Budaya Fans Lempar Bra ke Panggung, Apa Alasannya?

Tradisi melempar bra ke atas panggung sebetulnya bukan hal baru. Tradisi ini sudah terjadi cukup lama. Namun, beberapa tahun terakhir marak menjadi perbincangan karena turut dirasakan oleh para idola K-Pop.

Bagi para idola K-Pop atau secara umum masyarakat Asia, tradisi ini termasuk aksi inappropriate atau tidak pantas. Rasanya asing sekali melihat penggemar melempar bra ke atas panggung saat mereka sedang tampil.

Banyak yang menyebutkan bahwa aksi melempar bra ke atas panggung adalah bentuk ekspresi dari masyarakat Latin. Ketika mereka suka dengan penampilan seorang artis di atas panggung, mereka akan melempar bra sebagai pujian.

Tapi ternyata, pemahaman ini sedikit keliru. Tradisi melempar bra ke atas panggung bukanlah budaya pop dari masyarakat Latin. Melainkan karena euforia dari lahirnya era musik modern.

AWAL MULA SEJARAHNYA

Melansir dari BBC, tahun 1960 sampai 1970-an adalah era awal lahirnya konser modern. Penikmat musik, khususnya perempuan, akhirnya punya ruang untuk mengekspresikan kecintaan mereka pada musik maupun artis yang mereka sukai.

Terutama saat konser. Pada masa itu, penggemar mulai melempar barang ke panggung. Mulai dari bunga, surat, bahkan pakaian. Aksi ini adalah bentuk komunikasi satu arah dari penggemar kepada idolanya.

Lewat aksi ini, mereka ingin menunjukkan bahwa mereka menyukai atau sekadar ingin dilihat oleh sang artis. Namun, aksi melempar pakaian dalam seperti bra dimulai oleh Tom Jones.

Tom Jones adalah musisi asal Wales yang memulai tradisi ini. Para penggemar pada masa itu suka melempar bra atau celana dalam ke atas panggung saat ia konser. Akhirnya, tradisi ini jadi semacam ritual tidak resmi.

Jones bahkan dengan santai menanggapi aksi tersebut melalui kalimat-kalimat candaan. Hasilnya, melempar pakaian dalam ke atas panggung menjadi simbol. Di mana bukan hanya sekadar ingin dilihat atau mengapresiasi penampilan seorang artis, tapi sudah merepresentasikan ketertarikan seksual, tapi dengan cara yang playful.

(BACA JUGA: Kisa di Balik Penyanyi Castrato yang Ternyata Tidak Seindah Suaranya)

SEKSUALITAS DAN FANDOM MAKIN EKSPLISIT

Pada tahun 1980 sampai 1990-an, Music Television atau MTV mulai hadir. Hadirnya MTV membuat fandom atau kumpulan penggemar dari seorang musisi semakin eksplisit.

Artis pria sering diposisikan sebagai simbol seks. Hal ini bisa terjadi karena penggemar perempuan semakin terbuka dalam mengekspresikan gairahnya. Efeknya, lempar bra jadi hal yang umum di setiap konser. Apapun genrenya. Mulai dari rock, pop, sampai boyband.

Aksi melempar bra di periode ini adalah bentuk flirt hingga fan devotion yang ekstrem. Perempuan tidak lagi pasif. Mereka secara aktif menunjukkan ekspresi secara terbuka terhadap ketertarikan yang mereka miliki.

Di titik ini, aksi melempar bra sudah jadi bagian dari concert folklore, terutama di konser artis pria dengan fanbase yang besar. Tradisi ini bahkan sudah diketahui dan disadari oleh para artis.

Mereka turut mengantisipasi atau siap menjadikannya sebagai bagian dari interaksi panggung. Di fase ini, makna dari melempar bra ke atas panggung juga sudah bergeser. Dari aksi spontan jadi semi-klise, dari ekspresi personal jadi tradisi konser.

AKSI YANG MULAI DIPERTANYAKAN

Melansir dari theguardian.com, sejak tahun 2010 aksi melempar bra atau melempar barang ke atas panggung secara umum mulai dipertanyakan. Banyak artis mulai meminta para penonton untuk tidak lagi melempar benda apa pun ke atas panggung.

Selain bra yang dianggap tidak relatable dan inappropriate, banyak penonton juga melempar benda-benda lain. Salah satunya adalah smartphone. Karena aksi ini bisa melukai para artis.

Terbukti sudah banyak kasus terjadi di mana para artis mengalami luka di wajah karena terkena lemparan benda dari penonton.

(Rendy Aditya, foto: pulse.co.ke)

Share