Film terbaru Andrew Garfield membawa kembali salah satu pemberontakan rakyat terbesar dalam sejarah Inggris, yang bermula dari pajak dan ketimpangan sosial.
Pada 1381, Inggris mengalami salah satu pemberontakan rakyat terbesar dalam sejarahnya. Lebih dari enam abad kemudian, kisah tersebut diangkat Paul Greengrass ke layar lebar melalui The Uprising, film yang dibintangi Andrew Garfield, Jamie Bell dan Cosmo Jarvis.
Dikenal sebagai Peasants’ Revolt, pemberontakan ini bermula pada akhir Mei 1381 ketika masyarakat di wilayah pedesaan Essex menentang upaya pemerintah menarik poll tax.
Yaitu pajak yang dikenakan kepada setiap orang. Ketegangan kemudian menyebar ke Kent sebelum ribuan pemberontak bergerak menuju London.
Menariknya, istilah “Peasants’ Revolt” sebenarnya tidak sepenuhnya menggambarkan siapa saja yang terlibat.
Menurut sejarawan Dan Jones yang dikutip Vanity Fair, gerakan tersebut merupakan koalisi yang jauh lebih luas karena turut melibatkan buruh, pengrajin, pemimpin lokal, hingga pendeta.
Bahkan masyarakat London ikut memiliki agenda mereka sendiri dalam pemberontakan tersebut.
Para pemberontak awalnya tidak menempatkan Raja Richard II sebagai musuh utama. Karena Richard saat itu baru berusia 14 tahun dan sebagian pemberontak tetap menganggapnya sebagai raja mereka.
Namun, para pemberontak ini meyakini para penasihat di sekelilingnya telah menyalahgunakan kekuasaan dan membawa rakyat ke dalam kondisi yang semakin sulit.
Salah satu tokoh penting dalam pemberontakan tersebut adalah Wat Tyler, yang muncul sebagai pemimpin pemberontak dari Kent.
Ada pula John Ball, seorang pendeta yang dikenal melalui khotbah-khotbahnya tentang kesetaraan sosial. Ball sebelumnya dipenjara karena dianggap menyampaikan ajaran yang mengancam tatanan sosial saat itu, sebelum dibebaskan oleh para pemberontak.
Pemberontakan kemudian berkembang menjadi jauh lebih brutal. Para pemberontak menyerang properti dan institusi yang mereka anggap sebagai simbol kekuasaan.
Sementara sejumlah pejabat, pengacara, tokoh gereja dan kelompok tertentu turut menjadi sasaran kekerasan.
Sejarawan Dan Jones menggambarkan pemberontakan tersebut sebagai gerakan dengan keluhan yang nyata, tetapi kemudian berkembang menjadi kekerasan yang sulit dikendalikan.
Latar belakangnya juga berkaitan dengan perubahan besar setelah Black Death. Wabah tersebut menyebabkan jumlah penduduk Inggris turun drastis, sehingga tenaga kerja menjadi lebih langka dan secara teori memiliki nilai lebih tinggi.
Sebagian masyarakat kemudian berharap kondisi hidup mereka ikut membaik. Namun, berbagai kebijakan pemerintah justru berusaha mempertahankan tatanan sosial dan ekonomi lama.
(BACA JUGA: Baru Preview, Film ‘Resident Evil’ Garapan Zach Gregger Raup Jutaan Dolar)
Kondisi itulah yang menjadi salah satu dasar cerita The Uprising.
Alih-alih menjadikan Wat Tyler atau John Ball sebagai karakter utama, Greengrass menciptakan sosok fiktif bernama Ploughman, yang diperankan Garfield. Karakter tersebut dirancang sebagai representasi dari ribuan masyarakat biasa yang ikut bangkit dalam pemberontakan.
Sementara itu, Jamie Bell memerankan John Ball dan Cosmo Jarvis memerankan Wat Tyler. Film ini menggunakan peristiwa sejarah sebagai fondasi, tetapi tidak sepenuhnya mengikuti catatan sejarah secara literal.
Beberapa karakter dan alur bahkan sengaja dibuat ulang untuk memenuhi kebutuhan dramatik dalam film tersebut.
Ada satu hal yang juga perlu diluruskan soal hubungan pemberontakan ini dengan Robin Hood. Materi promosi film sempat menggambarkan The Uprising sebagai kisah yang membantu menginspirasi legenda Robin Hood.
Namun, Vanity Fair mencatat bahwa legenda Robin Hood sudah ada sebelum pemberontakan 1381. Sehingga tidak tepat jika mengatakan Peasants’ Revolt sebagai asal-usul cerita tersebut.
Meski begitu, keduanya memang lahir dari konteks sosial yang berdekatan. Sejarawan Dan Jones menjelaskan bahwa kisah Robin Hood dan Peasants’ Revolt sama-sama berkaitan dengan gagasan tentang masyarakat biasa yang merasa hukum dan kekuasaan lebih berpihak kepada kelompok berkuasa.
Bagi Greengrass, kisah tersebut juga terasa relevan ketika ia mulai menulis skenario pada masa lockdown COVID-19. Film ini akhirnya menjadi perpaduan antara drama sejarah dan cerita tentang masyarakat yang mempertanyakan tatanan yang mereka anggap tidak lagi adil.
The Uprising sendiri sudah tayang di bioskop Amerika Serikat pada 11 September 2026. Selain Garfield, film ini juga dibintangi Thomasin McKenzie, Woody Norman, Katherine Waterston, Tom Hollander, Stephen Dillane dan Jonny Lee Miller.
(Rendy Aditya, foto: hollywoodreporter.com)
