What Our Parents Did for Dating Back Then?

Minggu lalu, MOSTEAM menemukan sebuah unggahan di Instagram yang membahas tentang kehidupan sebelum hadirnya dunia digital. Pengguna akun menuliskan kehidupannya dulu saat menunggu angkutan umum.

Ia bisa menunggu lama, tetapi tidak terasa bosan meskipun pada masa itu tidak ada smartphone. Ia pun berpikir, kok bisa ya dulu menunggu lama tanpa bosan meskipun tidak ada smartphone?

Unggahan ini sangat menarik untuk dibahas. Terutama tentang betapa besarnya pengaruh digitalisasi terhadap kehidupan manusia. Sekarang, banyak dari kita berpikir tidak bisa hidup tanpa smartphone.

Mungkin karena dipengaruhi oleh berbagai kemudahan yang ditawarkan sebuah alat. Tetapi fakta ini membuat MOSTEAM jadi punya pikiran liar dan menyebar ke berbagai area kehidupan yang lain. Salah satunya adalah soal kencan.

Sebelum era swipe right dan DM, bagaimana cara orang zaman dulu berkencan? Tidak usah jauh-jauh, cukup sampai era orangtua kita. Yakni di antara tahun 1970-an dan 1980-an.

Pada masa itu, semua masih serba analog. Peraturan dan norma masyarakat juga belum seterbuka sekarang. Lantas, apa saja kegiatan yang dilakukan oleh orangtua kita kala berkencan? Mari kita bahas satu per satu.

ERA 1970-AN

(Foto: dabble.com)

Melansir dari atlasobscura.com, tahun 1970-an adalah era kebebasan baru dalam urusan relationship. Di mana pada masa ini, orang lebih terbuka soal pacaran dan mulai lepas dari norma hubungan hanya untuk pernikahan. 

Artinya, berkencan di masa ini mulai dilihat sebagai ruang eksplorasi. Bukan sekadar tahap menuju pernikahan. Karena itu, anak-anak muda mulai banyak melakukan kegiatan di luar rumah. Termasuk untuk menemukan pasangan. Seperti:

Berkencan di Diskotik. Di mana orang banyak bertemu di lantai dansa. Bermula dari eye contact, slow dance dan lanjut ngobrol. Vibes ini sebetulnya mirip dengan cara millennials dulu. Mereka pergi ke klub, lalu berkenalan dengan lawan jenis di lantai dansa.

Berbincang via telepon selama berjam-jam. Telepon yang dimaksud adalah telepon rumah atau telepon umum, ya. Bagi mereka yang punya telepon rumah, akan duduk berjam-jam sambil berbisik agar tidak ketahuan orangtua.

Dan tidak jarang mereka bertengkar dengan orangtua karena terlalu lama menelepon. But that’s the art of the analog era.

Makan bersama di restoran atau kafe. Tapi biasanya dilakukan saat malam hari dan pada malam Minggu. Pasangan akan menikmati makanan dan minuman lezat sambil berbincang hangat. Tidak ada gangguan smartphone, sehingga mampu meningkatkan kualitas hubungan mereka.

Personal ads di koran atau majalah. Yes, metode ini dulu ada di tahun 1970-an. Di mana orang akan memasang iklan di media cetak tentang informasi pribadinya. Misal, laki-laki, 27 tahun, suka musik dan jalan-jalan, mencari pasangan yang (sebutkan kriteria), nomor telepon.

Nanti kalau ada lawan jenis yang tertarik, maka akan menghubungi mereka. Jadi si pemasang iklan tinggal menunggu saja. Begitu juga bagi mereka yang sudah punya pasangan. Sering memasang iklan untuk mengekspresikan rasa cinta mereka. Baik lewat media cetak maupun titip pesan via radio.

ERA 1980-AN

(Foto: newretro.net)

Beda lagi dengan era tahun 1980-an. Pada tahun ini, tingkat konsumerisme naik, pop culture meledak, mal dan pusat hiburan menjadi ciri khas utama dari kehidupan sosial. Sehingga di era ini, dating adalah bagian dari lifestyle. Itu sebabnya di era ini, anak-anak muda berkencan dengan cara:

Jalan-jalan di mal. Karena mal menawarkan paket kegiatan yang lengkap, seperti window shopping, jalan-jalan, makan, nonton, sampai pamer outfit, semua bisa dilakukan di satu tempat. Simple!

Roller rink dates. Yes, kegiatan ini dulu jadi salah satu yang populer di kalangan anak-anak muda. Selain seru, kegiatan ini juga romantis karena pasangan akan saling berpegangan tangan dan lean on each other agar tidak jatuh. Lagu-lagu yang diputar juga Top 40. Sehingga vibes-nya sangat menyenangkan.

Arcade dan game center. Kalau zaman sekarang ada istilah mabar atau main bareng di dunia gim digital, zaman dulu perginya ke arena bermain. Kurang lebih mirip Time Zone atau Fun World. Bermain sambil berkencan terasa sangat menyenangkan.

Bioskop dan drive-in. Cikal bakal menonton film bareng saat kencan ya lahirnya dari era ini. Selain menonton bioskop, dulu ada juga hiburan menonton film via layar besar seperti layar tancap, tapi menggunakan mobil. Istilahnya adalah drive-in.

Jadi pasangan-pasangan ini akan berkumpul di sebuah area drive-in untuk menonton film dari dalam mobil. Filmnya bermacam-macam. Tapi utamanya adalah yang tidak tayang di bioskop. Saat menonton, mereka bisa membeli beberapa makanan ringan untuk dinikmati bersama. Lebih privat dan lebih romantis.

Membuat mixtape. This is a love language! Dulu, kalau seseorang suka sama seseorang, ia suka membuatkan mixtape menggunakan kaset. Mixtape tersebut berisi lagu-lagu yang ia suka atau lagu-lagu kode yang bisa menyampaikan perasaannya. Kalau zaman sekarang mirip seperti playlist Spotify. 

Tapi dengan mixtape kaset, effort-nya lebih terasa. Cara yang satu ini cocok untuk ditiru oleh kamu para Gen Z yang memang punya ketertarikan pada dunia analog. 

(Annisa Larasati, foto: vanityfair.com)

Share