Gen Z memang ahli dalam menciptakan istilah-istilah tidak terkecuali soal cinta. Belakangan ini ada sebuah istilah percintaan yang populer di dalam percintaan para Gen Z. Yakni Halfway Love.
Secara teori pop-psychology, Halfway Love sebetulnya mirip dengan cinta bertepuk sebelah tangan dalam istilah millennials dan generasi sebelumnya.
Intinya, Halfway Love adalah situasi di mana ada dua orang yang terhubung secara emosional, tetapi salah satu atau keduanya tidak sepenuhnya hadir di dalam hubungan tersebut. Ciri utamanya adalah mereka saling sayang dan ada kedekatan, tetapi tidak ada komitmen penuh atau arah hubungan yang jelas.
Namun, berbeda dengan hubungan transaksional. Halfway Love cenderung menjelaskan perasaan yang setengah jalan atau tanggung. Halfway Love sendiri bisa terjadi karena beberapa hal:
TAKUT KEHILANGAN TAPI TAKUT UNTUK BERKOMITMEN
Situasi ini memperlihatkan bahwa seseorang ingin punya kehangatan dalam hubungan. Tetapi ia takut untuk bertanggung jawab, takut gagal, atau takut terluka lagi. Kondisi ini membuat mereka memilih untuk stay close, but not too close.
EMOTIONAL AVAILABILITY YANG TERBATAS
Orang yang menjalani Halfway Love biasanya belum selesai dengan masa lalu, masih menyimpan luka atas hubungannya di masa lalu, atau belum siap secara mental. Intinya rasanya ada, tapi kapasitas untuk merasakan yang lebih cenderung tidak besar.
NYAMAN TAPI TIDAK YAKIN
Meskipun perasaannya mungkin tidak penuh, hubungan ini tetap bisa berjalan karena ada rasa nyaman dan aman secara emosional. Namun kalau muncul pertanyaan:
“Kita ini apa sih?” atau “Hubungan ini mau dibawa ke mana?”
Mereka pasti akan mengalihkan pembicaraan alias kabur.
CIRI-CIRI HALFWAY LOVE
Halfway Love sendiri punya ciri-ciri kuat yang bahkan tanpa diucapkan pun kamu bisa menyadarinya. Seperti:
- Ada perhatian tapi tidak konsisten
- Ada kata “aku sayang” tapi tidak ada tindakan jangka panjangnya
- Ada kecemburuan tetapi tidak mau ada status
- Ada kedekatan tetapi menghindari masa depan
- Selalu ada satu sama lain, tetapi rasanya tetap berjarak
DAMPAK EMOSIONAL
Bagi sebagian orang, mungkin hubungan ini terasa sehat. Tetapi bagi yang tidak, mereka pasti akan overthinking kronis, harap-harap cemas, mengikis self-worth secara perlahan dan sulit move on karena hubungan yang dijalani belum benar-benar dimulai. Secara psikologis, ini jauh lebih sulit dan melelahkan dibandingkan dengan putus cinta.
PENYEBAB HALFWAY LOVE
Ada beberapa hal yang menyebabkan munculnya Halfway Love. Seperti budaya dating yang serba cepat tapi dangkal, punya banyak pilihan sehingga tidak bisa memilih satu, self-healing culture yang kadang jadi avoidance, hingga trauma kolektif soal komitmen.
Pertanyaannya, apakah Halfway Love bisa menjadi cinta yang utuh? Jawabannya bisa tetapi sangat jarang terjadi dan butuh komitmen dari kedua belah pihak. Syarat utamanya adalah masing-masing pasangan harus sadar dulu kalau hubungan mereka adalah Halfway Love.
Bagaimana cara tahunya? Harus dengan komunikasi yang jujur. Setelah itu, buat keputusan. Apakah mau berkomitmen dan melanjutkan hubungan? Atau justru berhenti?
Kalau pun memutuskan untuk berhenti, pastikan untuk berani menanggung risiko kehilangan. Karena sejatinya, hubungan itu dasarnya adalah perasaan yang saling timbal balik. Kalau hanya satu saja yang memberi, maka yang terjadi adalah ketimpangan. Dan hal ini sangat tidak baik untuk kesehatan dalam sektor percintaan.
(Annisa Larasati, foto: freepik.com/freepik)
