan mungkin yang paling sederhana adalah ketika sudah menemukan sesuatu yang terlihat cukup menarik, tekan play. Tidak perlu memastikan bahwa itu adalah film terbaik dari ribuan pilihan yang tersedia.
Layanan streaming pernah menjanjikan satu hal sederhana. Membuat menonton menjadi lebih mudah. Dan dalam banyak hal, janji itu memang terpenuhi.
Kita memiliki akses terhadap film, serial, dokumenter dan berbagai cerita dari seluruh dunia dalam jumlah yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.
Namun, kelimpahan tersebut menciptakan masalahnya sendiri.
Kita tidak lagi bertanya, “Ada apa di TV malam ini?”
Sekarang pertanyaannya menjadi, “Dari ribuan hal yang bisa kutonton malam ini, mana yang paling layak menghabiskan waktuku?”
Dan terkadang, setelah 30 menit mencari jawabannya, pilihan paling menarik justru satu. Tidur.
(Rendy Aditya, foto: magnific.com/dc studio)
